Mengenang Kh. Hasyim Muzadi Dalam Membangun Institusional Building NU Oleh : HM. Misbahus Salam (Jember – Jawa Timur)

by -

JEMBER (KN) – Tanggal 15 Desember 2019 ini tepat 1000 hari wafatnya Alm. KH. Hasyim Muzadi. Sungguh amat besar jasa beliau dalam mengawal perjuangan Nahdlatul Ulama. Kyai Hasyim sosok tokoh NU yang berangkat dari Ranting NU hingga menjadi Ketua Umum PBNU. Kyai Hasyim adalah Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok dalam hidup sampai akhir hayatnya selalu berfikir dan bergerak untuk Islam Aswaja An-nahdliyyah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
KH. Hasyim Muzadi memiliki peran utama dalam membangun institusional Building Nahdlatul Ulama. Sejak beliau menjadi Ketua PWNU Jawa Timur dan dua periode menjadi Ketua Umum PBNU, organisasi NU termenej dengan baik sesuai dengan perkebangan zaman. Kyai Hasyim membangun NU dengan tiga sistem; pertama dengan organizational development { mengembangkan kerangka struktur organisasi yang mampu menjawab kebutuhan internal dan eksternal organisasi}, kedua ; dengan Institusional development {kemampuan organisasi dalam merespons berbagai dinamika perubahan eksternal dan internal secara cepat, responsif, dan akurat}, Ketiga; dengan Capacity building { kemampuan organisasi dalam menjadikan proses-proses internalnya sebagai arena pembelajaran sehingga semakin terbedayakan dan ter up-grade kapasitas dirinya}.
Gerakan Kyai Hasyim sangat dirasakan manfaatnya bagi kemajuan NU secara organisasi. Kantor PBNU dibangun dengan megah, kantor-kantor PW, PC dan MWC juga dibangun. Komunikasi Kyai Hasyim dengan para tokoh politik dan pengusaha bermuara pada kepentingan organisasi NU. Amat sering Kyai Hasyim mengeluarkan uang pribadinya untuk disumbangkan kepada pembangunan kantor NU dan Pondok Pesantren. Kami pernah melihat langsung, Abah Kyai Hasyim diberi uang oleh seseorang, nilainya lumayan banyak, lalu disuruh hitung dan dibagi ke dalam 5 amplop. Ternyata uang tersebut semuanya disumbangkan untuk para Kyai yang sedang membangun Pesantren, dan Kyai Hasyim serupiahpun tidak mengambilnya.
Perjuangan Kyai Hasyim tidak hanya untuk dunia Pesantren dan Nahdlatul Ulama, NKRI selalu dijaga dan dibela oleh Kyai Hasyim. Aliran Islam transnasional , gerakan pengusung negara khilafah, indikasi bangkitnya paham Komunis di Indonesia selalu dikritisi dalam setiap ceramahnya. Kyai Hasyim menjalin hubungan dan kerjasama dengan lintas Agama. Bahkan bila ada konflik antar agama Kyai Hasyim selalu hadir untuk ikut memberikan solusi. Sehingga para tokoh lintas Agama, Suku dan golongan bahkan ormas di Indonesia menganggap Kyai Hasyim sebagai orang tua yang amat di dengar dan di ikuti fatwa fatwanya.
Untuk hubungan dengan pihak luar negeri Kyai Hasyim melalui institusi ICIS {Internasional Conference of islamic Scholar} selalu aktif merespon perkebangan dunia. Perjuangan ICIS di indonesia dan dunia Internasional adalah Islam rahmatan lil alamin dan pengenalan Pancasila. Kyai Hasyim kerap kali jadi juru damai di beberapa negara, misalnya konflik yang terjadi di Provinsi Pattani, Thailand Selatan, Konflik di Moro, Mindanao, Filipinia Selatan, kemudian konflik di Afghanistan, Iran dan Lebanon.
Hampir seluruh hidupnya Kyai Hasyim untuk perjuangan, beliau sangat dermawan membantu para aktivis dan membiayai kegiatan kegiatan perjuangan. Kami amat sering melihat dompet beliau kosong karena uangnya sudah disedekahkan. Kerap kali kami lihat beliau datang ke ATM hanya ingin mentransefer uang kepada orang yang membutuhkan. Kepada orang –orang dekatnya Kyai Hasyim sangat humoris, ungkapan kata beliau sulit dilupakan, diantaranya “Lumayan, atau di atas Lumayan “, “Nayamul atau di bawah nayamul”, Ashli atau tidak ashli” , “Cocok menurut kamu atau menurut orang lain”,. Kata –kata itu pintu Abah membuka ruang diskusi dengan jok jok segar beliau.
Setiap akan berbicara atau ceramah di depan umum Kyai Hasyim pasti berdoa dulu. Doa tersebut di ijazahkan kepada orang orang tertentu. Karena ketika kami mengantar teman yang ingin ijazah doanya, ternyata bukan doa yang beliau baca. Kami paham bahwa doa nya tersebut tidak diberikan pada semua orang. Al Hamdulillah kami dapat izin ijazah doa beliau. Dalam doa itu tersirat ma’na bahwa mereka tidak bicara kecuali ada izin dari yang maha Rahman dan benar. Sehingga setiap Kyai Hasyim pidato mustamiin banyak terkesima , kagum dan meresapinya.
Setengah tahun sebelum wafat, kami kalau ke Al-Hikam di Depok maupun di Malang, pagi-pagi Kyai Hasyim ngajak keliling kami di sekitar Pondok Al-Hikam. Beliau dawuh “Saya ini sudah tidak punya apa-apa, Tanah yang ada ini sudah saya wakafkan semua, kecuali rumah. Rumahpun akan ditempati anak-anak saya yang mau ngurus Pesantren”. Bahkan kami sempat ditunjukkan maqbarah beliau bila nanti wafat. Seakan-akan beliau saat itu tahu bahwa tidak lama lagi beliau akan meninggal dunia. Tepat pada tanggal 16 Maret 2017, KH. Hasyim Muzadi pulang ke rahmatullah. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan perjuanganya, dan mengampuni segala kekhilafannya, dan kita para santri, muhibbin semoga memperoleh barokahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *