Belajar memahami Khittah NU, ditengah kemelut PBNU (2) selesai

Napak Tilas Tongkat Isyaroh dan Tasbih Dzurriyah Muasis NU, laksana hapus kemelut di PBNU

Oleh : H. Muhtazuddin, SH, Ketua JIK NAH

Harlah 1 Abad NU, Ribuan Jamaah Penderek Napak Tilas Tongkat Isyaroh dan Tasbih Muassis NU, Jejak Spiritual Tingkat Tinggi Ulama Nusantara diwarnai dengan sebuah peristiwa sakral dan penuh makna spiritual. Melalui kegiatan Napak Tilas Tongkat Isyaroh dan Tasbih Muassis NU. Puluhan ribu jamaah penderek—terdiri dari jajaran pengurus struktural NU, santri, badan otonom (banom), serta masyarakat umum—mengikuti perjalanan kegiatan spiritual itu dari mulai Bangkalan, Madura, dan berbagai wilayah itu, sebagian transit di maqbaroh al maghfurllah mBah KH. Abdul Wahab Chasbullah, Tambakberas. Pada Sabtu (3/1/2026) sore waktu ashar berbus-bus mereka tiba.

Pada Minggu pagi sekitar Jam 09.00 WIB mereka pun melaksanakan apel persiapan untuk kegiatan Napak Tilas, laksana pasukan tempur siap terjun di medan perang begitu semangat para Jamaah terlihat, luar biasa semangat para jamaah Napak Tilas, mereka laksana pesukan tempur yang siap terjun di medan perang, para jamaah yang hadir di napak tilas juga laksana memberi pesan selesainya kemelut di PBNU.

Kegiatan ini memang terasa tidak sekadar menjadi perjalanan fisik lintas wilayah, melainkan juga bisa disebut sebuah riyadlah batin, tujuannya untuk merawat nilai keikhlasan, militansi, dan istiqamah dalam berkhidmah kepada jam’iyah Nahdlatul Ulama—organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang diwariskan para ulama kharismatik Nusantara.

Panitia teknis telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung bagi peserta, mulai dari souvenir kaos napak tilas, kalender, tumbler, hingga sertifikat sebagai penanda sejarah bagi para penderek yang ikut mengukir momentum spiritual Harlah 1 Abad NU Tahun 2026 di Jombang yang kerap di sebut JOMBANG IBU KOTA NAHDLIYIN oleh sebagaian Komunitas warga NU.

Selain itu, para jamaah juga mendapatkan layanan konsumsi gratis, transportasi, pengamanan, serta pemeriksaan kesehatan selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Pantauan di lapangan, peserta napak tilas datang dari berbagai daerah di Tanah Air, di antaranya Samarinda, Balikpapan, Bontang, Paser, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera dan Sulawesi.

Rute Napak Tilas bisa juga disebut Simbol Koneksi Guru dan Murid. Karena Napak tilas ini memiliki makna filosofis yang mendalam, menegaskan ikatan spiritual antara Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai guru dan KH. Hasyim Asy’ari sebagai murid, yang kelak menjadi pendiri NU.

Etape Pertama, peserta berjalan kaki dari titik pemberangkatan di Bangkalan menuju Pelabuhan Penyeberangan Kamal.
Etape Kedua, perjalanan dilanjutkan menggunakan moda transportasi kereta api menuju Kabupaten Jombang.

Etape Puncak, ribuan jamaah dari Madura, Jombang dan berbagai daearah itu berkumpul di Alun-alun Jombang Minggu malam pukul 18.00 WIB untuk memulai jalan kaki bersama sejauh 6 kilometer menuju Pondok Pesantren Tebuireng atau menuju maqbaroh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang,

Pelepasan peserta dilakukan secara resmi oleh Bupati Jombang H. Warsubi bersama sejumlah pejabat terkait, sekitar pukul 20.00 WIB, setelah seluruh peserta berkumpul di Alun-alun Jombang.

Sudah diduga sebelumnya sejumlah peserta mengaku terharu dan penuh semangat mengikuti napak tilas tersebut. dari Bangkalan misalnya merasa bangga dapat mengikut napak tilas ini sebagai momentum bersejarah untuk menjaga ruh pendirian NU agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Peserta dari Jombang sendiri diperkirakan mencapai ribuan orang, melibatkan pengurus NU, banom, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat umum. apresiasi tinggi dan dukungan penuh atas terselenggaranya napak tilas spiritual dari berbagai pihak.

Sudah pasti JIK NAH juga ikut mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan napak tilas dalam rangka Harlah 1 Abad NU, Isyaroh dan Tasbih Muassis NU Tahun 2026 yang dipusatkan di Pondok Pesantren Tebuireng.

Semoga ini juga menjadi bagian momen bersejarah dalam merawat dan menjaga tradisi luhur para ulama NU, serta dapat menumbuhkan semangat baru guna terus menerus belajar tentang Khittah NU 1926, sebagai salah satu bentuk berkhidmad JIK NAH. (Muh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *