Merasa sudah cukup, Rifa’i tolak kegiatan sosialnya dibantu

by -

JOMBANG (KN)—Siapa sangka H. Ahamd Rafa’i, SH asal Mojokrapak Kecamatan Tembelang Jombang Jawa Timur ini mampu memberangkatkan jamaah umroh sejumlah 1002 orang dengan gratis, dan siapa sangka aktifis lawyer (pengacara) di Jakarta ini sejak tahun 2004 telah menggelar berbagai kegiatan sosial masyarakat dengan modal ratusan juta rupiah bahkan milyaran rupiah dengan ia modali sendiri tanpa melibatkan pihak manapun hingga sekarang.
Meski banyak harta yang ia berikan untuk kegiatan sosial, lelaki lahir pada 14 Januari 1970 ini tetap rendah hati sebab menurutnya apa yang ia lakukan murni adalah sebuah ketulusan rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasulnya, kenapa pengacara asal Jombang ini begitu kuat men-infaq-kan harta dalam bidang sosial, berikut penuturannya kepada Kabar Nahdliyin di Hotel Yusro pada Sabtu malam(18/1) ketika mempersiapkan kegiatan Festifal Qurani se-Jawa Timur yang ia pelopori sendiri.

Ia menjelaskan, bahwa kegiatan sosial yang ia lakukan sekarang ini merupakan cita citanya dari dulu, “Dari dulu ada empat cita cita saya, yang ingn saya wujudkan, diantaranya. Satu saya ingin membangun 100 Masjid atau Musholla. Kedua, saya ingin meng-umroh-kan dan meng-haji-kan orang dengan gratis, kemudian yang ketiga, ketika Hari Raya Idul Adha saya bisa berkurban dengan 1000 kambing dan 100 sapi. Dan yang keempat, saya ingin mewujudkan Pondok Hafidz Al Qura’an Cinta Rasulullah, kebetulan saya bertemu dengan KH. Ainul Yaqin, Pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto Jombang, semakin jadilah cita cita ini karena beliau Kiai Ainul Yaqin perannya sangat besar,” kata Rafa’i mengawali obrolan dengan Kabar nahdliyin.

Dijelaskan, lanjutnya, dirinya ingin istiqomah mencitai Allah SWT dan Rasulnya, jadi semua yang ia lakukan adalah untuk mencari ridloh Allah SWT, “Semua yang kami lakukan itu, karena ingin istiqomah selalu mencintai Allah yang jelas itu, dan istiqomah mencintai Rasulullah. Dan ketika saya kembali kepada Allah nanti bener benar bersyukur, dan Allah pun menerima ketika saya kembali. Sebenarnya itu sih yang ingin kami lakukan, dan tidak ada kepentingan apapun. Ini semata mata karena saya mencintai Allah dengan secara total,” katanya.
Semakin hari mestinya kita semakin yakin dan semakin bertambah kualitas cinta kepada Allah dan Rasulnya, “Semakin hari semakin meningkat cinta kita kepada Allah, dengan begitu orang akan dicintai Allah SWT, kalau kita sudah mencintainya maka segala sesuatu Allah SWT yang akan mengatur. sama ketika saya mau meng-umroh-kan seseorang, itukan bukan kebaikan saya, bukan Rifa’i yang baik. Itu karena Allah yang sangat baik, kemudian lewat saya untuk memberangkatkan orang Haji dan Umroh, itu bukan karena saya tetapi karena Allah yang maha baik, Allah SWT menitipkan sesuatunya kepada saya dan kemudian saya mencoba mengurus semaksimal mungkin untuk mencitai Allah SWT dengan cara cara begitu,” tuturnya.

Jika kegiatan sosial yang ia lakukan ini dikait – kaitkan dengan politik, menurutnya kedaluwarsa sebab ia sudah melakukan kegiatan sosial tersebut sejak 2004, “Kalau ada yang kait – kaitkan dengan politik sudah kasep (lewat) nih, saya sejak tahun 2004 sudah melakukan itu, tidak hanya sekarang sekarang, misalnya kegiatan khitanan massal, nikah massal, kemudian Maulid Nabi, saya memang berusaha ketika memperingati lahirnya Rasulullah saya bikin semeriah dari apapun. Seperti kayak kemarin Maulid Nabi kami menyembelih dengan 100 kambing dan 1000 ayam karena semata mata cinta kami kepada Rasulullah, tidak ada motif politik, kalau saya hanya untuk motif politik ngapain,” katanya.

Ia juga menolak bantuan dari pemerintah atau pihak lain terkait kegiatan sosial yang dilakukan, pernah suatu ketika Menpora dan Khofifah mau mambantu tetapi ditolak oleh Rifa’i alasannya ia sendiri sudah cukup, “Sering Menteri datang ketika acara acara sosial kami, seperti khitanan massa dan nikah massal, mereka menawarkan bantuan, saya sering tolak mohon maaf, misalkan dulu ketika ada Menpora datang ke rumah saat ada kegiatan, mereka menawarkan, Mas yiai, Begitu Pak Menpora kalau panggil saya. Dia bilang, Mas Yai, mBok ya saya ingin ikut urun rembuk, saya ingin membantu, saya jawab boten (tidak) saya sudah cukup,” kata Rifa’i sambil menirukan Menpora kalah itu.
Ditambahkan, sama seperti Khofifah ketika menjadi Menteri Sosial juga ingin membantu kegiatan sosialnya, “Bu Khofifah ketika menjadi Menteri Sosial, waktu itu kami mengadakan acara santunan 7000 an anak yatim piatu, dia mau membantu saya bilang tidak usah, saya sudah cukup, bahkan ada yang meyakinkan, tidak Pak Rifa’i kalau tidak mau dibantu beliau, beliau tidak berkenan, saya bilang tidak apa apa tidak usah, artinya apa, saya lebih mengedepankan berharap kepada Allah SWT,” tambanya. (mu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *