Tongkat, Tasbih, dan Nalar Sejarah NU (Bagian III)”.

Napak Tila, Restu Ulama, dan Arah Perahu Besar NU

Oleh: M. Ikhsan Effendi

JOMBANG | KABARNAHDLIYIN.COM – Kadang sejarah tidak berteriak. Ia berbisik. Tapi justru dari bisikan itulah arah sebuah peradaban ditentukan. Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil di Demangan Barat, Bangkalan, kembali mengingatkan kita akan hal itu. Melalui kegiatan Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama, sejarah NU tidak dibaca sebagai arsip mati, melainkan dihidupkan kembali sebagai energi batin.

Mengapa dari Bangkalan ke Jombang? Mengapa harus dimulai dari Syaikhona Muhammad Cholil ke KH Hasym Asy’ari? Jawabannya sederhana tapi dalam: karena NU lahir bukan hanya dari rapat, melainkan dari restu. Bukan hanya dari kesepakatan organisatoris, tetapi dari isyarah spiritual seorang guru besar yang sanadnya menyambung ke langit.

KH As’ad Syamsul Arifin seorang pelaku sejarah menyampaikan amanah itu. Amanah yang tidak hanya tercetak di notulen, tidak hanya tertulis dalam surat keputusan, tapi hidup dalam ingatan kolektif ulama. Inilah jenis sejarah yang sering tidak nyaman bagi pendekatan positivistik, tapi justru menjadi jantung tradisi NU.

Ketua Umum Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan, R KH Muhammad Nasih Aschal, menyebut napak tilas ini dimulai dari Bangkalan menuju Jombang karena keterkaitan historisnya yang sangat kuat dengan lahirnya NU. Pernyataan ini bukan klaim simbolik, melainkan pengakuan atas fakta kultural: Syaikhona Cholil adalah pemberi restu. Dan dalam tradisi pesantren, restu bukan hanya menjadi pelengkap, tapi ia adalah fondasi.

Kalimat harapan pada napak tilas terasa khas pesantren: “Ketika kita mengikuti Syaikhona Muhammad Kholil, Kiai Hasyim Asy’ari, dan para muassis NU, insyaallah hidup kita akan menjadi sa‘īdun fid-dunyā wa sa‘īdun fil ākhirah.” Ini bukan slogan motivasi. Ini peta jalan.

Di sinilah Tongkat dan Tasbih menemukan maknanya yang utuh. Ia bukan sekadar cerita lama yang romantik, bukan pula sekedar mitos yang perlu dibela mati-matian. Namun Ia adalah simbol cara berpikir NU tentang kepemimpinan. Bahwa pemimpin besar lahir dari tirakat panjang, adab yang utuh, dan pengakuan batin para guru yang bukan dari ambisi, apalagi intrik.

Napak tilas ini penting justru di tengah zaman yang gaduh. Saat NU semakin besar, semakin modern, semakin administratif, selalu ada risiko kehilangan arah batin. Perahu besar NU bisa kokoh secara struktur, tapi rapuh secara makna. Maka sejarah simbolik berfungsi seperti kompas: kecil, tapi menentukan arah.

Panitia napak tilas berharap NU ke depan semakin tangguh. Harapan itu tidak berhenti pada seremoni. Ia adalah pesan politik kebudayaan yang halus namun tegas: agar kepemimpinan NU kembali berpijak pada nilai, bukan hanya sekadar prosedur. Bertumpu pada hikmah, bukan hanya kekuasaan. Ditujukan pada maslahat umat, bukan kepentingan sesaat.

Pernah ada tulisan bahwa bangsa ini besar dalam struktur, tapi miskin dalam ruh. Seperti juga NU dengan segala keunikannya pun bisa tergelincir ke sana jika lupa asal-usulnya.

Napak tilas dari Bangkalan ke Jombang adalah pengingat keras yang disampaikan dengan cara lembut.

Tongkat dan tasbih tidak sekedar sedang dipertontonkan. Ia sedang diajarkan. Bahwa sejarah NU tidak cukup dibaca, tapi harus diikuti. Tidak cukup dirayakan, tapi dijalani. Dan bahwa perahu besar NU hanya akan sampai ke tujuan jika tetap setia pada arah yang telah ditunjukkan para muassisnya.

Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU, kembali mengingatkan: besar bukan berarti bebas arah. Justru semakin besar, semakin perlu restu langit.
Wallahu a‘lam. (Hadi S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *