FKMJ ajak teladani semangat perjuangan KH. Hasyim Asy’ari

oleh -306 views

JOMBANG, KN – H. Achmad Su’udi Yatmo, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Jombang (FKMJ) pada Jumat (2/12) lalu bersilaturrahmi ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, bersama Didik Tondo Susilo (Sekretaris FKMJ), Ibnu Sina Nur Habibah (Ponpes Darul Muttaqin Sambong) dan Muhtazuddin (Media Kabar Nahdliyin Jogoroto), kehadirannya di terima langsung oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab di sapa Gus Kikin, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Suasana Ketika Ketua, FKMJ, Abah Su’udi Silaturrahmi ke Dalem Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng

Seperti disampaikan Abah Su’udi bahwa, dirinya bersama rombongan sowan ke Gus Kikin tidak lain hanya untuk bersilaturrahmi dan minta pencerahan, karena bagaimanapun Pondok Pesantren Tebuireng, adalah pusat pergerakan, “Bagi saya Pondok Pesantren Tebuireng ibarat mata air, yang selalu kita butuhkan, karena itu, tidak jarang kita sowan kepada Pengasuh Tebuireng, kita semua tahu pada zaman Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng menjadi pusat pergerakan,” kata Abah Su’udi.
Pada saat itu, lanjutnya, Ponpes Tebuireng sebagai pemersatu kekuatan bangsa, sebagai pelopor perawat kemerdekaan Indonesia, “Kita tidak akan tahu bagaimana nasib Bangsa Indonesia jika kala itu Kiai Hasyim Asy’ari tidak bergerak mengeluarkan resolusi jihad, mungkin Indonesia tidak akan bisa seperti sekarang ini, merdeka penuh. Kala itu meski Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya tetapi tetap Belanda bersama tentara Inggris mau mencengkram Indonesia, semua anak bangsa harus tahu sejarah perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari,” lanjut Abah Su’udi.
Demikian juga disampaikan Gus Kikin, bahwa Indonesia nyaris menjadi Negara persemakmuran Inggris, “Setelah diproklamirkan Kemerdekaan Negara kita vakum, ada beberapa usulan segera bikin parlemen dan pemerintahannya ikut Inggris, karena waktu itu Inggris dan Belanda masih sangat berminat menguasai Indonesia, untung para ulama segera berkumpul dan mengambil langkah, waktu itu organisasi Islam mudah bersatu dan berkumpul, satu komando akhirnya para ulama memutuskan untuk mempertahankan kemerdekaan, sehingga semua segala bentuk penjajahan harus hilang, dengan demikian rencana Indonesia menjadi Negara persemakmuran gagal total, semua berkat perjuangan Ulama,” kata Gus Kikin pada rombangan Abah Su’udi.
Untuk itu, tambahnya, ia berharap ada penjelasan sejarah yang benar kepada anak anak bangsa, agar mereka bisa meneladani perjuangan para Ulama dahulu, “Ini penting kita sampaikan kepada para penerus perjuangan terutama santri bahkan kepada semua masyarakat, bahwa perjuangan para Ulama dalam medan perang melawan penjajah bukan sebuah cerita fiktif, melainkan fakta sejarah yang harus terus diteladani sehingga mampu menyatukan semua kekuatan anak bangsa,“ tambahnya.
Makanya, tambahnya lagi perlunya ukhuwah sesama anak bangsa, “Perlu kita lakukan ukhuwah sesama anak bangsa untuk menjalin silaturrahmi, karena silaturrahmi atau ukhuwah untuk semua manusia, kita harus saling mengenal sehingga kita tahu sejarah dan dapat merawat kerukunan tujuannya untuk kemakmuran yang adil dan beradab,” tambahnya lagi.
Seperti halnya disampaikan Gus Kikin dalam peringatan hari Santri pada 22 Oktober 2022 lalu, Pengasuh Pesantren Tebuireng, menjelaskan, diserukannya Resolusi Jihad dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, disambut dengan suka cita, “Seruan jihad ini merupakan maklumat dari sikap PBNU untuk menolak adanya rencana pasukan Inggris yang diikuti tentara Belanda yang akan memasuki Surabaya. Masyarakat Surabaya menyambut dengan suka cita dan penuh semangat seruan Resolusi Jihad ini,” tulis Gus Kikin.
“Bagi kami di PP Tebuireng ini, ada hal yang sangat khusus yang kami rasakan karena Resolusi Jihad diserukan oleh Hadratus Syekh KH. M Hasyim Asy’ari yang saat itu sebagai Rais Akbar PBNU dan juga sebagai pengasuh PP Tebuireng ini. Untuk itu saya berpesan kepada seluruh santri di Indonesia khususnya bagi para santri Tebuireng yang saat ini kalian sudah menikmati buah dari perjuangan para masyayikh yang penuh semangat dan tanpa rasa takut. Contohlah semangat juang yang dimiliki para masyayikh yang tidak kendur walaupun melawan pasukan yang jauh lebih kuat dan dilengkapi dengan persenjataan modern,” harapnya. (mu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.