HQ – KN  gelar Workshop Jurnalistik mBah Yaqin : Islam paling dulu mengajarkan jurnalistik (1) 

oleh -477 views

JOMBANG, KN – Berawal dari kainginan memberi informasi tepat kepada masyarakat terkait program kegiatan pembelajaran di PP HQ Jogoroto, bagian Infokom mengandeng Media Online Kabar Nahdliyin.com menggelar Workshop Jurnalisitik selama 2 hari. Acara digelar pada 2-3 Oktober di Pondok Pesantren Lansia Pandanwangi Jombang, hadir dalam pembukaan antara lain, KH. Ainul Yaqin, SQ (Pengasuh PP HQ), KH. Kudry,Jember), Kapolsek Jogoroto mewakil Kapolres Jombang dan Dandim Jombang serta tamu undangan.

Dalam pembukaan Workshop tersebut KH. Ainul Yaqin, menjelaskan pentingnya sebuah faham yang benar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian juga cara menyampaikannya faham juga harus benar, oleh karena itu disinilah pentingnya belajar jurnalistik bagi santri, “Yang perlu digaris bawahi bahwa faham itu sangat dibutuhkan oleh keberadaan bangsa dan negara ini, faham itu ada pada dada manusia yang paling dalam,” katanya saat mengawali sambutan pembukaan selaku Pengasuh Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an.

Dijelaskan, faham yang benar cara menyampaikannya juga benar, ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan bernegara, “Faham itu ada didalam dada manusia yang paling dalam, dada adalah casing (wadah), setelah dada ada hati, setelah hati ada ilmu, setelah ilmu ada prasangka lalu faham,  bila faham itu baik maka apapun akan menjadi baik dan objektif, bila mana paham itu jelek atau rusak maka akan menjadi rusak, oleh karena itu pemahaman negara kita ini yang berasas pancasila, bahwa apapun yang kita lakukan yang sesuai dengan ajaran keislaman itu adalah niscaya pengamalan dari Pancasila, sila pertama yaitu ketuhanan yang maha esa,” tuturnya.

PPHQ Ikhtiyar wujudkan santri Jurnalis

Dikatakan lagi, “Agama Islam itu suatu pengajaran paling lengkap, kita disini belajar jurnalistik, Islam paling dulu mengajarkan jurnalistik, pertama pembukaan Bismillahirrahmanirrahim, artinya ketika kita menyampaikan sesuatu harus dengan etika dan tata krama, jurnalistik praktis dan efektif itu sudah diajarkan dalam al Qur’an, yang menjadikan manusia dikasih gelar oleh Allah Khalifatullah salah satunya karena mengemban tugas jurnalis penulis. Pertama kali ada lambang tulisan diajarkan oleh para Nabi, karena Nabi adalah orang yang memiliki pandangan ke depan, ketika zamannya Nabi Muhammad, SAW, beliau memanggil Zaiet bin Sabit diangkat sebagai sekretaris Nabi,  disuruh menulis apa yang didapatkan dari Gusti Allah SWT,  berupa Kitabullah al Quran, jika saat sekarang bisa dikatakan itu adalah Nabi mengajarkan jurnalis,” katanya lagi.

Pada perkembangan peradapan selanjutnya tergantung kemampuan dibidang jurnalis atau tulis menulis, “Seperti Hamalatul Qur’an didalam mewujudkan cita – cita luhur KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri PP Tebuireng Jombang) tetap akan terwujudnya pribadi Insan Kamil Hamilil Qur’an Lafdhon wa Ma’nan wa Amalan, yang dikampanyekan oleh KH, Wahid Hasyim yaitu pada tahun 1921. Zaman dulu pelatihan pelatihan jurnalistik diasuh KH, Tolha Hasan. Kenapa diadakan disini karena penulisan itu harus dipahami ekita dan estetika. Para santri dilatih untuk dikenalkan jurnalistik cara menulis, karena semua penulisan harus memakai etika masing masing,” tuturnya.

“Al Quran sesuai yang disampaikan Nabi Muhammad, SAW adalah Sayyidul qutub dan Sayyidul  Khobar, Nagara ini kalau tidak ada orang orang solih tidak akan menjadi Negara, oleh karena itu kita mengambil bidang bela nagara meski paling kecil, hal hal yang tersirat yang jarang disampaikan oleh Kiai kiai, adalah ketika sidang BUPKI (Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) apakah yang sedang dilakukan di PP Denanyar, PP Tambakberas, PP Rejoso dan PP Tebuireng, ketika persiapan kemerdekaan Indonesia, kekuasaan Allah SWT, itulah yang sangat dominan sehingga kita merdeka,” katanya.

Selanjutnya BUPKI memutuskan negara ini  dalam bentuk Khilafah, “Jadi para santri jangan alergi dengan bahasa Khilafah, Khilafah itu artinya nagara hukum, atau Rechtstaat. Yang ada sekarang kita diadu yang satu Khilafah yang satun anti khilafah, sekarang saya jelasakan sebagai jurnalis, dalam rangcangan negara Indonesia, Indonesia dibetuk dalam bentuk Khilafah persatuan dan kesatuan, ketika itu para Kiai melakukan musyawarah di Baiatul Aqobah sebelah timur terminal minna, disitu diputuskan kemudian penyusunan itu oleh tim musyawarah, dibawah ke Hadrotul Rosul ke madinah, ketika itu pada zaman Jepang anggotanya antara lain Kiai Wahid, Sukarno, Hatta dan masih banyak orang rombongan ke Madinah. Jadi kita harus yaqin negara kita dengan diriadlohi para kiai kita, negara akan aman, karena sebelum proklamasi sudah disowankan ke kanjeng Nabi,” jelasnya lagi.

Pengasuh HQ minta kepada peserta Workshop Jurnalistik agar selalu memahami pokok bahasan, seperti tempat musyawarah yang ditempati untuk merumuskan rancangan Undang undang, “Dimana tempat itu yang digunakan ketika Nabi membai’at Muadz bin Jabal dan para sohabat yang berjumlah 70 orang itu merencanakan negara Madinah, disitulah dimana para pendiri negara kita merumuskan dasar dasar negara. Yang disepakati Negara Indonesia dalam bentuk Khilafah, inilah pentingnya jurnalis, tulis menulis santri harus paham dengan pembahasan materi seperti ini,” pintanya.

Sementara itu ditempat yang sama, Muhtazuddin yang akrab disapa Pak Muh sebagai perwakilan dari Media Kabar Nahdliyin.com menyampaikan, bahwa kegiatan workshop Jurnalistik merupakan kebutuhan kita bersama dalam menyiapkan generasi penerus di bidang Jurnalistik, “Era sekarang tenaga Jurnalistik Pesantren sangat dibutuhkan, selain untuk menyiarkan program kegiatan Pesantren secara efektif dan efesien, Jurnalis Santri juga dapat menyaring berbagai informasi,” katanya.

Harapannya, “Tentu kita berharap akan lahir para jurnalis jurnalis handal dari kalangan santri, Kabar Nahdliyin siap mengawal tunas-tunas muda para jurnalis dari kalangan santri yang akan menyuarakan visi misi pesantren, atau berbagai kegiatan para santri yang patut mendapatkan perhatian masyarakat luas,” harapnya. (BT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.