Gus Roqib Memilih Berangkat Lebih Dulu

KH M. Roqib Abdul Wahab

Oleh: Ikhsan Effendi

JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM

Ada orang yang dikenang karena jabatan.
Ada yang dikenang karena pidatonya.
Ada pula yang dikenang karena cara ia menyapa orang.

KH M. Roqib Abdul Wahab termasuk yang terakhir, cara menyapa orang.
Saya mengenalnya ketika awal tahun 1989-an. Waktu itu peta politik Indonesia masih sederhana: hanya tiga kontestan. Kami sama-sama berada di Brangkal, Mojokerto. Saya sering berada di kediaman KH Sya’roni, ayah dari Ida Fauziyah. Di lingkungan itulah saya melihat sosok Gus Roqib dari dekat.

Beliau mudah bergaul.
Tidak memilih teman.
Aktivis, pemuda, masyarakat desa, siapa pun merasa diterima. Anehnya, justru orang lain yang merasa dimuliakan ketika diajak berbincang olehnya. Barangkali karena semua tahu, ia adalah putra bungsu KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama.

Membawa nama besar sering kali berat.
Tetapi Gus Roqib tidak pernah terlihat sedang memikul beban itu.
Ia menjalaninya dengan ringan.
Tanpa jarak.
Tanpa kemegahan.
Padahal di Mojokerto, nama Wahab Chasbullah memiliki resonansi yang sangat kuat. Banyak warga adalah alumni Tambakberas. Banyak yang menaruh hormat kepada keluarga besar pendiri NU itu.

Namun Gus Roqib memilih jalan yang berbeda.
Beliau tidak masuk gelanggang politik.
Beliau lebih menikmati jalan kemasyarakatan. Hadir di tengah masyarakat, mendengarkan, menyambung silaturahmi, dan menjaga persaudaraan. Sikap santunnya membuat orang merasa dekat. Kerendahan hatinya membuat orang lupa bahwa di hadapannya berdiri seorang putra tokoh besar bangsa.

Rabu menjelang tengah malam, 29 Juli 2026, kabar itu datang.
Gus Roqib wafat.
Kepergiannya terasa memiliki ironi sejarah.

Kakak-kakaknya dan keluarga besar masih sibuk mempersiapkan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang. Sementara ia justru lebih dahulu memenuhi panggilan Allah.

Sejarah seakan mengulang dirinya dengan cara yang berbeda.
KH Abdul Wahab Chasbullah dahulu pernah berdoa agar dipanggil Allah setelah Muktamar NU ke-25 di Surabaya selesai. Doa itu dikabulkan. Empat hari setelah muktamar berakhir, tepat 29 Desember 1971, beliau wafat.

Putra bungsunya memilih jalan lain.
Bukan sesudah muktamar.
Melainkan sebelum muktamar dimulai.
Barangkali inilah bahasa takdir yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika manusia.

Allah memiliki waktu-Nya sendiri.
Yang berpulang lebih dahulu belum tentu yang paling tua. Yang tinggal lebih lama belum tentu yang paling siap.
Yang abadi hanyalah amal.

Dan tentang Gus Roqib, orang mungkin tidak akan banyak menemukan pidato besar atau manuver politik yang menghebohkan.
Tetapi banyak orang akan mengingat senyumnya.
Jabat tangannya.
Kesederhanaannya.

Cara beliau menghormati siapa saja tanpa melihat latar belakang.
Itulah warisan yang sering kali tidak tertulis dalam buku sejarah, tetapi hidup di dalam ingatan manusia.

Selamat jalan, Kiai Haji M. Roqib Abdul Wahab.
Panjenengan telah menorehkan jejak pengabdian dengan ketulusan, bukan dari jalur perpolitikan.

Semoga Allah SWT melapangkan kubur panjenengan, menerima seluruh amal ibadah, dan menempatkan panjenengan bersama para salihin, para ulama, serta para pejuang yang telah mengabdikan hidupnya untuk agama, umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama. (Hadi S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *