Sarasehan HQ Mengalih Hujjah Amaliyah Keseharian

oleh -90 views
Dua Hari PP HQ Sarasehan, Mengalih Hujjah Amaliyah Keseharian

JOMBANG KN – Aktifitas kegiatan Pondok Pesantren Hamalatul Quran Jogoroto Jombang seperti tiada henti meski, ditengah situasi pandemi Corona sekalipun. Kegiatan tetap berlangsung seperti biasa, yang membedakan hanya pada penerapan protokol kesehatan seperti yang dianjurkan oleh pemerintah.”Yang penting kita hati hati dan melaksanakan protokol kesehatan seperti anjuran pemerintah,” kata KH. Ainul Yaqin yang akrab disapa mBah Yaqin kepada Kabar Nahdliyin pada Sabtu (3/10) lalu didalemnya.

Pada hari itu juga sedang digelar dua hari Sarasehan bersama Kiai dan Wali Santri dengan mengambil tema, Menggali Referensi Hujjah Amaliyah Pondok Pesantren dan meningkatkan sinergitas kemitraan bersama Himpunan Wali Santri Hamalatul Quran, dan para Kiai dari berbagai daerah.

Dalam sambutannya mBah Yaqin mengatakan, dirinya merasa bersyukur atas semua dorongan berbagai pihak sehingga lahirlah HQ (PP Hamalatul Quran), terutama dari para masyayikh, “Saya secara pribadi bersyukur Allah memberikan anugrah agung yang secara khusus, sehinga saya punya kemauan menerima amanat dari para kiai, menerima nasehat, sehingga lahirlah Pesantren Hamalatul Quran yang semoga menjadikan sarana belajar kaum Muslimin tentang Al Quran,” katanya.

Dijelaskan, Rasulullah menerima wahyu Al Qur’an, sampai saat ini diteliti dan dikaji tidak habis, “Kemukjizatan Al Quran secara ilmiah dan alamiah yang sampai saat kapan pun digalih diteliti tidak mengenyangkan para ulama dan para ilmuwan. Malaikat membacakan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad, dan memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengikutinya, demikian juga, fashoha adalah bagian dari kemukjizakan al quran, kemujizakan secara aqliyah, kemukjizatan secara naqliyah,” jelasnya.

Dikatakan, Hamalatul Quran sebagai Pesantren yang melestarikan budaya jawa menggunakan murotal Syeh Mahmud Kholil Al Hushary telah sampai pada kesimpulan ada beberapa katagori metode dalam membaca Al Quran, antara lain, dengan cara qaulan layyina, qoulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha dan qaulan maysura.

Dijelasakan, “Qaulan layyina, lunak atau lemes, Qaulan sadida, huruf yang berharakat tasdit diucapkan betul secara mahroj dan sifatnya, Qaulan ma’rufa, pantes ketika akumulasi susunan huruf menjadi kalimat, persambungan kalimat satu dengan kalimat berikutnya, ini pantas diucapkan, dan ketika huruf yang diucapkan tidak seperti bunyi aslinya misalkan nun, yang disukun. nun sukun tidak selamanya berbunyi nun sukun akan tetapi mengikuti siapakah yang menemuinya. Maka itu dijadikan referensi orang jawa, ketika ada orang mati diramut (diurus) sesuai yang menemuinya. Kalau sekarang karena yang menemuinya corona yang diatur Corona, ketika yang menemuinya orang jawa waras ya diatur orang jawa waras. Maka nun mati tergantung yang menemuinya,” jelasnya disambut ger geran peserta sarasehan.

“Qaulan ma’rufa, pembacaan yang baik yang pantas. Qaulan karima, membaca tidak boleh mengikuti lagu atau ucapan, tidak boleh ikut lagu dangdut atau ikut lagu india atau lagu lagu lainnya, namanya qoulan karima”.

“Kemudian qoulan baligha, huruf huruf yang mati disempurnakan kematiannya, kalau ada orang mati harus diramut secara sempurna. Dimandikan dikafani, disolati, dikubur dibancai, disempurnakan kematiannya, dalam istilah yang kami gunakan adalah qoulan baligha,” tuturnya.

Karana itu, ia berharap amaliah yang telah dilakukan di PPHQ memiliki kekuatan hukum atau legal standing, “Makanya kita berusaha apa yang diamalkan di Hamalatul Quran ini mempunyai lagal standing, bagaimana amaliah di Hamalatul Quran ini tetap dalam qoridor madhab Imam Syafi’i, akhirnya nanti lajnah pentashih al quran ini merekomendasikan bahwa amalihan Hamatul Quran ini sudah sesuai dengan fiqih yang berlaku,” harap Kiai Ainul Yaqin (nia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *