Ubah Limbah Kaca Jadi Produk yang Diminati Dunia

oleh -428 views

JOMBANG, KN – Kabupaten Jombang juga memiliki sentra industri kecil yang telah mendunia. Adalah kerajinan manik-manik kaca di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo. Tak tanggung-tanggung, manik-manik karya perajin desa ini telah menembus pasar internasional sejak puluhan tahun lalu.

Salah satu yang menjadi pioner dan masih eksis di bisnis ini adalah Nur Wakid. Ia bercerita bagaimana proses bisnis manik-manik asal desa ini bisa terus bergeliat dan eksis. Menurutnya, bisnis ini sebenarnya sudah bermula sejak 1980-an.

“Kalau ditanya awalnya memang sejak tahun 80-an, tapi waktu itu kita belum kenal manik-manik, masih pada bentuk-bentuk tasbih dan gantungan kunci saja awalnya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

 

Puas menjajaki pasar di Jombang dan sekitarnya selama 10 tahun, Wakid saat itu berniat untuk merambah pasar yang lebih besar. Kala itu daerah yang dipilihnya adalah Bali. Tempat dimana jutaan orang dari seluruh dunia dan aneka budaya berkumpul di sana.

Pada 1990-an benar-benar jadi awal babak baru bagi produk manik-manik kaca, yang dulunya hanya terpaku pada bisnis suvenir dengan kreasi monoton, menjadi beragam bentuk dan jenis manik-manik.

“Kita coba ke Bali awalnya tahun 1990 itu, dengan pengetahuan nol tentang Bali kita nekat membawa beberapa sampel, dan memang laku beberapa. Itu babak baru kami mulai merambah pasar di Bali, karena tanggapannya ternyata di atas ekspektasi kami dulu,” lanjutnya.

Tak hanya Bali, pasar-pasar baru untuk industri ini disebutnya juga mulai tumbuh. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara mulai terbuka dengan masuknya kerajinan manik-manik ke Bali tersebut.

“Ya terlebih untuk beberapa wilayah yang masih menggunakan manik-manik sebagai bagian dari kebudayaan dan adat, ini memang pasar menjanjikan,” imbuhnya. Bahkan, sejak belasan tahun silam, karya warga Plumbon Gambang ini telah merambah negara-negara lain di dunia. Bergairahnya pasar, membuat gairah usaha juga tumbuh pesat.

Jika sebelum tahun 1990 perajin disebutnya hanya beberapa orang saja, sejak membeludaknya pasar perlahan industri ini terus berkembang dengan munculnya banyak perajin baru. “Kalau sekarang sudah lebih dari 100 usaha yang masih bergerak mas, dan semuanya masih eksis juga dengan pasarnya masing-masing,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.