SITUBONDO | KABARNAHDLIYIN.COM – Menjelang acara muktamar ke 35 di Tambakberas Jombang, biasanya yang terdengar adalah suara strategi. Ada yang menghitung peta dukungan, ada yang sibuk membaca peluang, ada pula yang memperkirakan siapa akan berpasangan dengan siapa. Di ruang-ruang tertentu, percakapan politik organisasi selalu terdengar lebih nyaring daripada suara tasbih.
Namun, kali ini ada suara yang berbeda.
KH Azzaim memilih mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk berdzikir. Bukan berdiskusi tentang siapa yang akan menang. Bukan pula mengampanyekan nama tertentu. Yang diminta justru sederhana: memperbanyak membaca Yaa Jabbar, Yaa Qahhar dan memohon pertolongan Allah melalui dzikir Ibadallah Rijalallah. Tujuannya pun jelas, agar kepengurusan yang lahir dari Muktamar ke-35 benar-benar amanah, membawa kemajuan NU, serta menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.
Ajakan seperti ini mungkin terasa tidak biasa di tengah zaman yang serba politis. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Dalam tradisi pesantren, keputusan besar memang tidak hanya disiapkan melalui rapat. Ia juga dipersiapkan melalui munajat. Sebab manusia boleh menyusun rencana, tetapi hati manusia tetap berada dalam genggaman Allah.
Nama Al-Jabbar mengingatkan bahwa Allah Maha Memperbaiki segala yang retak, menyempurnakan segala yang kurang, dan menguatkan apa yang lemah. Sedangkan Al-Qahhar mengajarkan bahwa hanya Allah yang benar-benar memiliki kekuasaan mutlak atas seluruh makhluk. Tidak ada strategi manusia yang mampu melampaui kehendak-Nya.
Karena itu, membaca Yaa Jabbar, Yaa Qahhar bukan sekadar wirid. Ia adalah pendidikan batin agar setiap peserta muktamar menyadari keterbatasannya. Bahwa jabatan bukan hasil kecerdikan semata, melainkan amanah yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Begitu pula dzikir Ibadallah Rijalallah. Dalam khazanah pesantren, kalimat ini adalah bentuk permohonan pertolongan kepada para hamba Allah yang saleh agar, atas izin-Nya, doa-doa dipertemukan dengan keberkahan. Bukan untuk mencari kekuatan selain Allah, melainkan sebagai bagian dari adab spiritual yang telah lama hidup dalam tradisi ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Mungkin ada yang bertanya, apakah dzikir dapat memengaruhi hasil muktamar?
Dzikir bukan alat untuk memenangkan seseorang. Dzikir adalah cara membersihkan hati agar siapa pun yang terpilih benar-benar menjadi pilihan terbaik menurut kehendak Allah. Jika hati bersih, maka keputusan pun lebih jernih. Jika niat lurus, maka perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
NU sejak awal lahir dari perpaduan ilmu, musyawarah, dan doa. Para pendirinya tidak pernah memisahkan ikhtiar lahir dengan ikhtiar batin. Mereka bermusyawarah dengan pikiran yang tajam, tetapi juga bertahajud dengan air mata yang panjang.
Mungkin inilah yang sedang diingatkan kembali oleh KH Azzaim.
Bahwa memasuki abad kedua NU, organisasi sebesar ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan manajerial. NU juga memerlukan kekuatan ruhani. Sebab tantangan hari ini bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan juga persoalan menjaga keikhlasan, persatuan, dan arah perjuangan.
Tambakberas akan menjadi tempat berkumpulnya ribuan orang. Akan ada perbedaan pandangan. Akan ada kompetisi gagasan. Semua itu wajar dalam organisasi besar. Yang tidak boleh hilang adalah persaudaraan setelah keputusan diambil.
Sebab muktamar hanyalah beberapa hari. Sedangkan NU akan terus berjalan melintasi zaman.
Maka, ajakan berdzikir sesungguhnya bukan sekadar ritual menjelang pemilihan. Ia adalah pengingat bahwa sebesar apa pun organisasi, setinggi apa pun ilmu para pengurusnya, pada akhirnya semua tetap membutuhkan pertolongan Allah.
Semoga dari Tambakberas lahir kepengurusan yang amanah, bijaksana, dan mampu menjaga marwah Nahdlatul Ulama sebagai penjaga agama, penguat persatuan bangsa, serta pelayan umat. Dan semoga setiap tasbih yang dipanjatkan menjadi cahaya yang menerangi jalan NU menuju masa depan yang lebih maslahat. (Redaksi)










