Oleh: HM Ikhsan Effendi
MALANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Ada yang berbeda di Stadion Gajayana, Malang, pagi itu, 8 Februari 2026. Bukan hanya karena stadion bersejarah itu genap berusia satu abad, atau karena Presiden Prabowo hadir, tetapi karena aura kebersamaan yang nyaris terasa fisik. Ratusan ribuan nahdliyin dari berbagai penjuru Jawa Timur berjejal dengan tertib. Warga Muhammadiyah ikut menyiapkan konsumsi. Sekolah-sekolah membuka lahan parkir. Gereja-gereja bahkan menggeser jadwal kebaktian. Kota Malang menjadi ruang spiritual bersama.
Di tengah suasana itu, Gus Kikin berdiri di podium. Melambaikan tangan. Senyumnya tenang. Kata-katanya sederhana, tapi mengalir dengan kedalaman makna. Ia berbicara tentang syukur, tentang keguyuban, tentang amanah besar NU yang kini berusia satu abad dengan lebih dari 100 juta anggota. Ia tidak berbicara tentang dirinya. Tidak sedikit pun. Padahal, di benak banyak orang, pagi itu adalah “panggung sejarah” baginya.
Nama lengkapnya KH. Abd Hakim Mahfudz. Cicit Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Pengasuh Pesantren Tebuireng. Ketua PWNU Jawa Timur. Tetapi publik lebih akrab memanggilnya Gus Kikin. Dalam tradisi NU, nama besar dan nasab mulia tidak otomatis melahirkan kepemimpinan. Yang menentukan adalah keteladanan, kelapangan hati, dan kedewasaan batin. Di situlah Gus Kikin mulai dibicarakan.
Bukan karena ia ingin maju sebagai Ketua Umum PBNU. Justru sebaliknya. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak ambisius. Tidak gemar membangun pencitraan. Tidak rajin memasang baliho. Tidak sibuk membangun jejaring politik. Tetapi justru itu yang membuat namanya menguat. Di NU, sering kali, yang paling layak memimpin adalah mereka yang paling tidak ingin memimpin.
Para masyayikh sepuh membaca itu dengan kepekaan khas pesantren. Mereka melihat ketenangan Gus Kikin sebagai tanda kematangan. Mereka melihat kesahajaannya sebagai simbol kekuatan. Mereka melihat ketidakambisiusannya sebagai benteng moral. Maka, dorongan itu datang. Perlahan. Dari bawah. Dari kalangan kiai-kiai sepuh, lalu mengalir ke kader-kader muda NU.
Dalam konteks NU abad kedua, tantangan bukan lagi sekadar menjaga tradisi, tetapi mengelola raksasa sosial bernama jam’iyyah dengan anggota lebih dari 100 juta. NU tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga politik kebangsaan, ekonomi umat, teknologi digital, hingga diplomasi global. Dibutuhkan pemimpin yang bukan hanya alim, tetapi juga arif. Bukan hanya tegas, tetapi juga lembut. Bukan hanya kuat, tetapi juga teduh.
Gus Kikin membawa warisan spiritual Tebuireng: tradisi ilmu, keteladanan akhlak, dan keberanian moral. Tebuireng bukan sekadar pesantren besar, melainkan simbol pertautan antara keilmuan, nasionalisme, dan keikhlasan. Dari sanalah lahir resolusi jihad, semangat kebangsaan, dan keberanian melawan penjajahan. Spirit itu terasa hidup dalam cara Gus Kikin memimpin PWNU Jawa Timur. Tegas, tapi tidak keras. Teguh, tapi tidak kaku.
Selama memimpin PWNU Jawa Timur, ia menunjukkan bahwa organisasi besar bisa dikelola tanpa gaduh. Program berjalan, konflik bisa diredam, perbedaan disatukan. Ia lebih sering turun ke bawah, ke pesantren-pesantren, ke majelis-majelis kecil, daripada sibuk tampil di forum elit. Di situlah legitimasi moralnya tumbuh.
Muktamar NU ke 35 pada tahun 2026 semakin dekat. Suhu politik organisasi mulai menghangat. Nama-nama kandidat mulai dibicarakan. Tetapi di tengah riuh itu, nama Gus Kikin justru menguat dalam keheningan. Ia tidak melangkah ke depan. Tetapi langkah-langkah kader dan kiai sepuhlah yang perlahan mendorongnya.
Barangkali, inilah yang paling dibutuhkan NU hari ini: pemimpin yang lahir dari doa, bukan dari ambisi. Pemimpin yang muncul dari amanah, bukan dari manuver. Pemimpin yang berdiri di tengah, bukan di atas.
Jika kelak Gus Kikin benar-benar berkenan menjadi calon Ketua Umum PBNU, itu bukan kemauan pribadi. Itu adalah harapan tradisi. Warisan etika kepemimpinan pesantren. Kekayaan nilai bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan beban.
Dari 1926-2026 di usia 100 tahun, NU membutuhkan pemimpin yang tidak silau oleh sorot lampu, tetapi kuat memegang lentera hikmah. Sosok yang tidak sibuk menambah pengaruh, tetapi memperdalam makna. Sosok yang mampu menjaga marwah ulama, sekaligus merangkul generasi muda.
Dan di Stadion Gajayana pagi itu, di tengah lautan manusia dan gema shalawat, banyak orang seperti menemukan isyarat: mungkin, perjalanan NU abad kedua memang akan dipandu oleh tangan yang tenang, hati yang lapang, dan jiwa yang tidak ambisius. Nama itu: Gus Kikin. (Hadi S)












