Pertemuan Abu Bakar Ba’asyir dengan Joko Widodo adalah Kemanusiaan dan Persaudaraan.

Oleh: M Ikhsan Effendi

SOLO | KabarNahdliyin.com – Silaturahmi adalah bagian dari budaya besar bangsa Indonesia. Di tanah air ini, tradisi sowan, bertamu, dan saling mengunjungi telah menjadi denyut nadi masyarakat sejak lama. Ia bukan sekadar perjumpaan, melainkan peristiwa batin yang mengikat hati satu sama lain. Dalam pandangan warga Nahdlatul Ulama, silaturahmi merupakan jalan untuk merawat persaudaraan (ukhuwah) dalam tiga dimensi: ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa setanah air), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

Ketiga dimensi itu bertemu dalam satu bingkai: kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal (li ta’arafu), bukan untuk saling menafikan atau bermusuhan. Maka, setiap pertemuan, sekecil apa pun, selalu menyimpan nilai kemanusiaan yang agung: menguatkan ikatan, membuka pintu maaf, dan menyuburkan kasih sayang.

Kunjungan Abu Bakar Ba’asyir ke kediaman Presiden Jokowi di Solo bisa dibaca dalam kerangka budaya silaturahmi ini. Dalam kaca mata umat, peristiwa itu adalah wujud nyata dari tradisi “ngalap barokah” pertemuan. Seorang ulama datang membawa nasihat, seorang pemimpin menerima dengan lapang dada. Di sana tidak ada jarak antara masa lalu dan masa kini, tidak ada sekat ideologis yang kaku, karena silaturahmi selalu melampaui garis batas. Justru, inilah kesempatan untuk menghadirkan nilai luhur persaudaraan: yang pernah berbeda pandangan, bisa duduk bersama, berbicara dengan tenang, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Warga Nahdliyin meyakini bahwa menasihati pemimpin adalah bagian dari amar ma’ruf. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana nasihat itu diucapkan dengan adab, disampaikan dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Sebab, kebenaran yang disampaikan dengan kemarahan sering melahirkan jurang perpecahan. Sementara kebenaran yang dibungkus kelembutan justru melahirkan kesejukan dan memperluas pintu persaudaraan.

Dalam perspektif kebudayaan Islam Nusantara, silaturahmi bukan hanya hubungan antar individu, melainkan juga simbol pertemuan nilai-nilai. Ia menjadi ruang rekonsiliasi, ruang dialog, dan ruang pembelajaran bersama. Jika seorang ulama dapat sowan ke seorang mantan presiden, maka rakyat pun bisa belajar: bahwa persaudaraan itu lebih kuat daripada perbedaan. Bahwa kemanusiaan itu lebih tinggi derajatnya daripada sekat ideologi.

Di era yang penuh polarisasi ini, sangatlah bijaksana untuk menghidupkan budaya silaturahmi sebagai jalan memperkuat persaudaraan. Tidak hanya menjalin ukhuwah sesama muslim, tetapi juga dengan umat lain, dengan bangsa lain, bahkan dengan seluruh umat manusia. Sebab, kemanusiaan adalah rumah besar kita bersama.

Dari peristiwa pertemuan Ba’asyir dan Jokowi yang sederhana ini kita diajari, bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah berbeda, melainkan bangsa yang mampu merawat perbedaan dengan cinta. Silaturahmi, nasihat, dan persaudaraan adalah warisan budaya luhur yang harus terus dijaga. Itulah jantung kebudayaan: memanusiakan manusia, menyatukan hati, dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *