Oleh: M Ikhsan Effendi
JOMBANG | KabarNahdliyin.com – Beberapa hari terakhir, masyarakat dan warga Nahdlatul Ulama dikejutkan oleh beredarnya risalah rapat Syuriyah PBNU yang memuat permintaan agar Ketua Umum mengundurkan diri. Kabar tersebut menyebar cepat, mengundang perhatian, kecemasan, dan beragam penafsiran. Namun di atas semua hiruk-pikuk itu, NU sebagai jam’iyyah yang besar selalu memiliki pegangan moral: mikul duwur, mendem jero, mengangkat tinggi martabat para pemimpin, dan menyimpan dalam-dalam segala kekurangan, demi menjaga persatuan.
Dinamika dalam organisasi yang besar bukan sesuatu yang aneh. NU telah berdiri lebih dari satu abad, melewati masa-masa sulit, konflik bangsa, hingga pergulatan internal yang menguji kedewasaan. Perbedaan pandangan adalah tanda bahwa para pengurus berfikir, bahwa roda organisasi bergerak, bahwa amanah sedang diurus dengan sungguh-sungguh. Namun perbedaan cara pandang tidak boleh berubah menjadi sumber keretakan; ia mestinya menjadi ruang untuk pendewasaan.
Sebagian pengurus mungkin melihat persoalan tertentu dengan perspektif yang berbeda. Ada yang fokus pada ketelitian tata kelola, ada yang memprioritaskan percepatan manfaat bagi warga, ada pula yang berhati-hati karena melihat risiko organisasi yang lebih luas. Semua itu wajar. Dan selama berangkat dari niat baik, tidak ada satu pun pihak yang layak dicurigai atau direndahkan.
Dalam tradisi NU, apa pun persoalannya seharusnya selalu diarahkan pada tabayun. Dialog, bukan praduga. Musyawarah, bukan saling menimbang dari kejauhan. Di dalam tabayun itulah segala keruh tersaring, segala salah paham luruh, dan segala niat baik menemukan jalannya. Mungkin langkah-langkah tertentu belum sepenuhnya dipahami oleh bagian lain, mungkin komunikasi tersendat, atau ada tafsir yang belum tersampaikan. Namun semua itu bisa dijernihkan dengan hati yang lapang.
Syuriyah, Tanfidziyah, para kiai, para pengurus semuanya adalah orang-orang yang memikul amanah besar. Mereka mengorbankan waktu, pikiran, dan energi, sedangkan publik menumpukan harapan yang tidak kecil. Maka dari itu, apa pun dinamika yang muncul selayaknya ditempatkan dalam bingkai kasih sayang organisatoris, bukan dalam bingkai saling mengoreksi di ruang terbuka.
NU terlalu besar untuk dihadapkan dengan prasangka. NU lebih kokoh dari sekadar polemik sesaat. Rumah besar ini pernah melalui masa kolonial, revolusi kemerdekaan, pergolakan politik nasional, hingga modernisasi yang menantang. Dan semuanya dapat dilalui karena NU menjunjung marwah pemimpinnya dan memegang teguh prinsip tawadlu’, tasamuh, dan kehormatan internal.
Apa pun yang sedang diperbincangkan hari ini, sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang. Niat baik para pengurus tetaplah lentera utama. Selama semuanya kembali kepada musyawarah yang jernih, kepada adab para ulama, dan kepada kepentingan umat yang lebih besar, maka tidak ada badai yang tidak bisa dilewati bersama.
Dengan semangat mikul duwur, mendem jero, kita berharap semua pihak diberi keikhlasan untuk menahan diri, ketulusan untuk mendengar, dan kebijaksanaan untuk merajut kembali tali persaudaraan. NU adalah warisan para muassis, yang berdiri bukan untuk kepentingan siapa pun, melainkan untuk kemaslahatan umat. (Hadi)
Semoga Allah meridhai setiap langkah kita.
*Pecinta NU












