Satu Abad NU: Merawat Khittah, Menjernihkan Kegaduhan, Meneguhkan Peradaban.

Oleh : Ilham Alhamdi

BANYUMAS | KABARNAHDLIYIN.COM – Perayaan Harlah satu abad Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar momentum historis, melainkan penanda ketangguhan sebuah jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang selama seratus tahun konsisten merawat tradisi keislaman sekaligus berkontribusi nyata bagi kemanusiaan dan perdamaian dunia. NU telah membuktikan diri sebagai kekuatan moral dan sosial yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan realitas kebangsaan dan global.

Didirikan oleh para ulama besar, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah, NU lahir sebagai wadah perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah yang berakar kuat pada tradisi keilmuan, kearifan lokal, dan semangat kebangsaan. Sejak awal, NU tidak hanya mengurusi persoalan ibadah dan akidah, tetapi juga mengambil peran strategis dalam menjaga keutuhan NKRI, termasuk melalui Resolusi Jihad 1945 yang menjadi tonggak penting sejarah kemerdekaan Indonesia.

Dalam satu abad perjalanannya, NU telah menjadi rumah besar umat Islam Indonesia rumah yang teduh, moderat, dan inklusif. Prinsip tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal menjadikan NU mampu berdialog dengan perbedaan, merawat persatuan, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Pada level global, NU juga aktif menyuarakan Islam damai dan menolak ekstremisme yang mencederai nilai kemanusiaan.

Namun, perayaan satu abad ini tidak dapat dilepaskan dari refleksi kritis atas kegaduhan yang sempat terjadi di tubuh PBNU. Dinamika internal tersebut apa pun bentuk dan latar belakangnya menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun organisasi, ia tetap rentan pada konflik kepentingan dan perbedaan pandangan. Kegaduhan itu tidak seharusnya disangkal, tetapi juga tidak patut dibesar-besarkan hingga mereduksi marwah NU sebagai jam’iyah ulama dan umat.

Bagi warga Nahdliyin, momentum satu abad NU justru harus menjadi ajang muhasabah kolektif. Kita diajak kembali pada khittah NU: menempatkan kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan personal maupun kelompok. Kritik dan perbedaan adalah keniscayaan dalam organisasi besar, tetapi harus diselesaikan dengan etika, akhlak, dan kearifan sebagaimana diwariskan para masyayikh NU.

Refleksi ini penting agar NU tetap menjadi teladan dalam berdemokrasi, berorganisasi, dan berkhidmat. Warga Nahdliyin baik di akar rumput maupun di struktur memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik NU, memperkuat ukhuwah, serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah.

Satu abad NU adalah bukti bahwa tradisi dan modernitas tidak harus saling meniadakan. Dengan berpijak pada warisan ulama dan membaca tantangan zaman secara jernih, NU memiliki modal besar untuk melangkah ke abad kedua sebagai pilar peradaban Islam Nusantara, penjaga NKRI, dan pelopor perdamaian dunia.

Perayaan ini pada akhirnya bukan hanya tentang kebanggaan masa lalu, tetapi tentang komitmen masa depan: bagaimana NU tetap istiqamah merawat umat, bangsa, dan kemanusiaan dengan kejernihan sikap, keteguhan prinsip, dan persatuan Nahdliyin. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *