Oleh H. Muhtazuddin, SH (Ketua JIK NAH)
JOMBANG, KN – Tulisan bersambung berjudul “Belajar Memahami Khittah NU, ditengah kemelut PBNU” ini sengaja kami unggah di Web Kabar Nahdliyin.com. tidak lain coret ini adalah satu bentuk keresahan seorang warga Nahdliyin saat ini melihat kemelut yang terjadi di PBNU.
Bagi JIK NAH melihat NU bukan persoalan Ketua Umum (Gus Yahya) atau Rois Aam (yang mulia KH. Miftachul Akhyar), melainkan persoalan keumatan, persoalan bagaimana PBNU membimbing jutaan Jamaah, persoalan bagaimana PBNU memberi contoh Kader NU dari Pondok Pesantren maupun dari komunitas lain seperti JIK NAH, Bagaimana PBNU memahamkan visi misi NU yang termaktub pada Qonunasasi Nahdlatul Ulama dan Khittah NU 1926.
Bukankah organisasi NU bukan milik individu atau kelompok. Tetapi secara umum hujjah NU telah menjadi pijakan muamalah sehari hari bagi warga NU, rasanya sangat sempit jika NU dimaknai bagaimana nasib Ketua Umum dan bagimana manuver Rois Aam. Lalu apa NU itu, NU atau Nahdlatul Ulama berkumpulnya para pewaris Nabi Muhamamd SAW yang sama sekali tidak butuh urusan dunia (harta dan kekuasaan) apalagi tambang.
Para Ulama tidak butuh kekuasaan, masih terngiang diteliga bagaimana wejangan para ulama, para guru, bahwa NU itu diatasnya negara, karena NU memiliki tugas sebagai penyejuk, NU menolak keserakahan, NU tidak butuh tambang, karena NU juga bukan perusahaan. NU adalah penjaga bangsa juga penyelamat umat jangan sampai tersesat jalan.
Lalu kenapa pengurus BPNU sekarang ini? Apakah sudah lupa tugas pokoh dan fungsinya NU sebagai pembimbing umat, hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang sesungguhnya apa yang sedang terjadi di PBNU kini.
Dalam perjuangan JIK NAH secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga langkah, ada namanya Jogo Roso, Jogo Roto dan Jogo Rogo, jika disambungkan dengan kemelut PBNU sekarang. Rasanya sulit diterima akal, apakah mungkin Pengurus Besar PBNU kini sudah kehilangan rasa, perasaan dan hati? sekali lagi hanya Allah SWT yang maha mengetahui. Dan apa mungkin kehilangan Jogo Roto atau keseimbangan, sehingga mungkin tidak mencintai organisasi yang dipimpinnya sendiri. Dan terakhir mungkinkah Pengurus PBNU kini kehilangan Jogo Rogo sehingga puluhan dan ratusan pengurus Cabang NU sampai mengultimatum PBNUnya sendiri, ini bukti PBNU sekarang struktur formalnya kacau balau manhaj jamiyahnya.
Di NU ada yang namanya Khittah NU 1926. Komunitas JIK NAH ingin terus mempelajari apa itu Khittah NU 26, apa visi dan misi yang dibawanya. Tetapi ketika melihat manuver Pengurus PBNU rasanya semua menjadi hambar dan menyedihkan bagi komunitas JIK NAH, organisasi sebenar NU berkumpulnya para Ulama ternyata pengurusnya bermain main. Ada apa ini?, marwah NU benar benar terkoyak. JIK NAH hanya bisa berdoa dan beristighfar mohon ampunan kepada Allah SWT semoga badai yang menerpa NU segera berlalu.
Benarkah di tubuh NU sekarang ada penghianat?, pertanyaan seperti ini juga terlontar di Majelis JIK NAH. Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, komunitas JIK NAH tidak jarang membahas itu, kurang apa organisasi NU memberi keramat pengurusnya, warganya samai’na wa atho’na. Kok sekarang konon masih rebutan tambang, semoga tidak.
Satu contoh dapat kita lihat kegiatan pengajian pengajian tingkat ranting semua mandiri, sama sekali tidak merepotkan penggede PBNU. Jika sekarang di PBNU terjadi saling pecat memecat bukan kah memalukan. Semoga Para Kiai sepuh dan Para masyayikh NU terus berkenan menggawal proses islah hingga terwujud pelaksanaan Muktamar NU kembali sejuk sesuai harapan warga NU.
JIK NAH terus menerus berusaha agar selalu mendapat bimbingan Muasis NU dan para Masyayikh NU. Para Guru dan Ulama NU yang selalu menyebarkan nilai ketulusan kesucian. Satu misal seperti apa yang pernah disampaikan mendiang Kiai Hasyim Muzadi, beliau sering mewanti wanti jangan sampai manhaj Nahdliyah rusak, supaya tidak rusak Khittah NU harus terus dihidupkan, kata Kiai Hasyim Muzadi kala itu. Intinya bagaimana beliau sangat hati hati menjaga komitmen dalam mengurus NU. Tanpa mengurangi rasa hormat, kita tidak pernah mendengar bagaimana Pimpinan PBNU sekarang menjaga marwah NU, istilah Gus Kiki, sekarang ini NU malah turun derajat, karena pergeseran orientasinya lebih dekat kepada penguasa dari pada yang maha kuasa. Tentu ini sangat memprihatinkan kita samua. Karena itu JIK NAH mengajak semua warga Nahdliyin, khususnya yang tergabung dalam komunitas JIK NAH agar terus ikut menghidupkan kembali semangat KHittah NU 1926. Semoga kita mampu dan selalu diberi perlindungan. (bagian pertama)






