Menjaga Adab, Menghormati Konco: Pelajaran dari Sebuah Percakapan

JOMBANG | KABARNAHFLIYIN.CON – Dalam pergaulan sehari-hari, acap kali kita luput membedakan siapa yang benar-benar dekat, siapa yang sekadar dikenal. Padahal, dalam tradisi adab dan akhlak, membedakan ini sangat penting. Mereka yang hidup dan berinteraksi dengan kita setiap hari—yang disebut konco, sahabat, teman dekat—justru menuntut sikap yang lebih hati-hati, lebih santun, dan lebih tulus.

“Kenal ibu, kalau dia berbicara, kita tentu lebih berhati-hati. Maka, sama halnya dengan orang yang biasa hidup dengan kita. Justru merekalah yang harus kita jaga sikap terhadapnya,” ujar KH Khoirul Huda B.Sc yang akrab di panggil Gus Huda dalam pengajian rutin di Ponpes Midanutta’lim Jombang. Ia menyebut bahwa konco itu punya hak khusus: hak untuk dihargai, didengarkan, dan dihormati.

Lebih lanjut ia menekankan, jika kelak di akhirat kita ditanya, maka bukan orang asing yang jadi saksi, tetapi justru mereka yang hidup bersama kita—sahabat, orang tua, guru, tetangga. “Kita akan ditanya: piye tanggung jawabmu karo koncomu? (bagaimana tanggung jawabmu terhadap temanmu?) Bukan hanya orang tua, tapi juga orang yang kita temani tiap hari.”

Dalam dunia pertemanan, ujian keikhlasan kerap datang dari arah yang tak terduga. Misalnya saja ketika seseorang mulai menilai temannya dari harta, jabatan, atau status sosial. Padahal, menurut sang penceramah, persahabatan sejati tak pernah lahir dari materi. “Jangan mengagungkan orang karena hartanya. Dunia ini tidak ada nilainya di sisi Allah,” katanya.

Ia mengutip kebiasaan masyarakat yang kadang memberi pujian hanya kepada mereka yang kelihatan ‘berkelas’. Bahkan dalam masjid, dalam majelis, atau di pasar, masih ada pandangan yang merendahkan orang hanya karena pakaian lusuh atau profesi sederhana. Padahal, bisa jadi mereka justru lebih mulia di sisi Allah.

“Jangan menghina profesi seseorang. Entah dia tukang, guru, atau petani. Kita tidak tahu siapa yang lebih dekat dengan surga,” lanjutnya. Dalam tradisi Islam, disebutkan bahwa orang miskin akan lebih cepat masuk surga dibanding orang kaya, bahkan sampai 500 tahun lebih dulu.

Kita juga diingatkan agar tak buru-buru ingin mendapat sesuatu sebelum waktunya. Ingin dihormati sebelum pantas dihormati. Ingin dicintai tanpa pernah menunjukkan kelayakan. “Siapa yang mendahului sesuatu sebelum waktunya, akan ditutup dari hal tersebut,” ujarnya. Itu adalah hukum alam sekaligus hukum Tuhan.

Pengingat itu sederhana, tapi terasa dalam: ojo muring-muring kepingin koyo ngene, jangan mudah marah hanya karena tidak punya apa yang dimiliki orang lain. Karena hidup bukan soal apa yang kita punya, tapi bagaimana kita menjalani dan menjaganya.

Menjadi sahabat sejati bukan perkara status di media sosial atau seringnya bertemu di akhir pekan. Tapi soal ketulusan, tentang tidak menghinakan siapa pun meskipun mereka tak seperti yang kita harapkan. Karena kadang, justru orang yang kita anggap ‘tidak tahu apa-apa’ membawa ketenangan yang tidak kita temukan di tempat lain.

Dan pada akhirnya, kita diminta kembali kepada niat: apakah kita menghargai orang karena Allah, atau karena kepentingan dunia?

Sebuah pelajaran berharga dari obrolan yang mungkin biasa saja, tapi menyimpan hikmah luar biasa tentang makna persahabatan, adab, dan kerendahan hati. (Hadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *