Setia, Siaga, Satria: Tiga Nafas Banser dari Jombang

JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Terik matahari Desa Murukan, Mojoagung, Kabupaten Jombang, belum juga mereda ketika ratusan pemuda berbaju loreng coklat kehijauan mulai berbaris rapi. Di antara debu yang mengepul dan sorak takbir yang menggema, langkah-langkah kaki mereka membentuk irama pengabdian. Hari itu, Jumat 11 Juli 2025, menjadi saksi dimulainya Pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) tiga satuan Banser: Provost, Balantas, dan Bagana.

Bukan sekadar pelatihan teknis, kegiatan yang digelar oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jombang bersama Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser ini mengusung misi yang jauh lebih luas: membentuk karakter kader militan yang siap menjaga marwah ulama dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebanyak 252 peserta terpilih dari berbagai daerah di Jawa Timur hadir. Mereka datang bukan karena paksaan, bukan pula karena iming-iming upah. Mereka hadir karena panggilan. “Ibu cuma bilang, nek wes milih ngelakoni urip dadi Banser, ojo setengah-setengah. Iki laku jihadmu,” ujar salah seorang peserta, mengutip pesan ibunya. Ia, seperti banyak peserta lainnya, datang dengan tekad bulat — berangkat sebagai rakyat biasa, pulang sebagai pejuang ideologis.

Selama tiga hari ke depan, para peserta akan digembleng dalam tiga satuan khusus yang menjadi tulang punggung kecepatan dan ketegasan Banser:

Provost: satuan disiplin dan pengawal kehormatan organisasi;

Balantas: satuan yang fokus pada pengaturan lalu lintas dalam pengamanan massa dan kegiatan publik;

Bagana (Banser Tanggap Bencana): pasukan kemanusiaan yang sering kali menjadi garda terdepan di lokasi bencana.


Namun, bukan hanya otot dan teknik yang diuji dalam pelatihan ini. Yang lebih penting justru adalah penguatan ideologi dan nilai. “Banser itu bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Bukan beban organisasi, tapi tameng terdepan,” tegas H. Rizza Ali Faizin, Kepala Satkorwil Banser Jawa Timur, dalam pidato pembukaan yang penuh semangat.

Rizza juga menekankan bahwa siaga bukan pilihan dalam kultur Banser. “Kita tidak berharap bencana datang. Tapi Banser tidak boleh tidur. Siaga adalah harga mati,” ucapnya, mengacu pada kesiapsiagaan satuan Bagana yang terkenal cepat dan berani.

Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya diajarkan baris-berbaris, bela diri, atau teknik tanggap darurat. Mereka juga mengikuti kajian kebangsaan, refleksi nilai ke-NU-an, serta sejarah perjuangan ulama. Bagi para instruktur, pendidikan spiritual dan ideologis sama pentingnya dengan latihan lapangan.

Yang menarik dari Diklatsus ini adalah latar belakang para pesertanya yang amat beragam. Ada santri dari pondok pesantren pelosok Jombang, guru ngaji dari Lamongan, buruh pabrik dari Gresik, hingga sopir angkot asal Nganjuk. Namun, dalam loreng Banser dan lencana kecil berbentuk perisai, perbedaan itu lenyap. Mereka semua berbicara dalam satu bahasa: bahasa cinta pada kiai dan negeri.

Ketua PC GP Ansor Jombang, Gus Fiqi, menegaskan bahwa menjadi bagian dari Banser bukanlah tentang struktur atau kedudukan. “Apa yang kita wariskan untuk generasi setelah kita? Kita bukan sedang mencari posisi, tapi sedang menanam amal jariyah perjuangan,” katanya dalam sesi pengarahan malam kedua.

Di tengah masyarakat yang semakin sibuk pada urusan pribadi dan kenyamanan hidup, para kader ini justru memilih jalan terjal. Mereka hadir di setiap kegiatan keagamaan, menjaga keamanan haul kiai, mengatur lalu lintas saat hari besar Islam, bahkan mendistribusikan bantuan di tengah banjir dan longsor. Dan semua itu dilakukan tanpa bayaran.

“Banser itu bukan tentara yang bawa senjata, tapi bawa cinta,” ujar salah satu peserta, sambil memandangi seragam barunya yang belum kering dari keringat. Ungkapan itu terdengar sederhana, tapi mengandung makna mendalam. Banser selama ini kerap berada di garda depan menjaga kebebasan beragama, mengamankan kegiatan keislaman tradisional, dan menenangkan warga di saat-saat genting.

Namun, di balik itu semua, tak sedikit dari mereka yang justru mendapat cibiran. Bahkan tak jarang datang dari kelompok yang sama-sama mengaku umat Islam. Tapi seperti dikatakan Kaji Rizza, “Banser tidak butuh pengakuan. Banser hanya butuh keyakinan.”

Pelatihan yang berlangsung sejak 11 hingga 13 Juli 2025 ini hanya berlangsung tiga hari. Namun nilai-nilai yang ditanamkan dalam rentang waktu singkat itu diyakini akan hidup dalam diri para kader sepanjang hayat.

Setiap materi, setiap teriakan yel-yel, dan setiap ayat yang dikaji di malam hari menjadi bagian dari ritual sakral: membentuk pribadi Banser yang setia, siaga, dan satria. Banser yang bukan hanya kuat secara fisik, tapi juga tahan terhadap tekanan zaman, godaan materi, dan tipu daya kekuasaan.

“Banser bukan jalan nyaman, tapi jalan keyakinan. Bukan jalan yang dibayar, tapi jalan yang penuh berkah,” ujar Gus Fiqi di akhir kegiatan.

Dan ketika malam mulai turun di Desa Murukan, para peserta masih tampak tegak dalam barisan. Tak ada keluhan, hanya senyum lelah yang tulus. Di mata mereka, ada nyala cinta yang tak bisa padam — cinta kepada ulama, cinta kepada negeri, dan cinta kepada jalan perjuangan.

Jayalah Banser. Jayalah Ansor. Jayalah Indonesia. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *