Kiai Zainuri : PPS HQ Tempat Proses Penempelan Santri Kepada Ismullah

oleh -35 views
Suasana Halal Bihalal PPS Salafiyah Hamalatul Quran

JOMBANG, KN – Moment Halal Bihalal Pondok Pesantren Salafiyah Hamalatul Qur’an pada Rabu (2/6) lalu digelar secara sederhana namun tidak mengurangi kekhidmatannya, hadir dalam acara tersebut KH. Ainul Yaqin, S.Q, KH. Zainuri, Kiai Muhammad Roup, Kiai Taufiq dan belasan Pengurus PPS HQ serta para Ustad pembimbing para santri Hamalatul Qur’an.

Ada beberapa pendalaman terkait program PPS Hamalatul Quran disampaikan oleh KH. Ainul Yaqin, S.Q, Pengasuh Pondok Pesantren dalam acara tersebut, salah satunya, dijelaskan bahwa ada beberapa dauroh (pembelajaran) sebagai wujud pentingnya Al Ismu Haqiqotuhu wasufatuhu bagi Hamalatul Qur’an, “Dibeberapa tempat saya sampaikan Al Ismu Haqiqotuhu Wasifatuhu, nama adalah haqiqat dan sifatnya, disini namanya Pondok Pesantren salafiyah Hamalatul Quran, Desa Sawiji, Di Desa Jarak Pondok Pesantren Putri Hamalatul Qur’an, di Desa Bandung Wadil Quran (Kampung Al Quran), dan ada Quran Villge juga Kampung Al Quran, oleh karena itu kami membuat banyak ragam banyak dauroh, banyak karantina, model model yang berbeda beda, ini dalam rangka bagaimana karekter manusia tipologi apapun diutamakan kemampuan tahfidnya,” kata Kiai Ainul Yaqin.

Dijelaskan, untuk mengatasi santri yeng suka merokok, karena di PP HQ santri dilarang merokok maka Pengurus mengambil langkah langkah, “Bagaimanapun namanya santri ada yang suka merokok maka kalau dibiarkan di dalam Pondok Pusat tidak semakin bagus, malah bisa menjadi provokator, maka ada langkah langkah dikumpulkan, karena sesungguhnya orang berkumpul itu adalah se-ide, se-nasib, seragam, satu tujuan,” jelasnya.

Ditambahkan, “Ruh itu nanti diakhirat juga berkumpul, ruhnya para kiai berkumpul berdzikir istighotsah disatu tempat, kalau ruhnya geng juga berkumpul sesama geng, ada Hadist (Bukhori Muslim) artinya, Ruh ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan, jika saling mengenal diantara mereka maka akan saling bersatu, dan yang saling merasa asing diantara mereka maka akan berpisah, jadi Ruh nanti juga akan berkumpul dengan yang se-ide, se – tujuan, se-nasib, dan sebagainya, ”tambahnya.

Ditegaskan lagi, dalam pembelajaran, bahwa Santri yang penting hafal dulu lalu faham, “Faham itu belakangan saja, yang penting hafal dan aktif membaca. Mungkin berbeda dengan kebanyakan sekolah sekolah sekarang yang peting paham dulu, tidak hafal dulu. Makanya, ada yang dulu tidak hafal dan tidak bisa, sekarag lupa, Hamalatul Quran disini mengakomodir hal hal yang lama yang dilakukan banyak kiai zaman dulu, sekarang banyak ditinggalkan, bagaimana kita dalam proses tahfid ini cepat maka, yang diatur ngajinya saja,” tegasnya.

Giliran Kiai Zainuri, yang juga salah satu Pengasuh PPS HQ, Dusun Kemirigalih, Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto, memberi materi pendalaman terkait Al Ismu Haqiqotuhu Wasifatuhu, tetapi sebelumnya ia menjelaskan pentingnya silaturrahmi, “Mengutip dari apa yang tertulis disini, Barangsiapa yang rizqinya ingin diperpanjang maka sambunglah tali silaturrahmi, maka ini bagaian dari silaturrahmi, mudah-mudahan rizqi kita ditambah oleh Allah SWT. Karena Rezqi itu adakalanya iman, materi juga rizqi, kesehatan pun rizqi,” kata Kiai Zainuri.

Lebih lanjut dijelaskan, “Al ismu Haqiqohtuhu Wasifatuhu saya garis bawahi, dan arti semua itu berasal dari kata Ismullah sifatnya tinggi, hakekatnya sudah tinggi, kalian disini dibentuk oleh Pengasuh, Asatidz untuk ditempelkan dengan ismullah, artinya al ridho biljallah yang nantinya mempunyai predikat hamilil qur’an, sebagai sesuatu yang dinidhomkan dengan robbi Jalallah, dengan sendiri derajatnya terangkat, walaupun namanya tidak bagus, tetapi membawa Qur’an otomatis terangkat dengan sendirinya. Karena disandarkan dengan robbi Jalallah, ada ayam naik kesini paling dilempar sandal karena alasan najis, tetapi ketika ayam ditangkap disembelih dengan bismillah apa yang terjadi ditaruh diatas meja dimakan, tidak dilempar lagi karena sudah ditempel dengan ismullah, romadlon yang telah kita lakukan bersama sama, karena dinidhomkan robbi jalallah, di romadlon diturunkan kitabullah, maka dengan sendirinya bulan itu melebihi dengan bulan yang lain,” lanjutnya.

Ditambahkan lagi, “Gedung PPS yang baru di sawah itu, kalau nanti dibangun Musholla atau Masjid otomatis itu bukan sawah lagi akan tetapi Baitullah, yang selama ini tidak dianggap apa apa oleh semua orang ketika itu dibangun Baitullah dinidhomkan biljalallah maka bisa untuk itikaf, bisa untuk Salat tahiyatul Masjid, maka dalam rangka proses Santri disandarkan dengan robbi jalallah dengan ismulallah yang memang agung, agar supaya derajat Santri nanti ikut terangkat bahkan tidak mengangkat dirinya sendiri, mengangkat derajat kedua orangtuanya,” tambah Kiai Zainuri.

Sementara itu, pada Senin (7/6) lalu Pondok Pesantren HQ juga menggelar acara Wisuda Hafidh ke VII, tidak kurang dari 170 santri mengikuti kegiatan tersebut, tampak hadir para wali santri dan beberapa Kiai dari luar daerah Jombang, disampaikan oleh Kiai Ainul Yaqin bahwa Wisuda ditengah pandemi juga mematuhi protokol kesehatan, karena itu wali santri yang hadir terbatas. (muh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.