Istighotsah Al Mujahadah Mayangan Eksis Sejak 1989 Sampai Sekarang

Kyai Karim Elmuna saat berceramah di istoghotsah Al Mujahadah

JOMBANG | KabarNahdliyin.com – Santun, Wibawa, Beradab – Jamaah Istighotsah Al Mujahadah Dusun Tugurejo, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, terus menjaga tradisi syiar dan kegiatan keagamaan sejak berdiri pada 1989.

Hingga kini, jamaah tersebut tetap eksis menggelar kegiatan rutin istighotsah. Pada Sabtu (5/9/2026), kegiatan diisi dengan istighotsah sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menghadirkan penceramah agama, Kiai Karim Elmuna dari Pondok Pesantren Ribath Darul Mansyur, Mayangan, Jogoroto, Jombang.

Dalam ceramahnya, Kiai Karim menyampaikan bahwa setiap manusia pasti memiliki sisi kebaikan yang dapat dikenang dan diteladani. Salah satunya tercermin dari para pendiri Jamaah Istighotsah Al Mujahadah yang telah menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan selama puluhan tahun.

“Setiap orang itu pasti ada kebaikannya, seperti pendiri jamaah ini. Sampai sekarang masih tetap eksis dengan rutinan istighotsah,” tutur Kiai Karim.

Menurutnya, keberlangsungan sebuah majelis keagamaan selama puluhan tahun merupakan bentuk ikhtiar dalam menjaga syiar Islam sekaligus merawat tradisi kebersamaan masyarakat.

Jama’ah Al Mujahadah mebaca mahallul Qiyam

Teladani Akhlak Rasulullah SAW

Dalam momentum Maulid Nabi, Kiai Karim mengajak jamaah untuk tidak hanya memperingati kelahiran Rasulullah SAW secara seremonial, tetapi juga berusaha meneladani sifat dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan besarnya kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya. Dalam penyampaiannya, kecintaan tersebut digambarkan sebagai kasih sayang yang sangat besar kepada umat, termasuk perhatian terhadap keselamatan umat di akhirat.

“Rasulullah itu adalah orang yang paling cinta kepada umatnya,” jelasnya.

Karena itu, menurut Kiai Karim, umat Islam perlu membalas kecintaan tersebut dengan memperbanyak shalawat, mengikuti sunnah, serta berusaha menjalankan ajaran Rasulullah SAW dengan penuh keikhlasan.

Shalawat sebagai Ungkapan Cinta kepada Rasul

Kiai Karim juga mengenalkan salah satu shalawat yang dikenal jamaah sebagai Qod Dloqot hilati adrikni yaa rosulalloh. Ia menjelaskan makna kalimat “QQod Dloqot hilati adrikni yaa rosulalloh” sebagai ungkapan permohonan pertolongan dan harapan kepada Rasulullah SAW.

Pesan tersebut disampaikan sebagai bagian dari ajakan untuk memperbanyak shalawat dan menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi di Jamaah Al Mujahadah pun menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antarsesama jamaah sekaligus menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan sejak generasi sebelumnya.

Empat Dekade Menjaga Syiar

Eksistensi Jamaah Istighotsah Al Mujahadah sejak 1989 menunjukkan bahwa tradisi keagamaan di tengah masyarakat dapat bertahan ketika dirawat secara bersama-sama.

Istighotsah tidak hanya menjadi ruang untuk berdoa, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat kepedulian sosial, serta mewariskan nilai-nilai keagamaan kepada generasi berikutnya.

Kegiatan tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 21.10 WIB dan ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan ramah tamah antarjamaah.

Dari Dusun Tugurejo, Mayangan, Jombang, pesan yang disampaikan sederhana namun mendalam: Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, melainkan momentum untuk menumbuhkan cinta kepada beliau dan menerjemahkannya melalui akhlak, shalawat, ibadah, serta kepedulian kepada sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *