Oleh : khsan Effendi *Penulis buku “Membaca NU Disimpang Sejarah”
JOMBANG | Kabar Nahdliyin.com – Pagi ini terasa lebih lengang dari biasanya. Bukan karena jalanan sepi, tapi karena satu suara telah berhenti, suara yang selama ini tidak pernah benar-benar ingin terdengar keras, namun selalu terasa hadir: Gus Fad.
Nama lengkapnya panjang: KH. Fadlullah Malik. Tapi orang Jombang, terutama kalangan Gerakan Pemuda Ansor, cukup menyebut: Gus Fad. Selesai. Tidak perlu gelar, tidak perlu jabatan.
Padahal kalau mau dihitung, jabatannya tidak sedikit. Ketua Ansor bertahun-tahun pembina Ansor. Aktivis sosial. Pernah di politik. Pernah di DPRD. Pernah memimpin gerakan anti narkoba. Tapi anehnya, semakin banyak jabatan itu, semakin ia terlihat tidak sedang menjabat apa-apa. Ia tetap saja “kiyai” yang bisa duduk di warung kopi berjam-jam bersama sama siapapun yang iya jumpai.
Itulah barangkali yang membuatnya begitu dekat dengan KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Dua-duanya punya satu kesamaan: tidak terlalu serius terhadap dunia, tapi sangat serius terhadap manusia.
Saya menyaksikan, hubungan Gus Fad dan Gus Dur itu bukan hubungan struktural. Bukan sekadar senior-junior dalam Nahdlatul Ulama. Dia itu hubungan rasa. Yang kalau dipaksakan dijelaskan, justru jadi dangkal.

Ada satu cerita kecil. Yang sangat unik, tapi dari yang kecil itu sering terjadi berkalikali.
Suatu hari, dalam guyonan ala Ansor guyonan yang kadang absurd, kadang terasa seperti setengah nyata, Gus Fad bercerita tentang Gus Dur. Tentang kenyentrikan sebagai ulama’. Tentang komunikasi yang tidak selalu harus lewat dunia lahir.
Lalu tiba-tiba teleponnya berbunyi.
Dan benar, yang menelepon: Gus Dur.
Orang-orang di sekitarnya kaget. Bukan karena telepon itu. Tapi karena waktunya pas diceritakan dengan guyonan. Karena “kebetulan” yang terlalu tepat.
Dalam bahasa tasawuf, mungkin ini yang disebut: “laa ya’rifu al-wali illa al-wali.” Seorang wali hanya dikenali oleh wali lainnya.
Gus Fad tidak pernah mengaku wali. Dan memang, yang seperti itu biasanya tidak pernah mengaku, namun faktanya Gus Fad sangat mencintai wali.
Ia memilih jalur yang berbeda. Ketika banyak orang NU masuk politik untuk mencari pengaruh, ia masuk lalu keluar lagi dengan tenang. Seolah ia hanya mampir.
Ia pernah jadi bagian dari Partai Kebangkitan Bangsa. Pernah duduk di DPRD. Tapi ia tidak betah lama-lama di ruang yang terlalu penuh kepentingan.
Ia lebih memilih ruang kelas.
Menjadi guru.
Pilihan yang bagi sebagian orang terasa “mundur”. Tapi bagi Gus Fad, mungkin justru itu puncak.
Karena di situlah ia bisa tetap menjadi dirinya sendiri.

Tidak perlu kompromi. Tidak perlu strategi. Tidak perlu menjaga citra.
Yang ada hanya murid, ilmu, dan ketulusan.
Padahal kesempatan untuk “naik” selalu ada. Dalam kontestasi Pilkada, namanya berkali-kali disebut. Didorong. Diminta maju.
Tapi ia menolak.
Bukan karena tidak mampu. Justru karena ia tahu betul apa konsekuensinya.
Ia memilih Ansor.
Memilih khidmah.
Memilih jalan sunyi yang tidak selalu terlihat, tapi terasa dampaknya.
Dan hari ini, 10 Mei 2026, jalan sunyi itu sampai pada ujungnya.
Atau mungkin justru awalnya.
Karena bagi orang seperti Gus Fad, kematian bukan perpisahan. Ia lebih mirip perpindahan ruang. Dari ruang yang penuh suara, ke ruang yang lebih jernih.
Saya membayangkan satu pertemuan.
Di sana, Gus Dur tersenyum khasnya. Sedikit menyeringai. Sedikit menggoda.
“Cak Fad, akhirnya nyusul juga kamu.”
Dan Gus Fad, dengan santainya, mungkin menjawab:
“Lha sampeyan duluan sih, Gus.”
Percakapan itu pasti ringan. Tidak dramatis. Tidak penuh tangis.
Karena orang-orang seperti mereka tidak terlalu suka suasana yang dibuat-buat.
Yang tersisa bagi kita yang masih di sini adalah jejak.
Bukan jejak besar yang ditulis di buku sejarah. Tapi jejak kecil yang tersebar di banyak hati.
Di warung kopi.
Di ruang kelas.
Di barisan Ansor.
Di percakapan-percakapan sederhana yang tidak pernah tercatat, tapi tidak pernah hilang.
Gus Fad mengajarkan satu hal penting tanpa pernah menggurui:
Bahwa menjadi besar itu tidak harus terlihat besar.
Bahwa dekat dengan kekuasaan tidak harus berarti mencintai kekuasaan.
Dan bahwa setia pada jalan sendiri sering kali lebih sulit daripada mengejar jabatan.
Selamat jalan, Gus Fad.
Doa-doa warga Nahdlatul Ulama akan mengiringimu.
Dan mungkin, di sana di ruang yang tidak kita lihat telepon itu kembali berdering.
Kali ini, tidak ada yang kaget.
Karena kita sudah tahu: itu hanya kelanjutan dari percakapan lama yang tidak pernah benar-benar selesai. (Hadi S)











