Ditengah Pandemi Covid 19, Memadrasahkan Al Qur’an Menjadi Alternatif Keberhasilan KBM

oleh -246 views
Semangat santri PPS Hamalatul Quran ditengah pandemi Covid-19

JOMBANG KN – Situasi masa pandemi Corona atau Covid 19 ternyata mampu merubah semua tatanan kehidupan dunia, hampir semua kegiatan dalam kehidupan kini mengandalkan tehnologi komunikasi, demikian juga dengan dunia pendidikan. Demi keselamatan semua kegiatan pembelajaran dilakukan dengan daring atau online dangan menggunakan handphone. Lalu sejauhmana hasil evaluasi KMB (Kegiatan Belajar Mengajar) tersebut. Memang tidak mudah, akan tetapi setelah dilakukan tidak kurang lebih delapan bulan terlihat aktifitas pendidikan mulai beradaptasi.

Lalu bagaimana mengukur input peserta didik hasil dari KBM daring, sejauh ini hasil pantuan peserta didik masih melakukan kegiatan evaluasi hasil pembelajaran melalui daring, dilapangan menunjukan KBM daring masih terus mencari metode atau format yang baik. Karena itu, peserta didik juga tidak bisa meninggalkan KMB luring (tanpa jaringan).

Terkait perkembangan dan nasib pendidikan akan datang tersebut, yang menarik adalah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an di Jogoroto Jombang. Pondok yang diasuh oleh KH. Ainul Yaqin atau yang akrab disapa mBah Yaqin bergeming sidikitpun meski ada virus corona, artinya semua mapel berjalan seperti jadwal dengan membiasakan salat jahajjud setengah juz-an.

Menurut mBah Yaqin, semua KBM adalah cara mendekatkan diri kepada Allah, “Allah itu memiliki sifat nafsiyah, yang diturunkan pada sifat sababiyah, yang bekerja pada sifat mak’ani atau maknawiyah, Allah tetap pada tempatnya melakukan pekerjaanya sesuai asmaul,” tutur mBah Yaqin.

“Arrahman maha pengasih, Arrahim maha penyayang, kita berharap Arrahman dan Arrahim, Bagaimana caranya kita mendapatkannya, caranya kita mendekatkan diri kepada Allah, bagaimana kita mendapatkan umur panjang sesuai dengan harapan kita yaitu, sampai pada finisnya menghembuskan nafas terakhir yaitu dengan kalimat la ilaha illallah, yaitu apa yang kita harapkan sehat, sehat dalam berfikir, sehat dalam mengkosumsi makanan dirumah dengan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan, itu cara terhindar penyakit,” kata mbah Yaqin.

Terkait metode pembelajaan masa pandemi Covid 19, PP Hamalatul Qura’an juga menerapkan protokol kesehatan, physical distancing (jaga jarak), lebih dari itu juga mengetatan pada kegiatan baik diluar maupun dalam demi menajaga kesehatan.

Dijelaskan, dalam belajar kebutuhan nutrisi harus terpenuhi, “Nutrisi hati yaitu ilmu, karena yang kita porsir ini adalah nutrisi hati bukan pembentukan otot kawat balung wesi kuping ngaron tidak itu, yang kita butuhkan disini adalah nutrisi hati yaitu, ilmu maka kita padatkan agenda kegiatan kita 24 jam, yang intinya adalah kita mendekatkan diri kepada Allah semata,” jelasnya.

Mata pelajaran tahajjud khataman 2 bulan, adalah nutrisi wajib, tambahnya, “Tahajjud khatam 2 bulan, dhuha hataman 2 bulan adalah mapel dasar, mapel inti, mata pelajaran dasar kita adalah murokobah 5 juz an, 5 jam mata pelajaran, dari hari Sabtu sampai hari Kamis khatam itu adalah memadrasahkan Al Quran, mata pelajaran 5 jam pelajaran juz 1 sampai juz 5 dan seterusnya, itu pelajaran dasar Hamalatul Quran dimanapun Hamalatul Quran berada,” tambahnya.

Ditengah pandemi ini Hamalatul Qur’an memberanikan diri. Pengasuh Hamalatul Quran lalu mejelaskan pentingnya belajar Al Qur’an, apalagi i visi dan misi PP HQ adalah Membantu Santri Dhu’afa’ menjadi Insan Kamil Hamilil Qur’an Lafdhon wa ma’nan wa ‘amalan, Pembinaan fashohah simultan para Hafidh dan Hafidhoh Tahfidhul Qur’an dengan konsep tata peran shohabat Nabi SAW dalam mudzakaroh.

“Karena mottonya adalah, insan kamil, hamilil Quran lafdhon wa ma’nan wa amalan, dikarenakan amalihan membaca al quran dalam sholat sebelum subuh banyak keistimewaannya, menurut kakek saya, mBah Nur Salim, yang harus dilakukan bagi siapapun yang menginginkan ilmu laduni ijazahnya pasti itu, disuruh membaca al-quran didalam solat sebelum subuh, mudahkan ya membaca Al Quran didalam solat sebelum subuh, makanya kita lakukan tahajjud hatam 1 bulan atau 2 bulan, tidak bisa ya hatam 6 bulan, tidak bisa ya hatam 1 tahun,” kata mBah Yaqin menirukan anjuran kakeknya.
Dikatakan. Waktu itu sangat banyak orang orang mengamalkan ketika anaknya mau ujian,

“Itu yang menjadikan orang orang banyak berhasil, di Kampung saya Jogoroto waktu itu banyak yang mengamalkan, ketika anaknya mau ujian, orangtuanya datang ke mBah Nur Salim sana, dan banyak orang Jogoroto kalau anaknya mau tes tentara ijazahnya ya itu, makanya di Desa Jogoroto banyak tentaranya,” katanya lagi. (mu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.