Oleh: Ikhsan Effendi
JOMBANG | KabarNahdliyin.Com – Ada dua forum. Jarak waktunya hanya sehari. Tetapi keduanya mengirimkan pesan yang hampir bertemu pada satu titik: Nahdlatul Ulama tidak boleh kehilangan dirinya.
Forum pertama adalah Ijtima’ Ulama yang digelar DPP PKB di Jakarta. Salah satu pesannya sederhana tetapi penting: Muktamar NU ke-35 di Jombang jangan sampai menjadi arena transaksional. Muktamar harus kembali menjadi ruang memperbaiki rumah besar PBNU, bukan sekadar kompetisi merebut jabatan.
Sehari berikutnya, dalam sebuah forum diskusi di Jakarta Selatan, Hasto Kristiyanto justru menyampaikan pandangan yang lebih filosofis. Ia mengingatkan bahwa NU terlalu besar untuk ditarik ke dalam politik praktis. NU harus dijaga dari kooptasi kepentingan sesaat karena NU telah menjadi bagian dari DNA Indonesia.
Menariknya, dua forum yang lahir dari latar politik berbeda justru bertemu pada satu kesimpulan: NU harus dijaga.
Mengapa?
Karena hakikat NU memang tidak pernah hanya menjadi milik satu golongan.
NU lahir dari rahim pesantren, tetapi tumbuh bersama republik. NU berakar kuat di desa-desa, namun dahannya menaungi kota-kota. NU berbahasa Indonesia, tetapi jiwanya berbicara kepada dunia.
Sejarah telah mencatatnya.
Ketika bangsa ini berada di ujung ancaman kolonialisme, para ulama NU melahirkan Resolusi Jihad. Fatwa itu bukan sekadar keputusan keagamaan. Ia menjadi energi patriotisme yang menggerakkan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Dari sanalah lahir semangat yang kemudian dikenang dalam peristiwa heroik 10 November.
NU sejak awal tidak hanya menjaga agama. NU ikut menjaga Indonesia.
Karena itu, ukuran kebesaran NU tidak dapat dihitung dari jumlah kursi, jabatan, atau kekuatan politiknya. Kebesaran NU terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara agama, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Itulah sebabnya Muktamar bukan sekadar memilih ketua umum. Muktamar adalah momentum memperbarui arah peradaban. Di sana para ulama, kiai, dan warga Nahdliyin sedang menentukan bagaimana NU memasuki abad keduanya.
Abad kedua NU tidak cukup hanya membicarakan struktur organisasi. Yang jauh lebih penting adalah membangun visi. Dunia berubah sangat cepat. Kecerdasan buatan, ekonomi digital, krisis iklim, hingga perubahan geopolitik menuntut NU menghadirkan jawaban baru tanpa kehilangan akar tradisinya.
Di sinilah NU harus tetap membumi sekaligus futuristik.
Membumi karena tetap berpijak pada tradisi pesantren, akhlak, dan khidmah kepada umat.
Visioner karena mampu membaca perubahan zaman.
Futuristik karena berani menyiapkan generasi yang akan memimpin Indonesia bahkan dunia beberapa dekade mendatang.
NU bukan organisasi yang hidup untuk satu periode kepengurusan. NU adalah mata rantai sanad peradaban yang telah melampaui satu abad perjalanan.
Karena itu, siapa pun yang kelak dipercaya memimpin PBNU sesungguhnya bukan sedang menerima kemenangan politik. Ia sedang menerima amanah sejarah.
NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi arena transaksi.
NU terlalu mulia untuk dijadikan kendaraan kepentingan sesaat.
NU adalah milik umat, milik Indonesia, dan melalui nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang diperjuangkannya, NU juga memiliki tanggung jawab moral bagi peradaban dunia.
Maka, menjaga NU sesungguhnya adalah menjaga Indonesia. Dan menjaga Indonesia adalah ikhtiar menjaga harapan dunia akan hadirnya Islam yang damai, moderat, dan berkeadaban. (Redaksi)












