Abah Su’udi Dukung Pengasuh HQ Ajak Mempertahankan Hasanah Pesantren Jawa

oleh -93 views
Abah Su'udi Respon Positif Ajakan Pengasuh HQ Pertahankan Hasanah Pesantren Jawa

JOMBANG KN – Ciri khas Jogo – roto (jaga – merata) ternyata menjadi istilah menarik setidaknya bagi PP HQ (Pondok Pesantren Hamalatul Quran). Dan kebetulan istilah Jogo – roto itu adalah sebuah nama Desa, yakni Desa Jogoroto, bahkan, juga menjadi nama sebuah wilayah Kecamatan di Kabupaten Jombang yaitu, Kecamatan Jogoroto. HQ tidak jarang menggunakan istilah JOGO – ROTO untuk memberi aba – aba ketika murokobah agar dalam membaca al quran dijaga dan rata.

Dikatakan oleh Pengasuh HQ, bahwa berdirinya PP HQ atas referensi kiai-kiai Jawa, “HQ adalah Pondok Pesantren Jawa yang mereferensi kiai kiai jawa pada masa dulu, karena koservasi Pesantren siapakah yang bertanggungjawab, siapakah yang punya kuwajiban untuk merawatnya, maka kita sendiri,” tuturnya pada Sarasehan menggalih Hujjah Amaliyah HQ.

Perkembagan Pesantren di Indonesia sangat dinamis, namun yang perlu di pertahankan adalah tradisi jawa yang dimiliki oleh Pesantren, karena dinamika dan romantika perkembangan budaya Indoesia sangatlah dinamis, “Dinamika dan romantika yang berlaku di Indonesia terus berkembang, karena manusia adalah mahluq romantis. manusia mahluq dinamis oleh karena itu hal hal yang dilakukan oleh kiai – kiai zaman dulu kami mengajak untuk berjuang menjaga kelestarian,” jelasnya.

Untuk itu, paparnya, apapun program dan kegiatan di PP HQ tidak boleh meninggalkan kebiasaan Pesantren Jawa, maka apapun programnya Hamalatul Quran seperti Quran Field, Wadil Quran dan PPS, “Walaupun HQ banyak program tetapi tetap dalam memaknai kitab tetap menggunakan bahasa jawa, kita punya kuwajiban mempertahankan hasanah hasanah Pesantren Jawa,” paparnya.

Khusus Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) HQ banyak keistimewaan, katanya lagi, sebelumnya wali santri mempertanyakan ijazah formal PPS, “Semula banyak wali santri bertanya PPS ijazahnya seperti apa. PPS adalah Lembaga formal kita yang datanya masuk dapodik, ijazahnya ditandatangani oleh Kemenag,” katanya lagi.

Diceritakan ikhwal berdirinya PPS, berdirinya PPS adalah ikraman wa ta’dziman kepada KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, “Gus Dur lah yang membuat Keppres PPS ketika beliau menjadi Presiden, “Pertama kami ikraman wa ta’dziman kepada Gus Dur yang membuat Keppres, sehingga Pesantren punya Lembaga legal formal. Kedua, PPS punya program istimewa, seminggu bahasa arab dan seminggu bahasa inggris, wiridannya adalah matan taqrib, hadits arbain menjadi (segojangan) kebiasaan.

Mengenai hafalan Nahwu Soruf sudah menjadi kebiasaan, tambahnya lagi, “Menghafal Nahwu sorof, qoidah I’lal diselesaikan dalam waktu seminggu, karena terbiasa (ngapalno quran jadi gelis) menghafal Al Quran jadi cepat dan anak PPS lulus kelas 3 mampu menjadi imam tarawih 30 juz, mampu membaca fathul qorib, karena konserfasi alam miskipun berbahasa ingris, ketika memaknai kitab tetap menggunakan bahasa jawa,” katanya.

H. Su’udi Atmo yang akrab di sapa Abah Su’udi menyambut baik ajakan Pengasuh HQ, menurut Abah Su’udi, tokoh NU yang juga Ketua Yayasan Nahdlatul Ulama Al Imron dan Pengasuh Pondok As – Shidiq, di Jalan Betek Guyangan Mojoagung Jombang ini, sangat merespon ajak Kiai Ainul Yaqin, bahwa Pondok Pesantren Jawa harus dilestarikan, “Saya setuju bahwa kita harus mempertahankan hasanah Pesantren Jawa, karena Pesantren Jawa memiliki banyak Hasanah budaya,” kata Abah Su’udi.

Dan yang paling penting untuk diketahui, tambahnya lagi, para Kiai zaman dulu banyak mengarang kitab menggunakan bahasa jawa, “Santri wajib belajar membaca dan menulis huruf pegon jawa, agar mampu meneliti dan mengulas kembali kitab -kitab karangan kiai Jawa zaman dulu,” tambahnya. (zar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.