Oleh: Ikhsan Effendi
JOMBANG | KabarNahdliyin.com – Catatan tentang Ndan Arif, kader NU yang mengayuh cinta dari Sumatera Selatan ke Jombang
Namanya Maskhun Arif Hidayat. Kawan-kawannya memanggilnya Ndan Arif.
Ia datang dari Sumatera Selatan menuju Jombang. Bukan naik pesawat. Bukan pula dengan kendaraan mewah.
Ia mengayuh sepeda onthel.
Wajahnya sudah dipenuhi kerutan. Tetapi kedua kakinya masih kuat menekan pedal. Kilometer demi kilometer dilalui. Panas, hujan, lelah, dan jalan panjang tidak membuatnya berhenti.
Ia menuju Tambakberas, tempat Muktamar NU ke-35 digelar.
Apa yang sebenarnya dicari Ndan Arif?
Bukan jabatan.
Bukan kursi.
Bukan posisi dalam kepengurusan.
Ia datang untuk bertabarruk, mencari keberkahan dari para alim ulama.
Di situlah kisah sederhana ini tiba-tiba menjadi sangat filosofis.
Sebab NU hari ini sedang berada di persimpangan antara cinta dan kekuasaan.
Di tingkat elite, NU bisa terlihat sebagai arena perebutan pengaruh. Nama-nama besar bermunculan. Strategi disusun. Dukungan dihitung. Arah organisasi diperdebatkan.
Tetapi di bawah sana, di akar rumput, ada Ndan Arif.
Ia tidak menghitung berapa suara yang dimilikinya.
Ia hanya menghitung berapa kilometer yang harus ditempuh untuk sampai ke Jombang.
Elite mungkin menghitung suara. Akar rumput menghitung jarak.
Elite mungkin berbicara tentang posisi.
Kader seperti Ndan Arif berbicara dengan pedal sepedanya.
Inilah ironi sekaligus keindahan NU.
Organisasi sebesar NU tidak hanya hidup di ruang sidang, hotel, kantor, atau forum-forum elite. NU hidup di langgar kecil, pesantren, madrasah, rumah-rumah warga, dan hati jutaan nahdliyin yang mungkin tidak pernah masuk dalam struktur organisasi.
Mereka tidak mengenal politik tingkat tinggi.
Tetapi mereka mengenal barakah.
Mereka mungkin tidak hafal siapa yang sedang bertarung mendapatkan posisi.
Tetapi mereka hafal nama kiai yang mereka hormati.
Mereka mungkin tidak memahami seluruh dinamika elite.
Tetapi mereka tahu satu hal:
NU adalah rumah mereka.
Karena itu, jangan sampai NU menjadi organisasi yang besar secara struktur tetapi kecil dalam rasa.
Jangan sampai kursi lebih berharga daripada persaudaraan.
Jangan sampai kemenangan dalam Muktamar justru melahirkan kekalahan bagi ukhuwah.
Sebab pada akhirnya, siapa pun yang terpilih akan menjadi pengurus NU.
Tetapi yang menjaga NU tetap hidup adalah mereka yang seperti Ndan Arif: kader akar rumput yang mencintai tanpa meminta balasan.
Sepeda ontelnya mungkin tua.
Tetapi cintanya kepada NU masih muda.
Kerutan di wajahnya mungkin bertambah.
Tetapi harapannya kepada para ulama tidak pernah tua.
Dan mungkin, inilah pesan paling penting dari perjalanan panjang seorang kader sederhana:
NU tidak akan besar karena banyak orang berebut menjadi pemimpinnya. NU akan besar karena semakin banyak orang ikhlas mencintainya.
Maka kepada para pemegang mandat Muktamar, dengarkanlah suara sepeda itu.
Di balik bunyi rantainya, ada pesan dari jutaan nahdliyin:
Jangan rebut NU untuk kepentingan diri sendiri. Rawatlah NU sebagai amanah bagi generasi.
Sebab Ndan Arif telah menunjukkan sesuatu yang kadang kita lupakan:
Jarak antara Sumatera Selatan dan Jombang bisa ditempuh dengan sepeda. Tetapi jarak antara cinta dan kekuasaan hanya bisa ditempuh dengan keikhlasan.












