Oleh : Ikhsan Effendi
JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, muktamar tidak pernah sekadar pertemuan organisasi. Ia adalah perjalanan ruhani jam’iyah NU. Jika organisasi memiliki jasad berupa struktur kepengurusan, maka muktamar adalah denyut jantungnya. Di sanalah ingatan sejarah dipanggil kembali, amanah para masyayikh diperbarui, dan masa depan dititipkan kepada generasi penerus.
Muktamar adalah majelis musyawarah, tetapi lebih dari itu, ia adalah majelis muhasabah. Para ulama, kiai, dan pengurus datang bukan semata membawa hak suara, melainkan membawa doa-doa dari jutaan warga nahdliyin yang tersebar di pelosok negeri. Di ruang itulah kepentingan pribadi luruh menjadi untuk kemaslahatan umat.
Sejarah NU mengajarkan bahwa setiap muktamar selalu meninggalkan jejak peradaban. Dari Surabaya tahun 1926, para ulama meletakkan fondasi perjuangan. Dari Palembang tahun 1952 lahir keberanian mengambil jalan politik keluar dari Masyumi menjadi partai politik demi maslahat zamannya. Dari Semarang tahun 1979 lahir penataan organisasi yang lebih kokoh dengan peraturan baru muktamar tiap limatahun. Dari Situbondo tahun 1984, NU menemukan kembali rumah spiritualnya melalui Khittah 1926.
Kini sejarah setelah satu abad kembali mengetuk pintu Jombang.
Bukan tanpa makna jika Muktamar ke-35 diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Dalam pandangan lahir, Tambakberas hanyalah sebuah lokasi. Namun dalam pandangan batin, tempat tidak pernah sekadar ruang. Tempat menyimpan jejak doa, jejak sujud, dan jejak orang-orang soleh yang menghabiskan usianya untuk mendidik umat, KH Abdul Wahab Chasbullah.
Pesantren bukan hanya bangunan. Ia adalah tempat ilmu dipadukan dengan adab, tempat akal dipertemukan dengan hati, dan tempat seorang santri belajar bahwa kemuliaan bukanlah menjadi orang besar, melainkan menjadi orang yang bermanfaat.
Di Tambakberas, NU seakan diajak pulang. Pulang kepada pesantren. Pulang kepada para ulama. Pulang kepada kesederhanaan. Pulang kepada niat awal ketika organisasi ini didirikan sebagai jalan khidmah, bukan jalan kemegahan.
Bukankah para masyayikh dahulu mengajarkan bahwa kekuatan NU tidak pernah terletak pada gedung-gedung megahnya? Kekuatan NU justru lahir dari tikar-tikar pengajian, dari kitab-kitab kuning yang dibaca dengan penuh tawaduk, dari dzikir yang lirih selepas Subuh, dan dari doa para ibu yang tidak pernah putus memohon keselamatan bangsa.
Karena itu, memasuki abad kedua, NU tidak cukup hanya menjadi organisasi besar. Besar tanpa kedalaman ruh hanya akan melahirkan kebanggaan yang rapuh. Yang dibutuhkan adalah kebesaran jiwa. Sebab peradaban selalu dibangun oleh hati yang bersih sebelum dibangun oleh tangan yang kuat.
Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan kecerdasan teknologi, tetapi juga kecerdasan spiritual. Bangsa ini memerlukan ilmuwan yang rendah hati, pemimpin yang takut kepada Allah, pengusaha yang jujur, birokrat yang amanah, serta generasi muda yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akhlaknya.
Di sinilah pesantren memiliki peran yang tak tergantikan. Pesantren mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu mudah kehilangan arah. NU selama satu abad telah menjaga keseimbangan itu melalui ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang berpijak pada tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.
Muktamar di Tambakberas hendaknya tidak hanya menghasilkan keputusan administratif, tetapi juga melahirkan keputusan-keputusan yang menyejukkan hati umat. Sebab yang paling dibutuhkan warga nahdliyin hari ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan hadirnya teladan. Kepemimpinan dalam tradisi pesantren bukanlah tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling banyak melayani.
Para ulama dahulu selalu mengingatkan bahwa jabatan hanyalah amanah, bukan kemuliaan. Kemuliaan berada pada keikhlasan menjaga umat. Sebab seorang kiai tidak diukur dari tingginya kursi yang diduduki, tetapi dari banyaknya hati yang ditenangkan dan banyaknya persoalan umat yang diselesaikan.
Barangkali inilah pesan paling halus dari dipilihnya Tambakberas. Bahwa ketika NU memasuki abad kedua, organisasi ini diingatkan agar tidak berjalan terlalu jauh meninggalkan sumber mata airnya. Sebab sungai yang melupakan hulunya lambat laun akan kehilangan aliran.
Semoga dari Tambakberas lahir keputusan-keputusan yang bukan hanya disepakati oleh peserta muktamar, tetapi juga diridhai Allah SWT. Semoga para pemimpin yang terpilih tidak sekadar memperoleh legitimasi organisatoris, tetapi juga memperoleh keberkahan doa para masyayikh dan kepercayaan umat.
Pada akhirnya, Muktamar ke-35 bukan sekadar pergantian bab dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Muktamar ke 35 adalah ikhtiar menyambung sanad perjuangan para pendiri, agar cahaya yang dahulu dinyalakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama pendiri tetap menerangi jalan bangsa.
Karena sesungguhnya, NU tidak dibangun hanya oleh keputusan-keputusan besar, melainkan oleh hati kiyai-kiyai yang ikhlas. Dan ketika hatinya kiyai-kiyai itu berkumpul di Tambakberas, semoga yang lahir bukan hanya keputusan organisasi, tetapi juga keberkahan bagi umat, bagi Indonesia, dan bagi peradaban Islam di abad kedua. (Red)









