Djagat Besi Berbagi, Cucu Pendiri NU Kuatkan Pondasi

oleh -61 views
Abah Su'udi bersama Muspika saat berbagi dengan Abang Bicak.

JOMBANG, KN – H. Su’udi Atmo atau yang akrab disapa Abah Su’udi pada Sabtu Sore 8 Mei 2021 lalu berbagi dengan tukang becak. Tidak kurang dari 350 Abang Bicak berkumpul di halaman rumah hingga ruas jalan depan Rumahnya, di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang, masing masing mendapat amplop dari Abah Su’ud tentu isinya uang. Pungusaha yang memberi nama usahanya dengan nama “Djagat Besi” ini setiap tahun selalu berbagi dengan tukang becak.

Sambil mengabsen satu persatu Abang Bicak, Abah Suudi sempat melontarkan guyonan, “Walaupun rambutnya sudah putih tetap dipanggil Abang Bicak sebab mBicak, dulu Tukang Bicak tapi sekarang dipanggil Abang Bicak, biar kelihatan muda terus. Seperti Alhmarhum Cak Asmuni tidak mau dikatakan tua waktu masih hidupnya, sebab kalau tua dimakan Codot (Burung pemakan buah yang sudah matang atau tua dipohonnya) ,” kata Abah Su’udi disambut tawa Abang Bicak.

Mantan Pengurus NU dan Ansor Kabupaten Jombang ini memang dikenal familier dan dekat dengan masyarakat sekitarnya, tidak jarang menggelar acara yang sifanya menghibur masyarakat, pada acara berbagi kemarin Abah Suudi sempat mengumumkan, siapa saja ketika bertemu dirinya walaupun di jalan manapun asal menyapa dan menggunakan kaus Djagat Besi akan diberi uang sebesar Rp. 10000,

“Pokoknya ketemu dimana saja, dan memakai kaos Djagat Besi menyapa saya akan saya beri bonus Rp 10.000, setiap ketemu dan menyapa saya, dan semoga saya membawa uang, kalau tidak sangu kan lambaikan tangan saja,” katanya disambut ger geran Abang Bicak lagi.

Dikatakan, setiap menjelang hari raya Idul Fitri dirinya selalu menyapa Abang Becak, “Biasa mau lebaran kan begini ya, jadi kalau mau lebaran saya bersama panjenengan semua untuk berbagi, barangkali rizqi Panjenengan ada yang dititipkan pada saya, saya kembalikan kepada panjenengan, karena prinsip saya orang itu harus punya perasaan kalau sudah lebih, mencari siapa yang kurang, nah di sore ini saya bersama panjenengan hadir disini seperti tahun tahun lalu,” katanya.

Sempat dijelaskan mengenai nama Djagat Besi, ternyata nama tersebut terinspirasi dari lambang NU, “Lihat ini lambang NU ada bola dunianya, atau bumi, waktu itu ada dua pilihan bumi atau djagat untuk nama perusahaan saya, saya pilih Djagat, semoga saya memiliki besi se-Djagat, kalau saya punya besi se-Djagat panjenengan semua saya kasih,” jelasnya, lagi lagi Abang Bicak tak kuat menahan tawa.

Hadir pada acara tersebut, Kapolsek Mojoagung, Camat Mojoagung dan perwakilan dari Koramil Mojoagung, tampak duduk pada kursi yang telah disediakan. Sementara itu, beberapa personil kepolisian dan anggota Koramil dibantu anggota Banser mengatur jalannya arus lalu-lintas yang sempat macet sebentar.

Meski sempat diguyur hujan lebat acara berjalan lancar hingga paripurna sekitar pukul 16.30. Lalu dilanjutkan Tahlil bersama dipimpin KH. Fahmi Amrullah Hadzik akrab disapa Gus Fahmi, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang juga Cucu KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Usai berbuka dan salat Jamaah Maghrib bersama Gus Fahmi, lalu dilanjutkan dengan obrolan santai bersama anggota F JIK NU (Forum Silaturrahmi Jombang Ibu Kota NU), yang kebetulan juga di undang pada acara tersebut. Dituturkan Cucu pendiri NU bahwa F JIK NU ibaratnya orang membangun rumah, pondasinya harus kuat dan kokoh.

“F JIK NU itu kita ibaratkan membangun rumah, kita harus siapkan pondasinya terlebih dahulu, pondasinya harus kuat dan kokoh, semua elmen NU kita rangkul. Karena kita menyuarakan kemurnian NU mbah Hasyim Asy’ari,” tuturnya.

Gus Fahmi juga siap mendorong F JIK NU untuk terus menyuarakan kemurnian NU mBah Hasyim Asy’ari, “Dalam menyuarakan kemurnian NU bisa kita gelar kagiatan seperti Hataman Al Qur’an, Istighotsah, Diba’an dan lain sebagainya. Nah, dalam kegiatan tersebut kita bahas mengenai kemurnian NU. Apa sesungguhnya yang diinginkan para masyayikh pendiri NU, ini salah satu cara penguatan pondasi F JIK NU dan sekaligus kita merawat kemurnian NU,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan, bahwa dirinya sering ditanya bagaimana sikap terkait kepemimpinan PBNU atau NU struktural sekarang ini, dan bagaimana tanggapannya mengenai buku kesimpulan Tebuireng yang diterbitkan KKNU 1926.
“Saya jawab, sikap saya sama seperti sikap Almaghfurllah KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), sama dengan apa yang disampaikan Gus Sholah seperti dalam Buku Kesimpulam Tebuireng, karena buku tersebut adalah hasil rapat dengan Gus Sholah bersama para dzurriyah pendiri NU, dan saya dari dulu ikut Gus Sholah,” kata Gus Fahmi.

Pada akhir obrolan tersebut Gus Fahmi berharap F JIK NU tetap berupaya bergerak menjaga kemurnian NU, “Kita ini kan NU kultural, kita harus terus bergerak mengaja kemurnian NU, saya berharap F JIK NU menjadi perlopor gerakan mengembalikan kemurnian NU,” harap Cucu KH. Hasyim Asy’ari. (Tajuddin)

Mas Huda mantan Pengurus Ansor salah satu Penggagas F JIK NU bersama Gus Fahmi Cucu Pendiri NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.