Oleh:Ikhsan Effendi
MADURA | KABARNAHDLIYIN.COM – Ada banyak orang kaya di negeri ini. Tapi tidak semuanya terasa “hadir”.
H. Her begitu orang memanggilnya bukan tipe yang sering muncul di panggung-panggung besar. Namanya tidak riuh di televisi nasional. Tapi denyut nadinya H. Her dirasakan oleh tokoh tokoh nasional, di Madura, ia bukan sekadar dikenal. Ia dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Nama aslinya Haji Khairul Umam. Seorang pengusaha. Dari daerah. Dari Madura. Tapi pengaruhnya, pelan-pelan, melampaui batas geografis pulau itu.
Saya merasakan: pagi hari dirumah saudara di Pamekasan, adik ibu saya tinggal di Kapedi Perinduan. Menyaksikan petani tembakau menatap langit. Menunggu cuaca. Menghitung daun demi daun. Di balik itu, ada satu kekuatan yang membuat mereka tetap bertahan harga yang dijaga, distribusi yang ditata, dan pasar yang dibuka.
Di situlah peran H. Her.
Lewat perusahaannya, PT. Mas Bawang Group, ia tidak hanya berbisnis. Ia telah membangun ekosistem. Tembakau Madura yang dulunya sering dipermainkan harga oleh spikulan dari luar madura, kini mulai punya posisi tawar. Petani tidak lagi sepenuhnya di ujung ketidakpastian.
Ini bukan cerita tentang konglomerat besar dengan jaringan global. Ini cerita tentang seseorang yang memilih membesarkan daerahnya yang berada dekat ditanah kelahiranya sendiri.
Dan itu tidak mudah.
Madura bukan wilayah yang dimanja infrastruktur sejak lama. Akses, distribusi, bahkan kepercayaan pasar semua harus dibangun pelan-pelan. Dibuktikan oleh H.Her dengan memilih jalan perjuangan. Jalan sunyi. Jalan panjang.
Yang menarik, ia tidak berhenti hanya diperdagangan tembakau saja.
Juga di pesantren-pesantren, namanya banyak disebut. Bukan hanya sebagai tamu kehormatan. Tapi sebagai penopang kekuatan ekonomi. Ia membantu. Mensuport. Tidak selalu dengan seremoni. Kadang justru tanpa sorotan kamera.
Ini penting.
Karena pesantren di Madura bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah jantung sosial. Ketika pesantren kuat, masyarakat ikut kuat. Memang H. Her memahami budaya daerah kelahiranya.
Lalu ada cerita lain yang lebih “membumi”.
Rumah warga.
Ia membangunkan rumah bagi mereka yang tak layak huni. Tidak saja satu-dua rumah. Tapi banyak, bahkan sampai ratusan rumah. Ini bukan seperti program CSR formal yang penuh laporan glossy. Ini adalah tindakan langsung H.Her. Cepat. Terasa.
Bisa dibayangkan seseorang yang tidur di rumah hampir roboh. Lalu suatu hari, ia punya tempat tinggal yang layak. Itu bukan sekadar bantuan fisik. Namun mengembalikan martabat sebagai insan terhormat.
Di titik ini, masyarakat merasakan manfaat.
H. Her tidak bekerja pada program. Ia bekerja pada kebutuhan nyata.
Puncaknya beberapa minggu yang lalu dan mungkin yang paling menyita perhatian umat adalah soal zakat maal.
Angkanya tidak kecil: menembus nilai sebesar 45 miliar rupiah.
Uang sebesar itu bukan sekadar angka untuk headline. Itu uang tunai dengan angka yang bergerak. Yang didistribusikan. Yang menjangkau fakir miskin hingga pelosok Madura.
Bisa dirasakan distribusi itu: menyusuri jalan-jalan kecil, desa-desa jauh, wajah-wajah yang jarang tersentuh bantuan besar. Di sana, zakat itu hadir.
Bukan hanya itu.
Ada satu momen yang menarik. Pembagian MBG untuk anak-anak sekolah. Disertai tambahan uang Rp50.000 untuk setiap anak.
Perlakuan itu sebagian orang mungkin melihatnya sederhana. Tapi bagi anak-anak di daerah, nilai 50ribu itu bisa berarti sangat banyak. Bisa untuk buku. Bisa untuk seragam. Bisa juga untuk membantu orang tua.
Di sinilah letak kekuatannya.
H. Her tidak memberi dalam skala “heroik” saja. Ia juga memberi dalam detail-detail kecil yang berdampak langsung.
Ini bukan pencitraan?
Pertanyaan itu biasanya muncul setiap kali ada tokoh yang memberi dalam jumlah besar. Bisa disaksikan bahwa H. Her bukanlah pejabat dan tidak ada kaitanya untuk kepentingan dirisendiri.
Ada satu hal yang sulit dipalsukan: yaitu konsistensi.
Dari kesaksian yang beredar di Madura, konsistensi itu terbukti.
H. Her hadir di sektor ekonomi melalui tembakau.
Ia hadir di sektor pendidikan melalui pesantren.
Ia hadir di sektor sosial melalui bangun rumah dan pemberian zakat maal.
Jarang ada tokoh yang mampu menjahit tiga sektor ini sekaligus.
Biasanya, orang kuat di bisnis tapi lemah di sosial. Atau kuat di filantropi tapi tidak di ekonomi riil. H. Her tampaknya mampu menggabungkan semuanya.
Apakah ini sempurna? Sangat sempurna.
Presisi, tepat untuk umat. Juga yang menarik dari yang dilakukan H. Her adalah arah geraknya.
Ia tidak membangun kehidupan yang berjarak jauh dari masyarakat. Ia justru membangun kekuatan yang berakar di masyarakat.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran pentingnya dimadura.
Bahwa perubahan besar tidak selalu datang dari luar daerah. Ia bisa lahir dari putra daerah. Dari pulau yang sering dianggap pinggiran. Dari orang yang tidak banyak bicara tapi banyak bekerja.
Madura hari ini sedang bercerita.
Tentang tembakau yang diangkat derajatnya.
Tentang zakat maal yang benar-benar sampai ditangan sesungguhnya.
Tentang anak-anak yang diperhatikan.
Tentang rumah-rumah yang dibangun kembali.
Di balik cerita itu, ada satu nama yang terus disebut, dengan sukaciita, dengan rasa hormat:
H. Her.
Mungkin, inilah wajah lain dari kekayaan yang sesungguhnya.
Bukan sekadar apa yang dimiliki. Tapi seberapa jauh namanya mengalir dirasakan dihati masyarakat. (Hadi S)
Penulis buku
Tongkat, Tasbeh, Dan Kekuasaan:
Membaca NU Disimpang Sejarah












