Tambakberas Membaca Lampung

Drs H M Ikhsan Effendi

Oleh: H.Ikhsan Effendi

Muktamar NU ke-35 di Tambakberas ternyata bukan hanya membaca masa depan.

Ia juga membaca masa lalu.
Terutama Lampung.

Apa yang terjadi di Muktamar sebelumnya rupanya tidak hilang begitu saja. Cara bermainnya masih diingat. Polanya masih dikenali. Bahkan mungkin sudah dipelajari.

Lampung telah menjadi semacam buku pelajaran.

Tambakberas membacanya.

Karena itu, permainan yang dulu terasa mengejutkan kini tidak lagi terlalu mengejutkan.

Jemput-muktamirin?
Sudah terbaca.

Karantina?
Sudah diantisipasi.

Pengumpulan suara?
Sudah dihitung.

Paket-paket calon?
Sudah dicium sejak sebelum masuk arena.

Masalahnya, kalau semua sudah terbaca, pemain harus mencari permainan baru.

Di sinilah Muktamar Tambakberas menjadi menarik.

Ada perkembangan yang kelihatannya sederhana, tetapi sesungguhnya bisa mengubah peta Rais Aam secara drastis.

Muncul wacana: calon Rais Aam harus mampu mengarang kitab kuning.

Bukan sekadar membaca kitab kuning.
Bukan sekadar mengajar kitab kuning.
Tetapi mengarang, sebuah karya tulis.

Ini syarat yang sangat spesifik.

Kalau benar-benar dijadikan persyaratan formal, banyak nama harus dihitung ulang.

Termasuk Kiai Miftakhul Akhyar.

Beliau ulama besar. Itu tidak perlu diperdebatkan.

Tetapi persyaratan adalah persyaratan.

Kalau pintunya dibuat lebih sempit, siapa pun harus melewati pintu yang sama. Nampaknya kiai Nurul Huda atau kiai Said Aqil Siroj yang berpeluang.

Di sinilah politik muktamar menjadi menarik.

Sebelumnya sebagian calon ketua umum juga tampak nyaman bila berpasangan dengan Kiai Miftah.

Tetapi sekarang situasinya berubah.

Kalau posisi Rais Aam belum pasti, calon ketum memasangkan diri dengan calon Rais Aam tertentu menjadi berisiko.

Maka para calon ketua umum mulai canggung.
Tidak lagi nyaman berjalan berpasangan.
Mereka mulai berjalan sendiri-sendiri.

Mencari dukungan sendiri.
Menghitung suara sendiri.
Meyakinkan muktamirin sendiri.

Ini justru membuat pertarungan tanfidz semakin liar.

Dan semakin menarik.

Sebab kalau tidak ada pasangan tetap, suara bisa bergerak ke mana-mana.

Hari ini mendukung A.
Besok bisa berubah ke B.
Bukan karena pengkhianatan.

Tetapi karena politik muktamar memang bukan kontrak jual beli suara.

Yang menentukan adalah saat keputusan benar-benar diambil.

Tambakberas tampaknya sedang belajar dari Lampung satu hal penting:

jangan menganggap suara yang sudah didekati sebagai suara yang sudah dimiliki.

Muktamirin bukan barang bawaan.
Bukan koper.

Bukan penumpang yang setelah dijemput otomatis menjadi milik pengemudi.

Mereka punya akal.
Punya hati.
Punya pilihan.

Dan NU mempunyai tradisi panjang dalam menjaga independensi forum tertinggi organisasinya.

Itulah sebabnya semakin keras orang mencoba mengatur hasil, semakin besar pula kemungkinan muncul reaksi balik.

Muktamar bisa dirancang.

Tetapi hasil muktamar tidak selalu bisa dirancang.

Lampung sudah memberikan pelajaran.
Cipasung memberikan contoh.

Tambakberas sekarang tinggal memilih:

apakah menjadi pengulangan sejarah,
atau menjadi koreksi terhadap sejarah.

Yang jelas, Tambakberas bukan Lampung.

Para pemainnya mungkin sama-sama lihai.
Cara pendekatannya mungkin sama.

Tetapi muktamirin sekarang sudah lebih tahu.

Mereka sudah melihat bagaimana permainan dilakukan.

Mereka sudah belajar membaca gerakan.

Dan yang paling berbahaya bagi para pemain politik adalah ketika yang dimainkan ternyata sudah dibaca sebelum permainan dimulai.

Maka pertanyaan terbesar Muktamar Tambakberas bukan:

Siapa yang paling kuat?

Melainkan:

Siapa yang masih dipercaya ketika semua permainan sudah terbaca?

Di NU, itu pertanyaan yang jauh lebih menentukan.

Sebab pada akhirnya, Rais Aam bukan sekadar hasil kalkulasi suara.

Ketua umum juga bukan sekadar hasil lobi.

Keduanya harus lahir dari sesuatu yang lebih mahal:

kepercayaan.

Dan kepercayaan tidak bisa dikarantina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *