JOMBANG, KN -Adalah Astika Cendhana Wangi, S.STP., M.Si. satu satu pejabat di Jombang perempuan yang menyuarakan perubahan, “Jangan takut menghadapi tantangan. Setiap proses akan membentuk kualitas diri. Perempuan muda adalah agen perubahan yang akan menentukan arah pembangunan ke depan,” katanya kepada wartawan.
Dia bisa dibilang sosok perempuan inspiratif di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Saat ini, Astika menjabat sebagai Kepala Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik pada Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jombang, alumni STPDN Tahun 2006 silam.
Ia dikenal sebagai pribadi yang memiliki motivasi tinggi, Astika panggilan akrabnya, aktif mendorong kinerja profesional di bidang informasi, teknologi, serta komunikasi publik.
Dalam momentum peringatan Hari Kartini yang jatuh pada Selasa, 21 April 2026, Astika membagikan pandangannya mengenai peran dan kiprah perempuan di era modern saat ini. Ia menekankan pentingnya melanjutkan cita-cita luhur R.A. Kartini dalam mewujudkan kesetaraan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki di berbagai bidang.
“Momentum Hari Kartini memiliki makna yang sangat mendalam bagi saya. Perjuangan Raden Ajeng Kartini bukan hanya tentang emansipasi perempuan, tetapi juga keberanian berpikir maju, melawan keterbatasan, serta memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan,” ujarnya ketika ditemui di ruang kerjanya, Kantor Dinas Kominfo, Kabupaten Jombang.
Sebagai perempuan sekaligus pejabat publik, ia memaknai semangat Kartini sebagai dorongan untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, tanpa melupakan kodrat dan nilai-nilai budaya.
Astika juga mengungkapkan bahwa sosok yang paling menginspirasi dalam perjalanan hidup dan kariernya adalah ibunya sendiri, seorang guru sekolah dasar.
“Ibu saya mengajarkan keteguhan, keikhlasan, dan pentingnya pendidikan. Selain itu, tokoh-tokoh perempuan nasional juga banyak memberi inspirasi dalam hal kepemimpinan dan integritas,” tutur Astika yang hobi olahraga joging dan makanan khas soto ini.
Di tengah dinamika birokrasi, Astika mengakui masih adanya tantangan yang dihadapi perempuan, khususnya dalam membuktikan kapasitas dan profesionalitas di tengah stereotip yang berkembang di masyarakat. Namun demikian, ia optimistis tantangan tersebut dapat diatasi melalui kerja keras, konsistensi, serta dukungan lingkungan dan keluarga.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah, termasuk di Kabupaten Jombang. Perspektif yang inklusif, empati sosial yang tinggi, serta kemampuan komunikasi yang baik menjadi keunggulan perempuan dalam merumuskan kebijakan publik.
“Ruang partisipasi perempuan di birokrasi saat ini semakin terbuka. Meski begitu, tetap perlu didorong agar benar-benar setara, baik dari sisi jumlah maupun posisi strategis,” jelasnya.
Astika menambahkan, kepemimpinan perempuan memiliki kekuatan pada pendekatan yang humanis, kolaboratif, dan detail-oriented—hal yang sangat dibutuhkan dalam tata kelola pemerintahan modern.
Terkait kondisi kesetaraan gender di Jombang, ia menilai telah menunjukkan perkembangan positif, meskipun masih terdapat tantangan, terutama di sektor ekonomi dan perlindungan perempuan.
Berbagai program telah dan terus dijalankan pemerintah daerah, di antaranya pelatihan keterampilan, penguatan UMKM perempuan, serta peningkatan akses pendidikan dan kesehatan. Selain itu, upaya perlindungan terhadap perempuan dari kekerasan dan diskriminasi juga terus diperkuat melalui regulasi, layanan pengaduan, dan pendampingan korban.

Sejumlah inovasi juga terus dikembangkan, seperti pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga, pelatihan digital bagi perempuan, hingga penguatan peran perempuan dalam komunitas. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi perempuan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama keberhasilan program-program tersebut.
“Sinergi ini memungkinkan program berjalan lebih efektif dan tepat sasaran”, tegasnya.
Di akhir wawancara, Astika menyampaikan pesan kepada generasi muda perempuan, khususnya di Jombang, agar terus percaya diri dan berani mengejar cita-cita.
Ia juga menekankan pentingnya bekal pendidikan, keterampilan, serta kemampuan adaptasi teknologi di era modern, tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal.
Menurutnya, jika R.A. Kartini hidup di era sekarang, perjuangan yang diusung kemungkinan besar akan berfokus pada pemerataan pendidikan, kesetaraan digital, serta pemberdayaan perempuan di berbagai sektor strategis.
“Harapan saya, hendaknya perempuan di Kabupaten Jombang semakin mandiri, berkualitas, dan berperan aktif dalam pembangunan. Saya ingin dikenang sebagai sosok yang mampu memberi manfaat, menginspirasi, dan membuka jalan bagi generasi perempuan berikutnya,” pungkas Astika dengan senyumnya yang khas itu.(mu)





