JOMBANG | KabarNahdliyin.com – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tembelang bersama LP Ma’arif NU, PERGUNU, KKMI, dan KKRA (IGRA) Tembelang menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Guru NU bertema “Integritas Guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar Perspektif Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim Karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.”
Acara yang berlangsung pada Kamis, 30 Oktober 2025 di Aula Yayasan Pendidikan Al-Ihsan Kalijaring, Kecamatan Tembelang, dibuka langsung oleh Ketua MWCNU Tembelang, KH. Didik Qomaruddin, S.Pd., M.MPd. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, menjadi momentum kolaborasi antara akademisi dan pesantren dalam menguatkan jati diri guru-guru Nahdlatul Ulama.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I., Mudir Ma’had Aly Pondok Pesantren Tebuireng, yang menyampaikan kajian mendalam tentang etika dan integritas guru dalam pandangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Acara dipandu oleh Faizuddin FM, S.Pd., Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Tembelang, sebagai moderator.
Sarasehan ini diikuti oleh seluruh guru-guru NU se-Kecamatan Tembelang, mulai dari tingkat Kelompok Bermain, RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, hingga MA/SMU/SMK.
Nilai Integritas dari Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim
Dalam paparannya, KH. Achmad Roziqi menjelaskan bahwa dalam kitab monumental Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari membagi adab seorang guru (‘alim) menjadi tiga bagian besar:
1. Adab terhadap dirinya sendiri,
2. Adab di dalam majelis ilmu (saat mengajar), dan
3. Adab terhadap murid-muridnya.
“Untuk adab terhadap dirinya sendiri, KH. Hasyim Asy’ari merincikannya menjadi 12 poin penting, di antaranya menjaga ketenangan dan wibawa, memperhatikan kebersihan diri, bersikap tawadhu’, khusyuk kepada Allah, serta melakukan persiapan matang sebelum mengajar,” tutur KH. Roziqi.
“Adab-adab tersebut bertujuan agar guru menjadi uswah hasanah (teladan baik) dan menjaga kehormatan dirinya di hadapan murid-muridnya,” imbuhnya.
Keteladanan Para Ulama Salaf
KH. Roziqi juga menukil kisah keteladanan Imam Atha’, seorang pakar fikih dan hadits di masa tabi’in, sebagaimana dikutip KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya. Imam Atha’ dikenal memiliki kerendahan hati luar biasa.
“Setiap kali mendengarkan hadits dari siapa pun, bahkan dari murid atau orang yang lebih muda, beliau menanggalkan segala atribut kebesarannya. Beliau menyimak dengan sungguh-sungguh seolah baru pertama kali mendengarnya, padahal beliau sudah hafal sanad dan matannya,” jelas KH. Roziqi.
Keteladanan seperti inilah, lanjutnya, yang menjadi ruh utama pendidikan ala pesantren—mengajarkan ilmu dengan adab, dan mengamalkan adab dengan ilmu.
Ketua MWCNU Tembelang, KH. Didik Qomaruddin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar memperingati Hari Santri, melainkan momentum memperkuat nilai-nilai ke-NU-an dalam dunia pendidikan.
“Guru-guru NU harus tampil sebagai sosok berintegritas, berilmu, dan berakhlak sebagaimana tuntunan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sinergi antara pesantren dan akademisi menjadi kunci membangun peradaban pendidikan yang berkarakter Aswaja,” tegasnya.
Sarasehan ini diakhiri dengan refleksi bersama tentang pentingnya menjaga marwah guru NU di tengah tantangan zaman. Para peserta sepakat bahwa ajaran KH. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menjadi rujukan utama dalam membangun karakter guru yang berintegritas, berakhlakul karimah, dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah. (Hadi)












