BER-NU ALA PROFESOR (3) Habis H. Basaroddin : Profesor tidak tahu dan tidak mau tahu Muktamar NU ke 34

oleh -923 views

JOMBANG, KN – Mengejutkan pernyataan Koordinator Profesor (Perotholan Pengurus Ansor) Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur, yang menyatakan tidak tahu dan tidak mau tahu Muktamar NU ke 34 di Bandar Lampung, padahal tidak jarang warga NU selalu ingin tahu perkembangan apa yang terjadi pada pra dan saat Mukmatar NU ke 34 itu digelar, “Saya mohon maaf terkait Muktamar NU ke 34, saya tidak tahu dan tidak mau tahu soal itu, karena Muktamar NU ke 34 kali ini sudah sangat kental dengan nuansa politis, istilahnya sudah terkontaminasi dengan kepentingan kepentingan politik, ” katanya kepada Kabar Nahdliyin pada Ahad (12/12) di Taman BAC (Banjarsari Agro Community) pada acara reoni Profesor ke 3 di Desa Banjarsari Kecamatan Bandarkedungmulyo Jombang, ketika mengawali pembicaraan.

Lelaki yang juga mantan Pengurus GP Ansor Cabang Jombang dan kini menjadi Pembina PAC Ansor Kecamatan Bandarkedungmulyo ini, juga sedang menghadiri acara Konfercab PAC GP Ansor Kecamatan setempat, namun pada acara pada tempat sama dirinya juga menggelar reoni Profesor, tampak hadir H. Su’udi Yatmo, H. Imron Rosjadi, H. Hafidz Maksum, H. Haris Munawir, H. Fadhlullah Malik dan puluhan mantan pengurus Ansor Jombang memenuhi ruang ramah-tamah Taman BAC tersebut.

Terkait gelaran Muktamar NU ke 34, menurutnya sudah tidak elok menjadi pendidikan kader GP Ansor, karena banyak diwarnai kepentingan kepentingan politik, “Soal Muktamar NU 34 sekarang menurut saya banyak diwarnai dan banyak dipengaruhi oleh kepentingan – kepentingan politik, saya saksi hidup, pernah menjadi Ketua Panitia Lokal Muktamar NU ke 33 tingkat Kabupaten, maka pada saat ini ketika kami menyelenggarakaan Konfercab GP Ansor dan selaku Pembina GP Ansor Bandarkedungmulyo ingin memberi contoh kepada para kader yang sedang berproses,, maka kita adakan reoni profesor tujuannya untuk membangkitkan ghiroh maupun militansi dan juga mengembalikan marwah NU dan diantaranya banom-banomnya, saya segaja mengundang para profesor, reoni ini juga merupakan bentuk ajakan kami untuk merajut silaturrahmi dalam rangka ukhuwah Nahdliyah, “katanya.

Sekali lagi, tegasnya kehadiran Profesor, adalah memberi semangat pada para kader NU dan Banom – Banomnya, bagaimana para kader kader kita yang sedang berproses melalui konfersi Ancab, dengan kehadiran orangtua ini agar mereka bisa merasakan perhatian dari orang tua kemudian banyak belajar dari orang tua, ” tegasnya.

Sekali lagi, tambahnya, dengan Muktamar NU ke 34 profesor sama sekali tidak mau membahas, “Ya cuman kila lihat saja, karena saya juga pernah mengurusi Muktamar NU, kami bukan tidak mau tau, tetapi kami sengaja tidak ingin tahu. Saya pernah menjadi Ketua Panitia lokal pada Muktamar NU ke 33 di Alun alun Jombang.
Profesor sesuai dengan kemarin bagaimana kita sekarang menguatkan untuk memberikan pendidikan terhadap kader kader yang relatif belum terkontaminasi dengan kepentingan kepentigan, di antaranya di tingkat level PAC, “tambahnya.

Mengenai hajat Muktamar dan siapa calon kuat yang bakal memimpin PBNU, mantan Pengurus GP Ansor yang juga sebagai Kepala Desa Banjarsari tidak peduli, “Indonesia ini lo meskipun tidak ada PBNU atau pengurus NU tetap jalan kok, justru sekarang pegurus jadi urusan, keamanan diamankan,” katanya.

Mengenai kegiatan reoni Profesor yang pertama, diadakan di GOR Jombang, “Saat itu kepemimpinan GP Ansor Jombang di pimpin H. Munadji Malik, kemudian Reoni yang kedua di Jogoroto di Rumah Sahabat H. Asmui, saat itu forumnya tidak fokus pada reoni, karena pada saat itu Sahabat H. Asmui, bersamaan sedang ngunduh mantu, dan reoni ketiga pada Ahad (12/12) di Taman BAC Banjarsari Bandar Kedung Mulyo Jombang,” jelas Kades Banjarsari.

Basaroddin, tidak menampik jika reoni dikait kaitkan dengan Pilkada, “Reoni Profesor tidak ada hubungannya dengan Pilkada, ada atau tidak ada Pilkada kita tetap adakan reoni, karena tujuannya sudah jelas untuk merajut ukhuwah Nahdliyah, dan sebagai pendidikan bagi kader yang sedang berproses, jadi tidak ada urusannya dengan Pilkada, dan yang paling penting ketika ada Konfercab kita perlu datang untuk mendampingi mereka, sehingga sahabat sahabat Ansor yang baru merasa didampingi para senior. Saya dan profesor tidak ada kepentingan Jombang satu, meskipun sempat di wacanakan dalam forum Profesor, tetapi tetap saya ingin profesor mengusung dua misi tadi,” katanya.

Sementara itu, Sahabat H. Imron Rosjadi, Pengurus GP Ansor tahun 90-an yang juga turut hadir pada reoni tersebut menyatakan sangat mendukung misi yang diusung oleh Profesor, yakni, reoni untuk merajut ukhuwah nahdliyah dan memberi pendidikan pada kader yang sedang berproses, “Saya sangat mendukung misi profesor dalam upaya merajut kembali ukhuwah nahdliyah dan melakukan pendidikan kader, ” katanya pada KN.

Mengenai Muktamar NU ke 34, Sahabat H. Imron Rosjadi hanya bisa mendoakan saja, agar Muktamar berjalan lancar, “Kita doakan saja agar Muktamar berjalan lancar, aman, karena memang polemik yang muncul bermacam macam,” kata Abah Rosjadi. (mu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.