Ketika Manuskrip Nusantara Berbicara di Panggung Dunia

Oleh: HM Ikhsan EffendiW

akil Ketua Syuriah DPP NAAT

Di sebuah ruang akademik di Sabah, Malaysia, pada pertengahan Februari 2026 Tanggal 10-13, suara NAAT menggema lebih jauh dari sekadar batas geopolitik. Di forum Sidang Meja Bulat Internasional Syekh Jumadil Kubra yang diselenggarakan oleh University Malaysia Sabah (UMS), hadir seorang tokoh yang membawa data, juga ingatan kolektif peradaban: RKH Ilzamuddin Sholeh, Ketua Umum DPP Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT).

Undangan resmi ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengakuan. Dunia akademik Asia Tenggara mengakui bahwa Nusantara memiliki warisan intelektual dan spiritual yang kaya, yang selama ini sering terpinggirkan dalam narasi sejarah global. Sekarang NAAT hadir: menjembatani manuskrip lama, silsilah ulama, dan perjalanan dakwah Islam di Asia Tenggara.

Ketika NAAT memaparkan tentang Sultan Muhammad dan Sultan Ahmad dalam manuskrip Nusantara serta kaitannya dengan silsilah Syekh Jumadil Kubra, sesungguhnya yang sedang dihidupkan adalah jejak panjang transmisi ilmu, dakwah, dan peradaban. Manuskrip Nusantara bukan sekadar catatan masa silam. Ia adalah dokumen peradaban, yang menyimpan kode sejarah tentang bagaimana Islam tumbuh secara damai, kultural, dan berakar di Indonesia.

Syekh Jumadil Kubra bukan sekadar nama besar. Ia adalah simpul genealogis dan spiritual yang menghubungkan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Dari garis inilah kemudian terhubung mata rantai para wali, ulama, dan raja-raja Muslim Nusantara, hingga lahir jaringan dakwah besar yang kita kenal sebagai Walisanga.

Di sinilah keahlian NAAT menemukan relevansinya. Tidak semua orang mampu membaca manuskrip kuno, apalagi menghubungkannya dengan silsilah nasab yang kompleks, lintas wilayah, dan lintas zaman. Butuh disiplin keilmuan, kehati-hatian metodologis, serta integritas akademik yang tinggi. Dan itulah yang membuat dunia akademik memberikan ruang istimewa bagi NAAT.

Pengakuan internasional ini sebetulnya mengandung pesan mendalam: bahwa di Indonesia bukan sekadar penerima Islam, melainkan pusat penting dalam jaringan peradaban Islam global. Selama ini, sejarah Islam sering didominasi oleh narasi Arab-sentris atau Timur Tengah-sentris. Padahal, Asia Tenggara, khususnya Nusantara, memiliki peran unik dalam membangun wajah Islam yang damai, adaptif, dan berkeadaban.

Walisanga adalah bukti paling nyata. Mereka tidak datang dengan pedang, tetapi dengan kebudayaan. Tidak menghapus tradisi, tetapi memurnikannya. Tidak menyingkirkan kearifan lokal, tetapi menanamkan nilai tauhid di dalamnya. Inilah Islam yang tumbuh dari dialog, bukan dominasi. Islam yang membangun peradaban, bukan sekadar kekuasaan.
Melalui NAAT, narasi ini kembali mendapatkan panggung dunia. Di tengah gelombang radikalisme, konflik identitas, dan politisasi agama global, model dakwah Walisanga menjadi oase peradaban. Dunia membutuhkan contoh konkret bagaimana Islam dapat hidup berdampingan, membangun harmoni sosial, dan melahirkan tatanan masyarakat yang inklusif.

Lebih jauh, kehadiran NAAT di forum internasional menandai kebangkitan kembali kesadaran tentang pentingnya nasab dan sanad keilmuan. Dalam tradisi Islam, silsilah bukan sekadar kebanggaan genealogis, tetapi jaminan transmisi nilai, etika, dan otoritas moral. Ketika sanad terputus, maka ilmu kehilangan akarnya, dan agama kehilangan kebijaksanaannya.

NAAT hadir untuk merajut kembali rantai yang nyaris terputus itu. Menghubungkan manuskrip, tradisi lisan, arsip kolonial, dan sumber-sumber Timur Tengah menjadi satu bangunan historiografi yang utuh. Ini bukan kerja mudah. Ini kerja sunyi, panjang, dan membutuhkan ketekunan luar biasa.

Bahwa dunia mengundang NAAT, sejatinya adalah pengakuan terhadap ketekunan itu. Pengakuan bahwa Indonesia yang dahulu kala dikenal dengan nama Nusantara memiliki khazanah ilmu yang layak menjadi rujukan global. Pengakuan bahwa peradaban Islam Asia Tenggara bukan pinggiran, melainkan salah satu pusat penting dalam sejarah Islam dunia.

Di sinilah letak makna strategis kehadiran NAAT di kancah internasional. Ia bukan sekadar membawa nama lembaga atau individu, tetapi membawa martabat peradaban Nusantara. Ia mengingatkan dunia bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang berakar kuat, berjiwa damai, dan berwawasan kosmopolitan.

Maka, ketika NAAT melangkah ke forum global, sesungguhnya yang sedang melangkah adalah warisan Walisanga. Yang berbicara bukan hanya RKH Ilzamuddin Sholeh, tetapi sejarah panjang dakwah, ketulusan para wali, dan kebijaksanaan para ulama Nusantara.

Dan barangkali, di tengah kegaduhan dunia modern, suara manuskrip Jawa, silsilah Syekh Jumadil Kubra, dan hikmah Walisanga inilah yang sedang dinanti: sebagai penawar bagi peradaban yang lelah mencari makna. (Hadi S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *