Oleh : KabarNahdliyin.com
JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Di tengah hiruk-pikuk zaman yang mengukur keberhasilan dengan popularitas dan kemewahan, masih ada orang-orang yang memilih hidup dalam kesunyian. Mereka tidak mengejar sorotan kamera, tidak sibuk membangun citra, tetapi diam-diam membangun peradaban. Salah satunya adalah Ibnu Harjo Al-Jawi, yang oleh masyarakat sekitar lebih dikenal sebagai Mbah Riyan.
Kisah hidupnya menghadirkan pelajaran penting bagi warga Nahdlatul Ulama. Pada siang hari ia adalah seorang kuli bangunan, bekerja dengan tangan yang dipenuhi debu semen dan batu bata. Sesekali ia menikmati waktu senggang dengan memancing di tepian sungai. Tidak ada penampilan yang menunjukkan bahwa lelaki sederhana itu merupakan seorang ahli tahqiq dan ta’liq manuskrip Islam yang karyanya telah menembus dunia internasional.
Di sinilah letak keindahan ilmu. Ia tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi sering tumbuh dari keikhlasan, kesabaran, dan istiqamah.
Tradisi pesantren memang selalu mengajarkan bahwa kemuliaan ilmu tidak diukur dari jabatan ataupun gelar, melainkan dari manfaat yang ditinggalkan. Para ulama terdahulu rela menghabiskan usia mereka menyalin kitab dengan penerangan lampu minyak, berjalan berbulan-bulan demi mencari satu hadis, bahkan hidup sederhana agar ilmu tetap terjaga. Semangat itulah yang seolah hidup kembali dalam diri Ibnu Harjo Al-Jawi.
Pekerjaan tahqiq yang beliau tekuni bukanlah pekerjaan biasa. Ia menuntut ketelitian luar biasa dalam membandingkan berbagai manuskrip, melacak sanad penulisan, mengoreksi kesalahan penyalin, hingga menghadirkan teks yang paling mendekati karya asli para ulama. Tanpa pekerjaan seperti ini, banyak karya ulama Nusantara bisa hilang ditelan waktu.
Bagi kalangan Nahdliyin, ikhtiar tersebut memiliki makna yang sangat besar. NU dibangun di atas tradisi sanad keilmuan yang bersambung dari guru kepada murid. Kitab-kitab klasik bukan sekadar warisan intelektual, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan mata air ilmu para salaf. Menyelamatkan manuskrip berarti menjaga kesinambungan sanad keilmuan Islam.
Yang lebih mengagumkan lagi, semua itu dilakukan tanpa meninggalkan kesederhanaan hidupnya. Tidak sedikit orang yang merasa ilmunya tinggi lalu menjauh dari masyarakat. Sebaliknya, Mbah Riyan tetap menyatu dengan kehidupan rakyat kecil. Kesederhanaannya justru menjadi cermin bahwa ilmu yang benar melahirkan tawaduk, bukan kesombongan.
Lebih dari seratus karya ilmiah yang telah dihasilkannya membuktikan bahwa produktivitas tidak selalu bergantung pada fasilitas mewah. Yang lebih menentukan adalah kecintaan kepada ilmu dan kedisiplinan dalam memanfaatkan waktu. Siang untuk bekerja, malam untuk membaca, meneliti, dan menulis. Sebuah irama kehidupan yang mengingatkan kita pada tradisi para ulama pesantren dahulu.
Di era digital ketika perhatian manusia mudah terpecah oleh media sosial dan budaya instan, sosok seperti Ibnu Harjo Al-Jawi menjadi pengingat bahwa membangun peradaban memerlukan kesabaran yang panjang. Peradaban tidak dibangun oleh kegaduhan, melainkan oleh mereka yang tekun bekerja dalam sunyi.
Sudah saatnya masyarakat memberikan penghargaan yang lebih besar kepada para penjaga manuskrip, peneliti naskah, dan ulama yang mengabdikan hidupnya untuk merawat khazanah keilmuan Islam. Mereka mungkin tidak dikenal luas, tetapi jasa mereka akan terus hidup sepanjang kitab-kitab itu dibaca oleh generasi berikutnya.
Di bawah langit Kudus, dari rumah sederhana seorang kuli bangunan, kita belajar bahwa peradaban besar sering lahir dari ruang-ruang sunyi. Tangan yang siangnya membangun dinding rumah, pada malam hari ternyata sedang membangun peradaban umat.












