JOMBANG, KN- Gelaran Haul ke 55 Kiai Wahab Chasbullah (10/5) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Jombang, Jawa Timur kali ini agak berbeda. Tidak jarang undangan yang merasakan bahwa suasana Haul seperti acara pembukaan Muktamar NU ke 35, “Suasana seperti persis pembukaan Muktamar NU,” kata Kiai Muhyidin asal Jombang dilokasi acara.
Tidak hanya Kiai Muhyidin asal Jombang saja yang merasakan hal itu, tetapi undangan luar jombang juga merasakan demikian. Sesi acara mula mula dibuka oleh protokol atau pembawa acara, lalu dilanjutkan oleh Qori’ (al hafidz pelantun ummul quran) dengan suara merdu khas Muktamar NU, maklum dia Sang Qori’ juara dua internasional asal Madiun. Para undangan dengan khidmat mendengarkan lantunan ayat ayat suci Al Quran tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari wakil sohibul baet yang disampaikan oleh Kiai Hasib Wahab.
Di area acara juga tidak sedikit jumlah Pengurus NU yang hadir, Kiai Hasib Wahab yang akrab disapa Gus Hasib dalam sambutannya mula mula memperkenalkan sang Ayah, siapa sebenanya Kiai Wahab kepada Mas Wapres, lalu beliau menjelaskan tetang Pondok Pesantren Bahrul Ulum dengan gaya khasnya yang santai. “Kiai Wahab adalah pribadi yang kuat, salah satu bukti jika tidak ada mbah wahab tidak ada NU, beliau yang mengusulkan dan menjalankan supaya ulama ulama mendirikan NU, usul itu disampaikan kepada Almaghfurlah Hadrotus Syekh Kiai Hasyim Asy’ari (Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng kala itu), setiap Muktamar mbah Wahab yang mengurus sampai terwujudnya pelaksanaan Muktamar,” jelas Kiai Gus Hasib.
Terkait Pondok Pesantren, lanjut Gus Hasib, ‘”Pondok Pesantren sudah berdiri 200 tahun lalu berarti dua abad, ini Pondok tua santrinya berjumlah 15 ribu, hebatnya Pondok ini sampai sekarang masih menjadi utuh bersatu,” lanjut Gus Hasib dengan santai.

Ditambahkan, katanya lagi, hingga saat ini putra putri Kiai Wahab masih hidup semua, “Mestinya jika di NU ada rame rame ya dikembalikan kepada anak Pendiri NU,” katanya sambil guyon.
Setelah Gus Habis, dilanjutkan Mas Wapres Gibran Rakabuming Raka, “Kita awali dengan pantun supaya para santri tambah semangat,” kata Mas Wapres.
“Jalan jalan ke Kabupaten Jombang, singgah sebentar membeli ketan, Kiai Wahab seorang pejuang, yang membawa indonesia menuju kemajuan.
“Bersemu Merah bunga dahlia, harum mewangi bunga akasa. Santri berilmu dan berakhlaq mulia, menjadi kunci pembangunan indonesia”, pantun Mas Wapres di depan ribuan santri dan undangan yang hadir.
Tidak lama kemudian Mas Wapres memanggil dua santri yang mewakili dari putra dan putri untuk diberi hadiah sepeda dengan catatan bisa menjawab pertanyaan dari orang kedua di Republik indonesia ini, “Saya minta perwakilan dua santri, Ayo maju nanti saya beri hadiah sepeda, disini tidak ada jawaban yang salah,” kata Wapres disambut ger-geran hadirin.
Setelah Mas Gibran menyampaikan sambutan, lalu mauidloh disampaikan oleh Kiai Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq. Dalam mauidloh Gus Muwafiq banyak mencaritakan sejarah perjuangan Kiai Wahab dan NU.
Gus Muwafiq, mengatakan, orang orang zaman dulu itu kuat dan hebat hebat, “Orang dulu hebat hebat, dan memang kuat seperti itu. Semua orang punya kehebatan di zamannya, apalagi Kiai Wahab dan NU-nya beliau benar benar orang hebat di zamannya, karena itu kita tidak boleh melupakan sejarah,” himbau Gus Muwafiq.
Setelah Gus Muwafiq, menjelaskan penjang lebar terkait perjuangan Mbah Kiai Wahab, Pesantren dan NU dengan gaya khas NU, dilanjut Kiai Mun’im, ahli sejarah NU, peneliti dan penulis buku jejak jejak mBah Kiai Wahab.
Kiai Mun’im mengatakan, bahwa, jejak Kiai Wahab itu ada dimana mana, “Saya ke Kalimantan, Sulawesi dan plosok daerah mesti ketemu jejak Kiai Wahab, dan itulah NU. Ide mendirikan NU adalah untuk menyatukan Pondok Pesantren. Makanya ketika Pondok Pesantren itu berkurang kita lihat bagaimana NU-nya itu saja, kalau NU menurun maka bisa dipastikan Pondok Pesantrennya menurun. Karena salah satu tujuan NU didirikan untuk menyatukan Pesantren,” kata Kiai Mun’im.
Dari berbagai acara hari pertama digelar sholawat yang dibawahkan ribuan anggota ishari, setelah itu pada hari kedua ada kunjungan Mas Wapres dan sambutan para kiai dan tokoh khas NU, malam ketiga dari perayaan haul Kiai Wahab ke 55 ini juga dilakukan pembacaan Manakib Kajeng Syeh Abdul Kodir Jaelani ribuan jamaah manakib juga memenuhi paggung utama kegiatan tersebut. Tidak salah jika undangan mengatakan kegiatan Haul Kiai Wahab Chasbullah kali ini suasananya persis gelaran pembukaan Muktanar NU 35. “Semoga kita kita ini bisa melanjutkan perjuangan Kiai Wahab di NU,” kata Cak Zainul salah satu warga NU Kabupaten Jombang. (mu)






