HQ – KN gelar Workshop Jurnalistik, Untuk apa santri belajar Jurnalistik (2)

oleh -539 views
Ketua PWI Jombang, Bapak Sutono sebagai nara sumber

 

JOMBANG, KN – Pelaksanaan kegaiatan Workshop Jurnalistik di Pondok Pesantren Lansia Pandanwangi Jombang berjalan lancar sesuai rundown jadwal acara, tetapi bukan berarti tanpa hambatan, justru banyak kendala disana-sini, akan tetapi karena kegigihan panitia dan ketawadhuan para santri Pondok Pesantren Hamalaul Qur’an kepada KH. Ainul Yaqin, Pengasuh Pondok Pesantren tersebut, hambatan dan rintangan dalam pelaksanaan kegiatan workshop malah menjadi pemicu semangat tersendiri bagi para Panitia dan Santri untuk mensukseskan kegiatan.
Sempat muncul pertanyaan mengelitik datang dari salah satu Nara Sumber, yakni Sutono dengan nada guyon, Ketua PWI Jombang yang didapuk sebagai Nara Sumber ini bertanya kepada panitia, untuk apa santri belajar Jurnalistik? Apalagi santri yang notabene penghafal Al Qur’an, “Saya juga mau tanya nih, untuk apa santri belajar jurnalistik, apalagi santri PP Hamalatul Qur’an adalah santri – santri penghafal Al Qur’an dengan metode cepat, apa manfaatnya?,” tanya Sutono kepada Panitia dengan nada guyon.
Tidak kunjungan mendapat respon dan jawaban dari panitia, Sutono pun membawa pertanyaan itu ke forum penyampaian materi. Pertanyaan itu kembali diulang oleh Ketua PWI kepada peserta, “Saya sendiri bingung, untuk apa santri diajari ilmu jurnalistik?, untuk apa?, apa manfaatnya,? “ tanya Sutono kepada auden disambut ger-geran.
Pertanyaan mengelitik Ketua PWI Jombang ini dijawab ger-geran oleh auden, Ia pun lalu menjelaskan bahwa, memang tidak sedikit jebolan Pondok Pesantren menjadi wartawan, “Setelah saya lihat lihat memang tidak sedikit teman saya dari Pesantren menjadi wartawan, di PWI Jombang ada tiga bahkan lebih, mereka alumni – alumni Pesantren yang menjadi wartawan, ada dari PP Denanyar, PP Tebuireng, PP Tambakberas dan juga dari PP Rejoso, mereka memang alumni Pesantren asli, bahkan Kiai Wahab Hasbullah pendiri PP Tambakberas juga seorang jurnalis,” jelasnya.
Sesi pertama peserta Workshop mempelajari dasar-dasar ilmu jurnalistik dan asal – usul jurnalistik, bertugas sebagai moderator Ustad Faiq Faizin, dari PP HQ Putri Pare. Sesi ini memang istimewa, karena ada tambahan materi antara lain dari Imam Fatoni, SKM, MM (Stikes Jombang) kandidat doktor ilmu rekrumen propaganda Santri masuk Pesantren dan H. Mohammad Kaiyis (dari duta.co), sehingga diskusi cair dan dapat berlangsung lama.
Dipaparkan oleh pemateri dari PWI bahwa, jurnalistik adalah ilmu tulis menulis, semua orang perlu kegiatan tulis menulis, tetapi siapa yang pertama kali menemukan ilmu jurnalistik, “Sejarah Jurnalistik senantiasa merujuk pada ‘Acta Diurna’ pada zaman romawi kuno, khususnya masa pemerintahan Julius Caesar, hingga Julius Caesar pun disebut sebagai Bapak pers Dunia atau Bapak Jurnalistik Dunia,” paparnya.
Karya jurnalistik itu sendiri lanjutnya, adalah bersumber pada informasi, “Pengertian jurnalistik secara praktis adalah proses penerimaan informasi atau berita dan disebarluaskan di media massa. Ada empat tahapan yang mesti dilalui sehingga karya tulis dapat disebut karya jurnalistik, antara lain ada informasi, ada proses penyusunan informasi, setelah itu dilakukan penyebarluasan informasi dan ada media massa yang menyebarkan,” papar Sutono.
Setiap tahapan lanjutnya, dalam proses kegiatan jurnalistik perlu dilakukan pendalaman, agar karya jurnalistik memiliki bobot akurasi, untuk itu apabila menerima informasi harus mau dan wajib melakukan cek and ricek, “Informasi adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran, semua perlu digalih datanya oleh pelaku jurnalis, sehingga dapat disusun sebagai informasi, kerapkali pekerjaan penyusunan informasi ini kita disebut redaksi,” lanjutnya.
Seorang jurnalis atau reporter harus mampu mendeteksi sebuah informasi, hal ini karena industri informasi berkembang sangat cepat, begitu juga bentuk media banyak fungsi dan ragamnya, “Dalam perkembangannya setidaknya ada 4 fungsi media sekarang ini yakni, memberi informasi, memberi hiburan, memberi pendidikan dan sebagai kontrol sosial,” lanjutnya.
Dalam penyusunan berita, katanya lagi, yang sifatnya informasi, ide atau pemikiran dapat direncanakan oleh pekerja jurnalistik, ia dapat melakukan persiapan persiapan, akan tetapi lain dengan berita informasi peristiwa, “Seperti Gunung meletus, tidak mungkin mengumpulkan bahan berita Gunung meletus direncanakan, karena itu seorang jurnalis juga harus peka dan mampu menggali data sesuai dengan kebutuhan penyusunan naskah,” katanya lagi. (BT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.