Berita  

Film Bioskop “Tongkat & Tasbih Isyarat Langit”

Redaksi Kabar Nahdliyin

JOMBANG | KABAR NAHDLIYIN.COM – Film kadang lahir dari imajinasi. Kadang dari kisah cinta. Kadang dari perang. Tapi ada juga film yang lahir dari getaran batin sejarah. Dari cerita yang turun-temurun hidup di pesantren, di langgar kecil, di mulut para santri, dan bertahan lebih lama daripada pidato politik mana pun.

Film “Tongkat & Tasbih Isyarat Langit” tampaknya sedang menuju ke arah itu.
Saya membayangkan produser film itu mula-mula hanya membaca karya buku Membaca NU di Simpang Sejarah. Lalu berhenti pada satu bagian: tongkat dan tasbih. Dua benda sederhana. Tidak mewah. Tidak bertatah emas. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Sejarah besar sering dimulai dari benda kecil yang dipahami oleh orang-orang besar.

Tongkat itu bukan sekadar tongkat.

Tasbih itu bukan sekadar tasbih.

Keduanya adalah bahasa simbolik dunia pesantren.
Yang menarik: peristiwa itu terjadi menjelang lahirnya Nahdlatul Ulama tahun 1926. Tepat ketika dunia Islam sedang gonjang-ganjing. Pembubaran Kekhalifahan Utsmaniyah baru saja terjadi. Otoritas keagamaan di Hijaz berubah. Dunia muslim kehilangan payung besar politiknya. Di Nusantara, rakyat masih bergulat melawan kolonialisme Belanda.
Situasi sedang gelap.
Dan justru di saat gelap itulah muncul kisah seorang ulama sepuh di Bangkalan yang memberi “isyarat langit”.

Namanya Syaikhona Kholil Bangkalan.
Penerima isyarat itu: KH Hasyim Asy’ari.
Perantaranya: seorang anak kecil bernama As’ad yang kemudian menjadi KH As’ad Syamsul Arifin pengasuh Pondok Pesantren besar di Asembagus Situbondo.

Kalau ini film Hollywood, mungkin akan dibuat dramatis dengan kuda perang, pedang, atau pasukan besar.
Tetapi dunia pesantren berbeda.
Di sini revolusi dimulai dari langkah kaki seorang santri kecil.

As’ad berjalan kaki dari Madura menuju Tebuireng Jombang. Membawa tongkat. Lalu beberapa bulan kemudian membawa tasbih. Berjalan lagi. Sendirian. Tanpa kendaraan. Tanpa pengawalan.
Dan justru di situlah sinemanya.

Bayangkan adegan itu.
Anak kecil berjalan menembus panas. Menyusuri hutan dan jalan kampung. Menyeberang pelabuhan. Melewati Surabaya. Singgah di makam Makam Sunan Ampel. Orang-orang melihat dengan tatapan aneh. Sebagian mencibir. Sebagian menganggap bocah itu tidak waras.
Hari ini mungkin orang akan bilang: “anak kecil kok disuruh begitu?”
Tetapi pesantren punya logika sendiri: kepatuhan.

Santri tidak selalu harus mengerti dahulu sebelum menjalankan dawuh guru.
Karena dalam tradisi tasawuf, ada wilayah yang baru dipahami setelah dijalani.

Film ini punya kekuatan justru pada lapisan itu.
Ia bukan hanya film sejarah.
Ia adalah film tentang adab.
Tentang amanah.
Tentang hubungan guru dan murid yang hari ini mulai langka.

Kita hidup di zaman ketika semua orang ingin cepat menjadi guru, tetapi sedikit yang mau menjadi murid.
Padahal peradaban pesantren berdiri di atas kepatuhan spiritual semacam itu.

Dan menariknya lagi: tongkat serta tasbih itu akhirnya terbukti bukan simbol kosong. Dua tahun setelah peristiwa itu, lahirlah Nahdlatul Ulama. Organisasi Islam terbesar di dunia.

Di titik itulah kisah ini berubah dari cerita lokal menjadi sejarah global.
Saya membayangkan para produser film melihat satu hal penting: ini bukan hanya cerita warga NU.
Ini cerita Indonesia.
Tentang bagaimana ulama Nusantara merespons perubahan dunia Islam internasional tanpa kehilangan akar tradisinya.

Tentang bagaimana pesantren ikut menjaga bangsa bahkan sebelum republik ini lahir.
Tentang bagaimana spiritualitas ternyata bisa menjadi energi pergerakan.

Banyak film sejarah gagal karena terlalu sibuk menjelaskan tanggal dan tokoh. Akibatnya terasa seperti buku pelajaran.

“Tongkat & Tasbih Isyarat Langit” punya peluang berbeda.
Karena inti ceritanya sederhana.
Seorang anak kecil berjalan membawa amanah.
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang universal.

Semua orang pernah menjadi anak kecil.
Semua orang pernah diminta menjalankan sesuatu yang belum dipahami.
Semua orang pernah ditertawakan ketika memegang keyakinannya.

Dan semua orang akan tahu rasanya perjalanan panjang.
Film ini juga sangat sinematik.

“Kabut Madura pagi hari.
Langkah kaki kecil di jalan tanah.
Suara dzikir tasbih.
Laut penyeberangan yang sunyi.
Lampu minyak pesantren Tebuireng.
Wajah teduh KH Hasyim Asy’ari saat menerima tongkat”.

“Tatapan mata seorang guru kepada murid.
Itu semua bukan sekadar adegan. Itu memori kolektif kaum santri”.

Tidak heran jika acara napak tilas tongkat dan tasbih ratusan ribu bahkan jutaan warga NU melakukan napak tilas perjalanan tersebut. Dari Bangkalan menuju Tebuireng. Mereka tidak sedang sekadar olahraga jalan kaki.
Mereka sedang menghidupkan ingatan spiritual.

Karena di dunia modern yang serba gaduh, manusia tetap mencari makna.
Dan film yang berhasil biasanya bukan hanya yang ramai efek visualnya, tetapi yang mampu menyentuh rasa terdalam manusia.

Indonesia sebenarnya kekurangan film besar bertema pesantren yang digarap serius secara sinematik. Pesantren sering hanya menjadi latar pinggiran: lucu-lucuan, horor, atau romantika receh.
Padahal di pesantren tersimpan drama sejarah yang luar biasa kaya.

Ada perjuangan.
Ada politik.
Ada spiritualitas.
Ada cinta tanah air.
Ada pergulatan batin.
Semua unsur film epik ada di sana.

Karena itu proyek film bioskop “Tongkat & Tasbih Isyarat Langit” terasa penting. Ia bisa menjadi jembatan antara generasi muda dengan sejarah yang selama ini hanya hidup di forum pengajian dan kitab-kitab.

Dan mungkin yang paling penting: film ini mengingatkan bahwa sejarah besar bangsa ini tidak selalu lahir dari istana.
Kadang ia lahir dari surau kecil.
Dari seorang kiai tua.
Dari seorang santri kecil.
Dan dari tongkat serta tasbih yang tampak sederhana tetapi ternyata mengubah arah sejarah Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *