Oleh: Ikhsan Effendi
Mengurai angka kemenangan Gus Kikin 472. Bukan karena analisis matematika, tapi karena melihat angka yang dicari rumus.
Dipembukaan muktamar sambutan Gus Ipul, Gus Yahya dan Presiden Prabowo melihat angka, ada isyarat bahwa muktamar ke 36 tahun 2031 akan dibuka lagi oleh Presiden Prabowo.
Ini bukan analis ilmiah, hanya gotak gatuk intermeso. Tetapi ada benarnya, sering membuat orang jadi bisa tersenyum.
Usulan untuk caketum Gus Kikin di Tambakberas kemarin muncul angka yang menarik: 472. Itulah perolehan tertinggi dalam salah satu penjaringan caketum PBNU menjadi keputusan penting Muktamar ke-35 NU.
Jangan tanya rumusnya. Tidak ada.
Tetapi kalau mau digatuk-gatukkan, angka seperti itu 4+7+2=13 ini persis seperti yang disindirkan Bapak Prabowo ketika pembukaan muktamar menyebut angka 13, menjadi fakta.
472 adalah perolehan suara. Dan suara terbanyak harus dihormati. Yang menarik justru setelah unggul, Gus Kikin tidak mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berkata, “Saya menang!”
Ia malah menyerukan:
“Mari tetap bersama”.
Nah.
Ini baru menarik.
Biasanya setelah menang orang mencari teman untuk dirangkul.
Yang kalah dicari untuk diberi tahu bahwa mereka kalah.
Gus Kikin justru mengatakan maju bersama sama.
Seolah-olah ia paham satu hal sederhana:
NU tidak boleh menang melawan NU.
Ini bukan pilkada.
Bukan final sepak bola.
Bukan pertandingan tinju.
Ini adalah jam’iyah.
Yang dicari bukan juara.
Yang dicari adalah keberkahan. Maka angka 472 boleh menjadi angka kemenangan. Tetapi jangan sampai menjadi angka kesombongan.
Teringat Qanun Asasi.
Ketika pertama kali Gus Kikin mendapat mandat dari PWNU Jawa Timur, langsung mensosialisasikan Qanun Asasi Hadrotus syeh.
Bukan untuk strategi memenangkan pertarungan.
Bukan cara untuk mengalahkan lawan. Tapi untuk kepentingan bersama.
Qanun Asasi.
Artinya jelas: sebelum bicara siapa yang memimpin NU, kita juga harus ingat untuk apa NU didirikan.
Qanun Asasi bukan kitab yang hanya dibuka ketika sidang dimulai.
Ia adalah menjadi kompas. Kalau kompasnya benar, siapa pun yang memegang kemudi tidak akan terlalu jauh menyimpang.
Gus Fahmi, Ketua PCNU Jombang, menyebut Gus Kikin sebagai kader NU yang “telah selesai dengan dirinya”.
Saya setuju kalimat itu.
Karena orang yang belum selesai dengan dirinya biasanya masih sibuk mencari pengakuan.
Yang sudah selesai dengan dirinya akan bisa mengabdi dengan ihlas.
Gus Kikin sudah sukses sebagai pengusaha di Jakarta. Lalu pulang menjadi pengasuh Tebuireng karena amanah.
Gus Fahmi bahkan mengingatkan: KH Hasan Gipo, pimpinan NU pertama, adalah seorang pengusaha.
Jadi pengusaha bukan dosa bila memimpin PBNU. Sebaliknya yang repot adalah kalau organisasi dijadikan perusahaan.
Kembali tentang angka keramat. Gus Ipul, Gus Yahya dan Presiden Prabowo sama-sama menyinggung Muktamar NU yang akan datang 2031. Sinergi dengan ilmu gotuk-gatuk bertemu dengan angka 472 berjumlah 13. Momentumnya ketika loading menjadi caketum pada 28 Agustus jumat pon berjumlah 13.
Kalau lima tahun lagi yang akan datang Presiden Prabowo diprediksi akan membuka dan menutup acara Muktamar NU, tentu menarik. Orang boleh menghubungkan dengan angka 08. Angka 13 jika dijumlah menjadi 04 dikalikan 2 periode ketemu 08. Angka 8 cocok dengan Gus Kikin. Menjadi pengasuh Tebuireng yang ke 08, lahir tanggal 17 berjumlah 8, bulan kelahiran Agustus adalah bulan ke 8, tahun kelahiran 1958.
Silahkan membayangkan Presiden Prabowo dua periode. Tetapi jangan terlalu serius mengartikan angka. Itu hanya ilmu gotuk-gatuk.
Politik tetap politik.
Takdir tetap takdir.
Yang pasti, di Tambakberas meninggalkan kenangan dua angka: Yaitu angka 472 dan angka 13. Angka 472 adalah suara hari ini.
Angka 13 adalah angka yang diucapkan presiden waktu pembukaan muktamar. Ternyata setelah digotakgatuk angka 13 juga mengartikan “gajah”.
Dalam ilmu gotuk gatuk ada angka artikulasi lain yang tertera dalam alquran, yaitu mimpi Nabi Yusuf.
Menurut mbah Yaqin pengasuh Pondok Hamalatul Quran Jombang menjelaskan, “Nabi Yusuf bermimpi melihat asaro kawka’ban wa syamsa walqomaro, yaitu 11 bintang ditambah satu matahari dan ditambah satu rembulan menjadi berjumlah angka 13, sesuai dari penjumlahan angka keramat 472”.
Pada akhirnya, setelah semua angka dihitung, semua kubu dipetakan, semua nama disebut, semua suara dikumpulkan
yang harus diprioritaskan tetap satu: NU.
Itulah ilmu gotuk-gatuk yang paling masuk akal. Dan kalau ternyata benar!?
Jangan bilang inilah ramalan.












