JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Ada peristiwa yang mungkin dianggap biasa. Hanya sebuah doa yang dipanjatkan di akhir acara silaturahmi pengasuh dan wali santri di Tebuireng. Tidak ada deklarasi besar. Tidak ada panggung politik. Tidak ada tepuk tangan yang menggelegar.
Namun, bagi warga Nahdlatul Ulama, doa adalah peristiwa yang sangat luar biasa.
Ketika Ketua PCNU Jombang, KH Fahmi Amrullah, cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari memimpin doa setelah KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) memperoleh mandat dari PWNU Jawa Timur untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35, suasana itu seolah mengingatkan bahwa perjalanan NU tidak pernah hanya ditentukan oleh hitung-hitungan politik organisasi.
Ada dimensi lain yang selalu menyertainya: dimensi spiritual.
Ucapan Gus Fahmi yang singkat, “Semoga menjadi qobul,” terasa sederhana. Tetapi justru di situlah kedalamannya. Yang dimohonkan bukan kemenangan. Bukan jabatan. Melainkan qobul diterima oleh Allah SWT.
Dalam tradisi pesantren, qobul selalu lebih penting daripada sekadar berhasil. Sebab keberhasilan adalah ukuran manusia, sedangkan qobul adalah ukuran langit.
Menarik pula mencermati proses yang melatarbelakangi pencalonan Gus Kikin. Beliau tidak tampil mengajukan diri. Ia menerima amanat setelah dukungan dari 45 PCNU se-Jawa Timur mengerucut menjadi sebuah mandat yang disampaikan PWNU Jawa Timur. Tradisi penugasan semacam ini memiliki akar panjang dalam kultur Nahdlatul Ulama: kepemimpinan idealnya lahir dari amanah, bukan ambisi.
Tentu, Muktamar tetaplah ruang kompetisi. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Setiap calon memiliki ikhtiar, jaringan, dan pendukungnya masing-masing. Semua itu merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat.
Namun, doa yang dipanjatkan di Tebuireng seolah mengingatkan bahwa siapa pun yang kelak memimpin PBNU sesungguhnya sedang memikul warisan yang sangat besar: warisan para ulama yang membangun NU dengan ilmu, keikhlasan, dan pengabdian, bukan dengan permusuhan.
Di pesantren, doa sering kali lebih nyaring daripada pidato. Ia tidak memprovokasi, tetapi menguatkan. Tidak membelah, tetapi menyatukan. Tidak menghakimi, tetapi memohonkan jalan terbaik.
Mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan dari Tebuireng. Bahwa menjelang Muktamar ke-35, NU membutuhkan lebih banyak doa daripada gaduh. Lebih banyak munajat daripada saling menjatuhkan.
Karena pada akhirnya, Ketua Umum PBNU memang dipilih oleh para muktamirin. Tetapi keberkahan kepemimpinan hanya akan lahir jika ikhtiar organisasi berjalan beriringan dengan ridha Allah SWT.
Semoga doa itu benar-benar menjadi qobul. Bukan hanya bagi seorang calon, melainkan bagi seluruh perjalanan Nahdlatul Ulama, agar tetap menjadi rumah besar yang teduh, mempersatukan umat, dan menjaga Indonesia dengan hikmah para ulama.











