JOMBANG, Kabar Nahdliyin.com – Di tengah suasana sederhana kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, perbincangan hangat penuh nuansa spiritual mengalir bersama tokoh agama yang dikenal memiliki kedalaman ilmu syariat dan tasawuf, Mohammad Sami’an, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dalam wawancara bersama media ini di kediamannya di Desa Tambakrejo Gang 5, Sabtu (23/5/2026), Ustadz Sami’an menjelaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci Makkah, melainkan perjalanan ruhani manusia menuju Allah SWT.
“Haji itu rukun Islam yang kelima. Tetapi tidak semua orang dipanggil menjadi tamu Allah. Orang yang berhaji itu pilihan Allah dan dimuliakan sebagai tamu-tamu-Nya,” tutur alumni Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang tersebut.
Menurutnya, seluruh rangkaian ibadah haji sejatinya merupakan jejak spiritual para nabi yang diwariskan kepada umat manusia sebagai pelajaran tentang cinta, pengorbanan, dan ketundukan kepada Allah SWT.
Wukuf di Arafah, Simbol Kesetaraan dan Pengampunan
Ustadz Sami’an menjelaskan, wukuf di Padang Arafah menyimpan makna kemanusiaan yang sangat mendalam. Dalam tradisi para nabi, Arafah diyakini sebagai tempat bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah dipisahkan Allah SWT.
“Di Arafah itu tidak ada beda antara orang kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Semua memakai pakaian yang sama dan berdiri sama di hadapan Allah meminta ampun atas dosa-dosanya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Arafah menjadi simbol kefanaan manusia, tempat seluruh status dan kebanggaan dunia luluh di hadapan kebesaran Allah SWT.
“Ketika di Arafah, haram hukumnya merasa dirinya tidak diampuni Allah. Harus yakin bahwa dosa-dosanya telah diampuni,” katanya.
Lempar Jumrah, Melawan Hawa Nafsu dan Godaan Dunia
Dalam penjelasannya, guru pengajar MI Bahrul Ulum Tambakberas itu juga mengupas makna ritual lempar jumrah yang meneladani perjuangan Nabi Ibrahim AS saat digoda iblis ketika hendak melaksanakan perintah Allah menyembelih Nabi Ismail AS.
“Iblis menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan perintah Allah. Tetapi Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa cintanya hanya kepada Allah,” jelasnya.
Menurut Sami’an, lempar jumrah bukan sekadar melempar batu, tetapi simbol perlawanan manusia terhadap hawa nafsu, kesombongan, ketamakan, dan bisikan setan dalam kehidupan sehari-hari.
“Allahu Akbar yang diucapkan berkali-kali saat jumrah adalah penegasan bahwa Allah lebih besar daripada segala godaan dunia,” tambahnya.
Tawaf dan Sa’i, Filosofi Perjuangan Hidup
Dalam pandangan tasawuf, tawaf memiliki makna bahwa kehidupan manusia harus terus bergerak dan berikhtiar mendekat kepada Allah SWT.
“Kita tawaf itu bukan menyembah Ka’bah. Ka’bah hanya arah kiblat. Tawaf mengajarkan bahwa hidup harus terus bergerak dan terus berusaha,” tutur Sami’an.
Sementara ritual sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi simbol perjuangan Siti Hajar mencari kehidupan bagi putranya, Nabi Ismail AS.
“Itulah gambaran perjuangan manusia. Hidup itu harus sabar, harus ikhtiar, dan harus kuat menghadapi kesulitan,” katanya.
Tanda-Tanda Haji Mabrur
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Sami’an juga mengulas ciri-ciri haji mabrur. Menurutnya, haji mabrur tidak diukur dari gelar ataupun penampilan sepulang dari Tanah Suci, melainkan dari perubahan akhlak dan perilaku seseorang.
“Tanda pertama haji mabrur adalah semakin rukun dengan istri, anak, tetangga, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, ibadah haji merupakan madrasah kesabaran yang melatih pengendalian diri melalui berbagai ujian selama di Tanah Suci.
“Ngomongnya tambah baik, tidak kasar, tidak menyakiti orang lain. Itu tanda hajinya membawa keberkahan,” jelasnya.
Selain itu, tanda lain haji mabrur adalah semakin ringan tangan membantu sesama.
“Kalau punya harta senang bersedekah. Kalau punya tenaga ringan membantu. Kalau punya ilmu memberi solusi,” katanya.
Haji Sebagai Jalan Penyucian Ruhani
Di akhir perbincangan, pembimbing Majelis Ilmu One Day One Juz Kabupaten Jombang itu menegaskan bahwa inti ibadah haji adalah perjalanan menyucikan hati agar manusia semakin mengenal Allah SWT.
“Haji bukan hanya perjalanan badan, tetapi perjalanan ruh menuju Allah. Orang yang pulang haji harus semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi manusia,” jelasnya.
Dalam wawancara tersebut, penasihat PKB Kabupaten Jombang itu juga mengingatkan umat Islam tentang keutamaan puasa sunnah pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, termasuk Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah.
“Amalan ini dilipatgandakan pahalanya melebihi jihad di jalan Allah, menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang, serta menjauhkan pelakunya dari api neraka,” terangnya.
Ia menjelaskan, puasa 1-7 Dzulhijjah termasuk amalan saleh yang sangat dicintai Allah SWT, sementara Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah diyakini dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun sebelumnya.
Adapun Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah merupakan puasa sunnah paling utama sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang menyebut puasa tersebut mampu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi yang menjalankannya. (Hadi S)












