Pelampung Oranye dan Pelajaran dari Laut Jawa

Oleh: HM. Ikhsan Effendi

JOMBANG |  Kabar Nahdliyin – Ada banyak berita yang lewat di layar ponsel kita. Ada yang membuat marah, ada yang membuat tertawa, ada yang segera kita lupakan. Tetapi kisah Lestari dan Feri, pasangan suami istri asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, dalam tragedi KM Virgo Transport 8, terasa berbeda.

Kapal yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin itu membawa 243 orang. Pada Minggu, 13 September 2026, kapal mengalami masalah di perairan Masalembo, Laut Jawa, sebelum akhirnya terbalik. Cuaca buruk dan gelombang tinggi menjadi dugaan awal, sementara penyebab pasti masih menjadi bagian dari investigasi.

Di tengah tragedi itu, muncul kisah Lestari dan Feri. Mereka dikabarkan bertahan di laut berjam-jam dengan satu pelampung oranye. Kisah tersebut kemudian menyebar dan menyentuh banyak orang.

Saya tidak ingin melihat kisah ini hanya sebagai kisah cinta sepasang suami istri.

Saya warga nahdliyin melihatnya sebagai metafora kehidupan berorganisasi NU, bermasyarakat Indonesia, yang baru saja bermuktamar NU ke 35 di Jombang.

Sebab dalam kehidupan, sebagaimana kapal yang tidak selamanya tenang.

Ada saat kapal keluarga diterjang masalah. Ada saat kapal organisasi diterpa konflik. Ada saat kapal NU diguncang perbedaan kepentingan. Dan ada saat bangsa Indonesia menghadapi gelombang yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Pada saat kapal masih tegak, mudah mengatakan, “Kita bersama.”

Tetapi ketika kapal mulai miring, lampu padam dan air laut mulai masuk ke dek kapal, barulah terlihat siapa yang benar-benar memegang tangan siapa.

Di situlah ada kisah Lestari dan Feri menjadi penting untuk menjadi cermin kehidupan berorganisasi.

Cinta bukan sekadar duduk bersama ketika laut tenang. Cinta adalah bertahan bersama ketika kapal kehilangan keseimbangan.

Pesan ini terasa relevan bagi warga Nahdliyin yang baru saja menyelesaikan Muktamar NU ke-35 di Jombang. Suasana muktamar masih terasa indah di hati, namun ada gelombang besar menerpa kehormatan NU.

Muktamar adalah kapal besar. Penumpangnya ratusan juta umat. Di dalamnya ada kiai, ulama, pengurus, santri, akademisi, politisi, pengusaha, aktivis, dan warga Nahdliyin dari berbagai lapisan.

Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar.

Bahkan konflik dalam organisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Yang harus ditakuti adalah ketika perbedaan membuat kita kehilangan pelampung persaudaraan.

Karena itu, setelah Muktamar usai, pekerjaan terbesar NU bukan lagi memenangkan perdebatan siapa yang paling benar.

Pekerjaan besarnya adalah memastikan kapal besar bernama NU tetap mengapung dan membawa umat menuju pelabuhan yang dicita-citakan.

Pelampung oranye Lestari dan Feri seakan mengingatkan: ketika badai datang, jangan buru-buru mencari sekoci untuk diri sendiri.

Peganglah saudaramu, tolonglah orang orang yang mencintaimu.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kita mengenal ukhuwah. Ada ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Semuanya mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian.

Mungkin inilah pelajaran sederhana dari Laut Jawa untuk Nahdliyin di seluruh Indonesia:

Jangan bertanya siapa yang paling kuat ketika kapal sedang tenang. Tanyakan siapa yang tetap memegang tangan saudaranya ketika kapal mulai miring.

Lestari dan Feri memberi kita sebuah gambar yang sederhana: satu pelampung, dua manusia, dan sepuluh jam perjuangan.

NU mempunyai pelampung yang jauh lebih besar: sanad keilmuan, tradisi pesantren, akhlak ulama, ukhuwah, dan semangat khidmah.

Maka setelah Muktamar ke-35, mari kita kembali memegang pelampung itu.

Bukan untuk saling benci menjatuhkan. Namun untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama mencintai Nahdlotul Ulama’, agar kapal besar NU tetap berlayar untuk Bangsa Indonesia.

Sebab NU bukan organisasi yang tidak pernah mengalami gelombang. NU adalah induk keluarga besar umat yang sudah teruji sejak zaman pra kemerdekaan dan mampu bertahan ketika gelombang datang.

Dan sebagaimana kisah Lestari dan Feri: kalau kapal kehidupan sedang miring, jangan lepaskan tangan orang yang berjalan bersama kita.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang paling dahulu sampai di pelabuhan, tetapi siapa yang tetap bersama ketika badai belum reda. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *