Mengingat Para Kyai Guru Al Qur’an Di Kota Santri

oleh -87 views
Mengingat Para Kyai Guru Al Quran di Kota Santri

JOMBANG KN – mBah Yusuf atau yang akrab di sapa Gus Yusuf, asal Ngayam, Mojowarno Jombang, kepada Kabar Nahdliyin Online saat silaturrahmi di dalemnya beberapa waktu lalu menceritakan bagaimana perkembangan para guru Al Qur’an di Kota Santri tempo dulu. Apa yang ia sampaikan ini juga berdasarkan cerita dari orangtuanya yakni mBah Danun.

Menurutnya, Ditanah Jawa kala itu keilmuan Al Quran yang dimiliki Kyai Dahlan Rejoso (PP Darul Ulum) tidak ada duanya, setelah Kyai Dahlan Rejoso muncul Kyai Munawir, Dusun Pedes, Desa Sukorejo Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang yang juga murid Kyai Hasyim Asy’ari.

“Kyai Dahlan, adalah Kyai al Qur’an yang tidak ada duanya waktu itu, beliau asli Rejoso juga salah satu perintis Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang, Konon di tanah Jawa waktu itu ilmu Al Qur’an Kyai Dahlan tidak ada duanya, ya Kyai Dahlan lah satu satunya Kyai yang paling menjadi rujukan dalam hal ilmu Al Qur’an waktu itu,” kata Gus Yusuf.

Tidak cuman itu, lanjut Gus Yusuf, Kyai Dahlan juga disegani salah satu Ulama asal Makkah seperti Syayyid Muhammad, diceritakan, pernah pada suatu waktu ada orang mengundang Syayyid Muhammad, Ulama Arab asal Makkah, setalah acara selesai ternyata Syayyid Muhammad tidak langsung pulang ke Makkah, tetapi mondok dulu selama tiga bulan, di PP Darul Ulum Rejoso, karena kagum dengan Kyai Dahlan.“Kehebatan Kyai Dahlan sampai seperti itu, tidak hanya ulama di Indonesia saja yang segan tetapi salah satu Ulama Arab Makkah juga ta’dziman wa takriman kepada Kyai Dahlan,” kata mBah Yusuf.

Nah, setelah Kyai Dahlan wafat, selang beberapa tahun muncul Ulama ahli Al Qur’an di Dusun, Pedes Desa Sukorejo Kecamatan Perak Jombang, yakni Kyai Munawir asal Jawa Tengah, “Jika diurut keatas nasabnya masih keturunan keraton, Kyai Munawir sangat dekat dengan abah saya, saya masih ingat setiap lebaran beliau kesini dengan kendaraan dokar,” katanya lagi.

Dikatakan, Kyai Munawir terkenal pada masa itu karena sering mengeluarkan bacaan aneh, seperti Qiroati Sab’ah sehingga namanya terkenal di Jombang, “Kyai Dahlan ahli Qiroati Sab’ah tetapi jarang diperlihatkan, cuman kalau ada orang yang mau ngaji Qiroati Sab’ah, oleh Kyai Dahlan juga diajari. Ini yang diceritakan Abah saya, Kyai Munawir, Pedes juga begitu, beliau juga ahli Qiroati Sab’ah, makanya kala itu santrinya juga banyak, cuman sepeninggal para Kyai ahli Al Quran ini masih belum muncul para Ahli Quran sekelas belaiu beliau di Jombang,” kata mBah Yusuf lagi.

Sementara itu, KH. Haris Munawir yang akrab dipanggil Gus Haris, sekalu penerus perjuangan Kyai Munawir kepada Kabar Nahdliyin menjelaskan, salah satu murid Abahnya adalah Kyai Imam Syafi’i, “di Blitar beliau lebih dikenal dengan panggilan Kyai Syukron Makmun tetapi belaiu baru wafat (almarhum), pada tahun 1954 belaiu belajar Al Quran di sini bahkan termasuk perintis Madrasah disini,” kata Gus Haris.

Gus Haris juga banyak mendapat cerita dari Kyai Syukron Makmun yang juga murid abahnya sebelum beliau wafat, begitu juga hubungan Kyai Munawir dengan mBah Kyai Arwani, Kudus, Jawa Tengah yang terkenal ahli Qur’an sangat dekat, karena mBah Kyai Arwani adalah teman Kyai Munawir ketika sama-sama mondok di Krapyah,

Dikatakan lagi, hingga saat ini Santri Kyai Munawir terus melanjutkan perjuangan menjadi guru Al Qur’an, “Salah satunya ada di Lampung, setiap melakukan ziarah ke Jawa Timur pasti mampir kesini, rupanya kini tinggal anak cucu yang melanjutkan perjuangan, demikian juga yang dari Lampung, meski begitu mereka tetap memegang amanah wasiat bahwa setiap ke Jawa Timur pasti mampir ke Pedes,” kata Gus Haris.

Gus Haris sendiri bertekad meneruskan semangat perjuangan Abahnya, dalam mengembleng para santri yang ingin belajar Al Quran, “Saya masih ingat bagaimana abah mengajar Al Qur’an kepada para santrinya, tidak jarang setalah mengajar Abah menghadiri undangan undangan, waktu itu saya selalu diajak, makanya saya mohon doa restu dalam upaya membangkit kembali semangat perjuangan abah untuk mengajar Al Qur’an, kini saya mulai sowan ke beberapa penerus atau santri abah yang masih sugeng,” tekat Gus Haris. (mu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *