Ragam  

Jombang: Saat Sebuah Kota Menjadi Ibu Kota Nahdliyin

JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Pada akhir Agustus ini, mata jutaan warga Nahdlatul Ulama akan tertuju ke Jombang. Muktamar NU ke-35 bukan sekadar agenda lima tahunan. Ia adalah momentum ketika sejarah kembali mengetuk pintu rumahnya sendiri.

Di Indonesia, hanya sedikit kota yang identitasnya melampaui batas administratif. Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar. Bandung sebagai Kota Kreatif. Solo sebagai Kota Budaya. Lalu bagaimana dengan Jombang?
Ada gerakan yang menyebutnya Jombang sebagai Ibu Kota Nahdliyin.

Sebutan itu bukan lahir dari ambisi politik, melainkan dari fakta sejarah. Dari tanah inilah berdiri pesantren-pesantren besar yang melahirkan ulama, cendekiawan, negarawan, budayawan, hingga jutaan santri yang tersebar ke seluruh Nusantara. Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, Darul Ulum Rejoso, dan ratusan pesantren lainnya bukan sekadar lembaga pendidikan. Mereka adalah mata air yang mengalirkan tradisi keilmuan Islam moderat selama lebih dari satu abad.

Karena itu, gerakan “Jombang Ibu Kota Nahdliyin” bukanlah proyek pencitraan. Ia adalah upaya memberi nama pada kenyataan yang selama ini telah hidup dalam kesadaran kolektif warga NU.

Muktamar ke-35 menjadi panggung yang tepat untuk mengukuhkan narasi tersebut. Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun dengan jalan, gedung, dan infrastruktur. Kota juga dibangun oleh cerita besar yang membuat orang mengingatnya.

Namun, gelar “Ibu Kota Nahdliyin” tidaklah berhenti pada romantisme sejarah. Ia tepat sekali diterjemahkan menjadi gerakan kebudayaan. Jombang telah menjadi pusat kajian Islam Nusantara, laboratorium pendidikan pesantren, ruang lahirnya inovasi sosial, pengembangan ekonomi umat, dan pusat diplomasi kebudayaan Islam yang damai.

Di abad kedua NU, tantangan tidak lagi sekadar mempertahankan tradisi. Tantangan sesungguhnya adalah menghubungkan tradisi dengan masa depan. Santri setidaknya mampu berdialog dengan kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan iklim, hingga geopolitik global tanpa kehilangan akhlak dan sanad keilmuan.

Jombang memiliki modal untuk memimpin perubahan itu. Bukan karena memiliki pesantren banyak, melainkan karena memiliki akar sejarah yang sangat dalam. Peradaban akan selalu terjaga oleh mereka yang paling kokoh menjaga fondasi budayanya.

Maka Muktamar NU ke-35 bukan hanya sekedar sebagai forum memilih pemimpin baru, melainkan juga sebagai ihtiyar sebuah gerakan bersama: mengukuhkan Jombang sebagai Ibu Kota Nahdliyin pusat inspirasi, pusat peradaban, dan pusat tempat pengabdian nahdliyin.

Karena Jombang dalam sejarahnya telah terekam banyaknya tokoh tokoh NU dan juga banyaknya gagasan gagasan besar yang lahir dari tanahnya.

Dan Jombang telah memiliki modal itu: sejarah, pesantren, ulama, serta kepercayaan jutaan Nahdliyin. Kini saatnya semua itu dirumuskan menjadi identitas yang hidup, diwariskan dari generasi ke generasi, sebagai hadiah terbaik bagi NU yang memasuki abad keduanya. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *