Oleh: H Ikhsan Effendi & Mbah Yaqin
Pengasuh Pondok Hammalatul Qur’an
JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Ada sebuah rasa lega yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Lima hari telah berlalu. Jutaan manusia telah datang dan pulang. Bendera telah diturunkan. Panggung-panggung mulai dibongkar. Jalan-jalan yang beberapa hari penuh dengan kendaraan dan warga Nahdliyin kembali seperti semula.
Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut pulang.
Kenangan.
Kenangan tentang Tambakberas yang selama lima hari menjadi rumah besar Nahdlatul Ulama.
Alhamdulillah, Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang berlangsung 27–31 Agustus 2026, telah selesai dengan lancar. Bahkan Presiden Prabowo Subianto yang membuka Muktamar pada 27 Agustus kembali hadir untuk menutupnya pada 31 Agustus. Sebuah catatan sejarah tersendiri karena untuk pertama kalinya Muktamar NU dibuka sekaligus ditutup oleh Presiden Republik Indonesia.
Namun, jangan sampai kita hanya mengingat Muktamar dari siapa yang terpilih.
Jangan pula hanya mengingatnya dari riuhnya persaingan.
Sebab Muktamar Tambakberas sesungguhnya meninggalkan cerita yang jauh lebih luas.
Tambakberas bukan hanya tempat bersidang
Di kompleks Bahrul Ulum, Muktamar seperti sebuah kota kecil.
Ada ruang sidang. Ada media center. Ada dapur umum. Ada pos kesehatan. Ada penginapan. Ada parkir. Ada bazar dan expo. Ada pengamanan. Ada tempat ibadah. Bahkan tersedia berbagai titik layanan yang membuat jutaan tamu dapat menjalani Muktamar dengan nyaman.
Di balik panggung utama, ada manusia-manusia yang bekerja dalam diam.
Panitia.
Banser.
Pagar Nusa.
TNI-Polri.
Relawan.
Petugas kesehatan.
Pengemudi.
Pedagang kecil.
Warga sekitar.
Santri.
Relawan
Mereka mungkin tidak masuk berita utama.
Tetapi tanpa mereka, Muktamar tidak akan menjadi Muktamar.
Mereka adalah tangan-tangan yang membuat sejarah berjalan.
Muktamar yang tidak hanya bicara politik
Yang menarik, kehidupan Muktamar tidak berhenti di ruang sidang.
Ada gerakan literasi. Ada pameran manuskrip klasik. Komunitas Nahdlatut Turots bahkan menghadirkan sekitar 2.000 naskah karya ulama terdahulu, sebagian telah didigitalisasi. Ada pula peluncuran dan bedah buku yang menghidupkan tradisi intelektual Nahdliyin.
Ada pula kepedulian sosial.
Para guru ngaji mendapatkan kacamata gratis melalui kolaborasi NU Care-LAZISNU dan IROPIN. Bahkan disebutkan sekitar 1.000 kacamata dibagikan untuk membantu kesehatan penglihatan para guru ngaji.
Bukankah ini wajah NU yang sesungguhnya?
NU bukan hanya tentang siapa menjadi Rais Aam.
NU bukan hanya tentang siapa menjadi Ketua Umum.
NU adalah tentang guru ngaji yang matanya harus tetap terang agar bisa membaca Al-Qur’an.
NU adalah tentang kitab kuning yang harus diselamatkan.
NU adalah tentang santri yang harus mendapatkan ruang.
NU adalah tentang ilmu yang harus diwariskan.
NU adalah tentang manusia yang mengabdi.
Ada yang datang dengan naik sepeda onthel dari Palembang. Namanya Ndan Arif, anggota banser Sumatra. Dengan menempuh waktu berhari hari untuk sampai di Tambakberas Jombang.
Bahkan ada seorang guru yang datang dengan berlari
Ada cerita kecil yang mungkin lebih menyentuh daripada pidato-pidato besar.
Seorang guru dari Bojonegoro, Ahmad Zaki Febiansyah, datang menghadiri Muktamar dengan berlari selama sekitar lima jam.
Kita boleh bertanya:
Mengapa harus berlari?
Tetapi mungkin jawabannya sederhana:
Karena ada kerinduan.
Kerinduan seorang Nahdliyin untuk menjadi bagian dari sejarah.
Ia mungkin tidak punya kendaraan besar.
Tidak punya panggung.
Tidak punya jabatan.
Tetapi ia mempunyai kaki dan kecintaan.
Dan ia ikut datang dengan berlari.
Bagi kami, cerita seperti ini justru merupakan salah satu permata Muktamar Tambakberas.
Jombang menjadi tuan rumah dengan hati
Muktamar bukan hanya pekerjaan panitia.
Ia menjadi pekerjaan bersama.
Masyarakat Jombang, pesantren, warga NU, pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, pedagang dan berbagai elemen masyarakat bergotong royong menyambut tamu dari berbagai penjuru Nusantara.
Jombang tidak sekadar menyediakan tempat.
Jombang memberikan keramahan.
Dan Tambakberas tidak sekadar menyediakan halaman.
Tambakberas memberikan ruh pesantren.
Di sinilah letak keindahan Muktamar ke-35.
Ia berlangsung di pesantren.
Bukan di gedung hotel mewah.
Bukan di pusat konvensi.
Tetapi di tempat di mana selama puluhan bahkan ratusan tahun santri belajar mengaji, mencium tangan kiai, membaca kitab, berdoa, dan hidup sederhana.
Maka suasana Muktamar pun terasa berbeda.
Ada hiruk-pikuk organisasi, tetapi di bawahnya tetap terdengar suara santri.
Ada perdebatan, tetapi di sela-selanya ada salam.
Ada kompetisi, tetapi setelah keputusan diambil harus ada tangan yang berjabat.
Inilah NU.
Yang berbeda tidak harus bermusuhan
Muktamar adalah tempat perbedaan bertemu.
Rais Aam berbeda pandangan.
Muktamirin berbeda pilihan.
Cabang dan wilayah membawa aspirasi masing-masing.
Tetapi setelah palu diketukkan, semuanya harus kembali kepada satu rumah:
Nahdlatul Ulama.
Dan itulah kedewasaan organisasi.
Muktamar ke-35 akhirnya menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.
Selamat kepada keduanya.
Amanah ini bukan hadiah.
Ini adalah beban sejarah.
Karena setelah Muktamar selesai, pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai.
Mari kita simpan yang indah
Kami, ingin mengucapkan:
Alhamdulillah.
Muktamar NU ke-35 telah selesai.
Terima kasih kepada para kiai.
Terima kasih kepada para muktamirin.
Terima kasih kepada panitia.
Terimakasih kepada relawan
Terima kasih kepada Banser, Pagar Nusa, TNI-Polri dan seluruh petugas keamanan.
Terimakasih kepada Wartawan
Terimakaaih kepada media
Terima kasih kepada para relawan.
Terima kasih kepada tenaga kesehatan.
Terima kasih kepada para santri.
Terima kasih kepada pedagang dan masyarakat Jombang.
Terima kasih kepada seluruh warga Nahdliyin yang datang dengan doa, tenaga dan cinta.
Dan terima kasih kepada Tambakberas.
Engkau telah menjadi saksi.
Lima hari mungkin singkat.
Tetapi sejarah tidak pernah mengukur usia kenangan dengan jumlah hari.
Ada kenangan yang berlangsung lima tahun.
Ada yang lima puluh tahun.
Dan ada kenangan yang hidup lintas generasi.
Muktamar ke-35 semoga menjadi salah satunya.
Kelak ketika anak cucu kita bertanya:
“Bagaimana Muktamar NU ke-35 di Jombang?”
Kita ingin menjawab:
“Itulah Muktamar ketika Nahdliyin dari seluruh Nusantara dan Dunia telah datang ke Tambakberas. Mereka bermusyawarah, berbeda pendapat, saling menyapa, membaca kitab, menulis buku, melayani guru ngaji, menjaga keamanan, memasak untuk tamu, dan akhirnya pulang membawa satu pesan: NU harus tetap menjadi rumah bersama.”
Dan mungkin kelak, ketika suasana Tambakberas sudah kembali sunyi, kita akan teringat kenangan keindahan kebersamaan Nahdliyin.
Dari Tambakberas, Jombang.
Dengan hati yang lega.
Dengan rasa syukur.
Dengan doa.
Alhamdulillah, Muktamar NU ke-35 telah selesai dengan lancar.
Semoga Allah menerima seluruh khidmah para kiai, panitia, muktamirin, relawan dan seluruh Nahdliyin sebagai amal jariyah.
Tambakberas telah menjadi sejarah.
Kini saatnya kita menjadikannya teladan.












