
JOMBANG, KN – Kehadiran Wapres Gibran Rakabuming Raka, yang akrab disapa Mas Gibran ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Minggu 10 Mei 2026 terkesan mendadak. Yang pasti menurut Kiai Hasib Wahab, Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum undangan ke Wapres disampaikan langsung ke Istana Wapres jauh hari dari pelaksanaan Haul, “Ya memang terkesan mendadak tetapi undangan saya sampaikan sendiri langsung ke Istana Wapres jauh hari sebelum acara haul, Alhamdulillah beliau bisa hadir,” kata Kiai Hasib di nDalemnya pada Sabtu 9 Mei 2026 Tambakberas Jombang.
Ditambahkan, memang kabar bahwa Wapres bisa hadir itu sekitar h-3 dari pelaksanaan, “Kesannya memang mendadak tetapi, kita maklum karena padatnya agenda kegiatan Mas Wapres,” tambah Gus Hasib lagi.
Menurut informasi di PP Tambakberas, Wapres akan melakukan kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Menara Bahrul Ulum setelah itu Ziarah Makam mBah Kiai Wahab Khasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. “Kegiatan kunjungan Wapres memang seperti itu, Bahrul Ulum akan membangun Menara Mas Wapres yang mengawali peletakan batu pertama,” kata Putra Pendiri NU ini.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Hasib juga sempat membahas NU yang baru akan menggelar Muktamar. “Kalau saya ditanya siapa yang cocok menjadi Ketua PBNU, pertama syaratnya, harus bisa baca kitab kuning, kalau perlu dites,” katanya mimik serius.
Ketika ditanya, Gus Hasib sendiri kitab yang dibaca, dengan cepat menjawab, “Kalau saya kitab putih,” katanya tertawa lepas. Yang kedua, beliau juga usul Pengurus PBNU tidak ada Ibu Ibu atau perempuan, “Wadah untuk Ibu ibu sudah ada di Muslimat dan Fatayat,” katanya. Ketiga, Ketua PBNU nanti harus bisa membawa dan menguatkan Karakter dan Budaya NU, “Ini juga penting, karena NU memiliki karakter dan budaya sendiri, Ketua PBNU nanti harus mampu mengalih karakter dan budaya NU, sudah semestinya Ketua memiliki karakter dan budaya NU,” katanya lagi.
Terakhir lanjut Gus Hasib, di NU itu sederhana, islam yang berbudaya Ahlussunnah wal jamaah an-Nahdliyah. Meneruskan perjuangan wali songgo. Dan NU tidak suka dengan perang, kecuali NU perangi, dan lagi di NU itu tidak ada oposisi dan radikal,” (mu)






