PBNU Dua Pengurus Bukan Pecah, Tetapi Sunnatullah

oleh -290 views
Gus Azaim, dan Sajad bersama Kyai Aziz Masyhuri ketika Halaqoh di PP Tebuireng
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi dua itu bukan pecah tetapi sunnahtullah

JOMBANG KN – Para Kyai sepuh tentu tidak akan tinggal diam NU diacak acak oleh siapapun, tidak juga Almarhum Kyai Aziz Masyhuri, Pengasuh Pondok Pesantren Al Aziziyah Denanyar Jombang kala itu sempat memprotes pelaksanaan Muktamar NU 33 di Alun alun Jombang. Bahkan mendiang sempat menceritakan selalu mengikuti Muktamar NU, tetapi yang paling aneh Muktamar NU 32 di Makasar dan Muktamar NU ke 33 di Alun – alun jombang.

Sebelum beliau wafat, beliau sempat tabarukan kebeberapa Kyai sepuh dengan menawarkan konsep penyelamatan NU. Bahkan konsep itu pula yang diusulkan Almarhum Kyai Aziz Masyhuri ketika menghadiri Halaqoh di PP Al Hikam Malang.

Kyai yang telah wafat pada Sabtu (15/04/2017) kala itu mengusulkan agar Pengurus PBNU dibuat menjadi dua pengurus, NU Dakwah Tarbiyah dan NU Politik. Sebenarnya usulan ini sudah melalui proses panjang, bahkan sudah disampaikan pada Forum Halaqoh Lintas Wilayah NU di PP Al Hikam Malang, namun hingga kini usulan mendiang belum ada respon. Kabar Nahdliyin merasa berkewajiban menyampaikan kepada publik sebagai bentuk tanggungjawab menjalankan amanah. Berikut konsep usulan kyai aziz Masyhuri kala itu. (KN)

Konsep penyelamatan NU Sederhana
“Jadikan dua Pengurus PBNU”
Perkumpulan NU Da’wah Tarbiyah
Perkumpulan NU Politik

Penegasan Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah atau Da’wah Tarbiyah agaknya harus kita lakukan sekarang juga. Jika kita tidak ingin Nahdlatul Ulama menuruti para pembajakan dan firqoh sesat yang telah berusaha terus untuk menguasai. Tidak bisa kita pungkiri bahwa para pembajak telah berhasil menguasai NU secara sistemik masuk di semua lini organisasi NU, hal ini dapat kita lihat pada dua kali penyelenggaraan Muktamar. Muktmar NU ke 32 di Makassar adanya upaya pembajak NU bisa kita rasakan. Ketika itu para Kyai masih bisa mentolelir, sepanjang tidak merusak aqidah NU. Tetapi ternyata prilaku tidak terpuji itu dilakukan kembali pada Muktamar NU ke 33 di Alun – alun Jombang.

Berbagai medai telah memberitakan bagaimana carut – marutnya penyelenggaran Muktamar NU ke 33 di Alun – alun Jombang. NU seperti menampar muka sendiri, bahkan dikesankan pemilik rumah besar itu rela rumahnya diacak- acak. Padahal para Kyai dan kita semua prihatin karena , tradisi NU telah runtuh dirumah NU itu sendiri. Saya melihat Kyai-kyai banyak yang mengelus dada dan keheranan melihat mereka yang berani memporak – porandakan kultur NU yang telah dibangun sejak lama oleh para pendiri NU.

Kita bukan tidak mau menasehati atau memperingatkan mereka yang membuat mainan NU, tetapi yang dinasehati sudah kelewatan dan melawan. Mereka tidak paham apa itu NU, NU sudah dianggap seperti LSM pada umumnya. Karena itu, saya berfikir dari pada kita menambah deretan panjang petengkaran mari kita sudahi dengan merubah NU menjadi dua.
Saya tahu bahwa sekarang ini masih ada anggapan di tengah tengah warga NU sendiri, jika NU menjadi dua maka itu artinya NU telah pecah. Sesungguhnya pemikiran seperti ini tidak salah, tetapi juga tidak bisa dibenarkan seluruhnya. Ingat, sekarang ini bangsa kita telah berubah dan berada di posisi pasca reformasi. Kita NU harus mencermati itu agar tidak ketinggalan dan kelihatan gegeran saja.

Sekarang sesuatu yang menjadi dua bukan perpecahan namanya tetapi, sunnahtullah, lihat saja sekarang sudah banyak partai dan masyarakat menerima. Di Indonesia ada dua NU juga tidak masalah. Agar jelas siapa yang ingin melestarikan dan meneruskan cita cita pendiri NU dan semua bisa mengambil bagian. Dua NU yang saya maksud ;
Pertama : PERKUMPULAN NU DA’WAH TARBIYAH (PNUDT)
Kedua : PERKUMPULAN NU POLITIK

PBNU DT, Adalah perkumpulan Pengurus Besar NU yang khusus menggurusi Da’wah Tarbiyah, Pondok Pesantren dan Lembaga Pendidikan. PBNU DT harus bersih dari pengurus salah satu partai politik dan tidak memiliki kepentingan politik apapun tetapi bukan anti politik.

PBNU P, Adalah perkumpulan Pengurus Besar NU yang mengurusi Politik ansih. Struktur PBNU P ini bisa saja dari partai politik manapun. Mereka tidak boleh mengurusi urusan PBNU DT.

Barangkali langkah sederhana ini dapat menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Sehingga tidak merusak hasil perjuangan para pendiri NU selama ini. Sekali lagi kita harus bisa membedakan NU Politik dan NU Da’wah Tarbiyah. Barangkali ini dulu bahan diskusi kita.

KH. Aziz Masyhuri
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah
Denanyar Jombang