Oleh: Ikhsan Effendi
Jombang | KabarNahdliyin.com – Untuk memahami Jombang sebagai tempat budaya NU, kita diharapkan mampu memasuki ruang batin pesantren, tempat sejarah tokoh pendiri NU yang berjalan berdampingan dengan tradisi, sanad, dan keyakinan para ulama.
Di kalangan pesantren, ada sebuah rangkaian sejarah yang disampaikan oleh Almarhumah Nyai Hj. Makkiyah As’ad, putri almarhum KH As’ad Syansul Arifin. Beliau menuturkan bahwa ayahnya pernah dididik secara khusus oleh syaikhona Cholil Bangkalan.
Pada beberapa hari Jumat, As’ad muda diperintahkan berdiri di tepi jalan untuk menjemput tamu yang akan datang ke kediaman sang guru. Tidak ada penjelasan siapa tamu itu.
Pada perjumpaan pertama, yang datang adalah seorang berpakaian compang-camping dan berbau tidak sedap. As’ad mengantarkannya dengan penuh hormat. Setelah tamu itu pergi, Syaikhona Kholil menjelaskan bahwa menurut beliau, tamu tersebut adalah Nabi Khidir.
Jumat berikutnya, tamu yang dijemput berwajah seperti seorang kompeni Belanda. Lagi-lagi, setelah pertemuan selesai, Syaikhona menjelaskan kepada As’ad bahwa tamu itu adalah Nabi Khidir.
Pada Jumat berikutnya lagi, datang seorang lelaki yang sangat tampan, bersih, dan berwibawa. Bahkan sebelum bertemu As’ad, tamu itu telah menyapa, “As’ad, antarkan saya kepada Syaikhona Kholil.” Seusai pertemuan, Syaikhona kembali menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Nabi Khidir.
Dalam keyakinan Kiai As’ad, kisah ini dipahami sebagai bagian dari pendidikan ruhani seorang murid: pelajaran agar tidak menilai manusia dari rupa, pakaian, atau penampilan lahiriah. Seorang kekasih Allah bisa hadir dalam bentuk yang tidak diduga. Ilmu batin menuntut kerendahan hati sebelum kecerdasan.
Kesaksian itu pula yang semakin meneguhkan keyakinan KH As’ad terhadap perjalanan lahirnya Nahdlatul Ulama. Beliau diyakini menjadi saksi perjalanan atas proses penyerahan tongkat dan tasbih yang kemudian diberikan oleh Syaikhona Kholil sebagai isyarat kepada KH Hasym Asy’ari. Dari tangan Kiai As’ad pula, tongkat dan tasbih itu diantarkan kepada Hadratussyaikh.
Keyakinan di tradisi pesantren juga meriwayatkan bahwa setelah menerima tongkat dan tasbih tersebut, KH Hasyim Asy’ari mengucapkan syukur kepada Allah dan menyatakan tekad untuk segera mendirikan Nahdlatul Ulama. Riwayat seperti ini menjadi bagian dari memori spiritual yang hidup di kalangan Nahdliyin, meskipun tidak termasuk fakta sejarah yang dapat diverifikasi dengan metode akademik.
Mungkin karena pengalaman batin itulah KH As’ad berkali-kali berkata dalam ceramahnya, “Bulu saya NU, kulit saya NU, daging saya NU, tulang saya NU, sumsum saya NU.” Kalimat itu bukan hanya slogan untuk berorganisasi. Namun ungkapan Kiai As’ad secara totalitas sebagai rasa haqqul yaqin menjadi pelaku sejarah seorang murid syaikhona Cholil terhadap sanad yang dijalaninya.
Di sinilah kesaksian makna “proses embrio NU” menemukan dimensi lain yang lebih dalam. Kesaksian Kiai As’ad, Jombang adalah ruang tempat sanad keilmuan bertemu dengan sanad ruhani; tempat fikih bertemu akhlak; tempat sejarah bertemu keyakinan. Dari Jombang, Nahdlatul Ulama tumbuh bukan hanya semata sebagai institusi sosial-keagamaan, melainkan sebagai mata rantai ilmu dan pengabdian yang diwariskan dari guru kepada murid.
Karena itu, apabila Jakarta menjadi pusat administrasi negara, maka Jombang layak dikenang sebagai pusat perjuangan NU. Bukan karena keputusan politik, melainkan karena menjadi simpul sejarah, pra berdirinya NU sampai menjadi bagian dari mata rantai sanad spiritual yang mengiringi lahirnya Nahdlatul Ulama.
Di situlah letak keistimewaan Jombang. Ia tidak hanya menyimpan jejak para pendiri, tetapi juga menjadi ingatan kolektif tentang nilai, adab, dan ruh yang melahirkan NU. Jika organisasi NU telah didirikan pada tahun 1926 oleh sekelompok ulama’ khos pilihan yang sepakat dalam perserikatan Nahdlatul Ulama’. Tetapi menurut Kiai As’ad, peradaban Nahdlatul Ulama terbentuk dan terpelihara oleh ilmu, akhlak, dan sanad dari Syaichona Cholil ke KH Hasym Asy’ary. (Hadi S)












