Jombang | KabarNahdliyin.com – Keputusan penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menyisakan ruang renung yang menarik. Sebelum keputusan itu lahir, publik menyaksikan berbagai usulan lokasi. Ada yang meyakini Muktamar akan kembali ke Lirboyo, Kediri. Beberapa PCNU dan PWNU juga mengajukan daerahnya masing-masing. Dinamika berlangsung cukup panjang sehingga banyak pihak sulit menebak ke mana arah keputusan akan berlabuh.
Namun, ketika akhirnya Tambakberas ditetapkan, banyak warga Nahdliyin merasakan seolah ada tangan sejarah yang bekerja secara ghoib melampaui hitung-hitungan politik organisasi.
Secara lahiriah, keputusan itu tentu dapat dijelaskan melalui mekanisme organisasi, musyawarah, pertimbangan teknis, kesiapan infrastruktur, serta komunikasi para pengurus. Semua itu merupakan ikhtiar yang dapat dipahami oleh akal.
Tetapi NU bukan hanya organisasi administratif. NU juga merupakan jam’iyyah diniyyah yang dibangun di atas sanad keilmuan, doa para masyayikh, adab kepada guru, dan keberkahan pesantren. Karena itu, di balik peristiwa-peristiwa besar sering muncul pertanyaan batiniah yang tidak selalu dapat dijawab oleh logika.
Mengapa akhirnya Tambakberas?
Dalam tradisi pesantren dikenal istilah barokah. Barokah bukanlah sesuatu yang dapat diukur dengan angka, tetapi dirasakan melalui kemudahan yang datang setelah ikhtiar dilakukan. Banyak kiai mengajarkan bahwa ketika manusia telah berusaha secara maksimal, hasil akhirnya adalah wilayah kehendak Allah SWT.
Di titik inilah sebagian warga NU memandang bahwa perjalanan menuju Tambakberas bukan sekadar proses politik organisasi, melainkan juga bagian dari perjalanan spiritual sejarah.
Nama Tambakberas tidak dapat dipisahkan dari sosok KH Abd Wahab Chasbullah. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki kecerdasan strategi, kemampuan membangun jaringan, dan keluasan pandangan. Banyak momentum besar dalam sejarah NU lahir dari kemampuan beliau membaca keadaan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.
Apakah berarti beliau mengatur keputusan Muktamar dari alam barzakh?
Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab secara ilmiah maupun dibuktikan secara empiris. Islam mengajarkan bahwa perkara gaib adalah wilayah Allah SWT. Tidak seorang pun dapat memastikan bagaimana hubungan alam dunia dengan alam barzakh selain apa yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan hadis yang sahih.
Namun demikian, dalam tradisi tasawuf Ahlussunnah terdapat keyakinan bahwa doa orang-orang saleh, keberkahan amal mereka, serta warisan ruhani yang mereka tinggalkan dapat terus menginspirasi generasi setelahnya. Yang hidup bukanlah sosok fisiknya, melainkan nilai, perjuangan, dan jejak spiritual yang tetap memengaruhi cara berpikir murid-muridnya.
Mungkin inilah cara yang lebih bijaksana untuk memahami peristiwa tersebut.
Boleh jadi bukan para kiai yang telah wafat “mengatur” keputusan, melainkan nilai-nilai yang mereka tanamkan selama hidup masih bekerja di dalam hati para penerusnya. Tanpa disadari, banyak keputusan lahir karena manusia digerakkan oleh kecintaan kepada sanad, sejarah, dan keberkahan.
Dalam bahasa pesantren sering dikatakan, “yang menjaga NU bukan hanya orang-orang yang masih hidup, tetapi juga doa para pendirinya.” Kalimat ini bukan pernyataan ilmiah, melainkan ungkapan spiritual yang mengajarkan bahwa perjuangan para ulama tidak berhenti ketika mereka wafat. Pengaruhnya tetap hidup melalui ilmu, akhlak, dan murid-muridnya.
Jika demikian, kemenangan Tambakberas mungkin tidak perlu dipahami sebagai kemenangan sebuah daerah atas daerah lain. Ia lebih tepat dibaca sebagai isyarat bahwa NU selalu kembali kepada mata air sejarahnya ketika menghadapi persimpangan zaman.
Tambakberas adalah salah satu simpul penting perjalanan NU. Dari lingkungan inilah lahir gagasan-gagasan besar tentang kebangsaan, pendidikan, dan perjuangan umat. Ketika Muktamar kembali ke sana, banyak warga merasa sedang pulang ke rumah sendiri.
Barangkali di sinilah letak pesan batiniahnya.
Allah SWT memperjalankan sejarah melalui sebab-sebab yang tampak dan sebab-sebab yang tidak tampak. Manusia hanya menyaksikan permukaan peristiwa, sedangkan rahasia keputusan-Nya berada di luar jangkauan akal.
Karena itu, yang paling penting bukan memperdebatkan ada atau tidaknya campur tangan alam gaib, melainkan menangkap hikmah bahwa setiap keputusan besar hendaknya melahirkan kerendahan hati. Jangan sampai lokasi Muktamar menjadi sumber persaingan antarpesantren atau antardaerah. Semua pesantren besar NU adalah mata rantai sanad yang saling menguatkan.
Apabila benar ada pelajaran yang hendak disampaikan oleh sejarah melalui Tambakberas, mungkin pesannya sederhana: NU akan tetap kokoh selama tidak tercerabut dari akar pesantrennya, tetap menghormati para masyayikh, memelihara adab, dan menjadikan musyawarah sebagai jalan utama.
Pada akhirnya, rahasia mengapa Tambakberas dipilih hanya Allah SWT yang benar-benar mengetahui. Tugas kita bukan menembus alam gaib, melainkan mengambil hikmah dari setiap ketetapan-Nya. Sebab sejarah NU selalu dibangun oleh perpaduan antara ikhtiar manusia, doa para ulama, dan kehendak Allah yang mengatasi segala perencanaan. (Hadi S)











