Gus Mujib Jelaskan Cara Menghadapi Penyakit di Istighotsah IKAPPDAR

oleh -939 views
Gus Mujid (pegang microphone).

JOMBANG KN – IKAPPDAR kini telah melakukan kegiatan rutin istighotsah, kegiatan alumni Pomdok Pesantren Darul Ulum  ke berbagai daerah, seperti di Gresik, Madura, Pasuruan, Probolinggo, Jombang  dan tempat tempat  lain bertujuan untuk mempererat tali sulaturrahmi antar Alumni, “Alumni PP Darul Ulum ada ribuan dan bahkan ratusan ribu berada di berbagai daerah, tidak ada salahnya IKAPPDAR merajut kembali rasa persaudaraan,” kata Mas Huda usai kegiatan Istighotsah di Kediamannya yang juga dijadikan Kontor Comosariat IKAPPDAR.

Pada Minggu (27/9) lalu kegaiatan rutin Istighotsah digelar dikantor comisariat Betek Mojoagung  Jombang, beberapa tokoh senior hadir salah satunya KH. Muhtar, KH. Mahwal, KH. Suudi Atmo, KH. Yahya, dan DR KH. Mujib Mustain Romly SH MSi juga  hadir dalam acara tersebut. Usia istighotsah yang dipimpin Kiai Muhtar, Kiai Mujid Mustain memberi mauidho hasanah, dengan gaya khasnya Kiai Mujib Mustain yang akrab disapa Gus Mujib menjelaskan banyak hal hingga disambut ger geran para jamaah.

Pengasuh PP Darul Ulum yang juga Rektor Undar ini, sempat menyinggung tentang pandemi corona, menurut Gus Mujib Jamaah istighotsah dalam menghadapi virus conona atau covi 19 biasa saja, “Yang pentingan jaga kebersihan, karena semua itu ciptaan Allah, ya kita kembalikan kepada Allah, saya tidak takut tetapi juga tidak mejadi pemberani menghadapi panyakit,  biasa biasa saja,” kata Gus Mujib.

Kiai Mujib lalu menceritakan, bahwa Laut itu tidak menengelamkan Nabi Musa, pisau itu tidak melukai Nabi Soleh, Ikan itu tidak memakan Nabi Yunus, api itu tidak membakar Nabi Ibrahim, makanya kita semua sering manakiban, sering membaca solawat agar kita akrab, “Makanya, kalau orang itu mau akrab, istighotsah akrab dengan sampean, bukan karena sampean sering membaca,  tetapi bacaan itu juga akrab dengan sampean, sampean  datang kesini duduk ikut istighotsah, duduk di karpet, karpet ini senang sampean duduki, apa yang kita duduki ini besuk menjadi saksi. Makanya hidup didunia ini yang paling enak kalau bica cocok dengan Kanjengan Nabi dan Gusti Allah cocok dengan awak dewe (diri kita),” tuturnya.

Satu contoh, lanjutnya, Abu Tholib itu pamannya kajeng Nabi, biasanya membersikan Ka’bah, nyaponi Ka’bah,  noto noto Ka’bah, suatu ketika kajengan Nabi memanggil pamannya, pamanku pajengan kesini, disuruh sama Kajeng Nabi menjauhlah dari ka’bah, berjalanlah berlawanan dari pintu Ka’bah, “Nabi mengatakan Ka’bah habis bicara dengan saya, sebab Ka’bah sayang sama paman, jangan ditanyakan ya masak Ka’bah bisa ngomong, besuk ada pasukan Abrahah yang bakal menghancurkan Ka’bah, besuk ada bururng Ababil yang mencengkram batu  dijatuhkan pada pasukan Abrahah, tapi ada, yang tidak mati ada yang lolos dari batu, La ada malaikat Hafadzah makan daun dari aresy. Daun itu diambil oleh malaikat itu dimakan terus disemburkan yang tidak kena batu, kena semburan itu mati, itulah pertama kali virus yang menakutkan yang tidak kelihatan,” lanjut Gus Mujib.

Ditambahkan, “Sekarang ini kan lawannya tidak kelihatan, karuan musuh dengan orang bisa gelut, ini lawannya tdak kelihatan, musuhnya tidak kelihatan kok disiruh makai masker, penyakit kalau pingin masuk kan tidak harus memalui hidung, wong lubangnya banyak, tetapi karena pemerinah mengikhtiyar begitu yang tidak apa apa,” tambahnya.

Nabi Ibramhim itu dibakar, lanjut Gus Mujib, pada saat mau diakar itu, Nabi Ibram menampilkan wajah sedih dan tersenyum ketika ditanya, “Aku sedih hingga keluar air mata, karena sendirian berjuang menancapkan tauhid, aku tersenyum karena melihat orang orang kok tidak mengerti saya mau dibakar, padahal api ini tadi ngomong dengan saya, kata Api aku tidak akan mungkin melukai kekasih Allah, betapa Allah dermawannya,” lanjut Gus Mujib lagi.

Seperti juga kita kesini, pingin menjadi cecak atau mejadi burung emprit, kalau kamu berdoa semoga pandemi cepat selesai, sama dengan sampean memperlakukan Gusti Allah seperti kuli. Yang membuat Gusti Allah kok sampean suruh cepat selesai. Yang terpenting Bagaimana cara menghadapi situasi ini, kita berdoa ya sudah, makanya saya tidak takut begitu juga tidak berani tetapi biasa saja, orang yang imannya kuat  itu menghadapi apa saja mutmainnah tenang tidak perlu tergesah – gesah, disuruh cuci tangan ya cuci tangan,” tambahnya.

Suudi Atmo Tokoh NU asal Mojoagung Jombang yang juga ikut hadir dalam acara Istighotsah tersebut menuturkan bahwa, dirinya sangat mendukung sekali gerakan Istighotsah ini, karena bagaimanapun asal usul gerakan Istighotsah dari PP Darul Ulum, “Darul Ulum punya kekayaan yang namanya istighotsah, setahu saya istilah istighotsah menjadi popular berasal dari PP Darul Ulum pada zamannya Kiai Mustain Romly,” kata Abah Suudi.

Dikatakan, kala itu setiap ada keruwetan warga NU selalu menyelenggarakan istighotsah, “Setiap ada keruwetan warga NU selalu menggelar Istighotsah, alhamdullilah kini kegiatan itu dihidupkan kembali  oleh IKAPPDAR, saya berharap IKAPPDAR dengan tekun melaksanakan kegiatan itu, karena situasi sekarang sangat berbeda, kini  zamannya tehnologi, saran saya manfaatkan kecangihan tehnologi itu untuk kegiatan rutinan istughotsah,” katanya. (mu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.